Friday, April 23, 2010

RUMUS HITUNGAN POTENSI PEMBACA


Rumus hitungan ini merupakan rumus hitungan dasar yang sudah umum digunakan media cetak manapun. Dulu, rumus ini merupakan standar yang dipakai oleh Survei Research Indonesia atau biasanya disingkat dengan SRI untuk menghitung jumlah pembaca suatu media.
Apa fungsinya SRI mengeluarkan rumus? Banyak fungsi, diantaranya untuk mengetahui media cetak mana yang memiliki jumlah pembaca paling banyak. Juga sebagai panduan bagi para biro iklan atau perusahaan untuk menempatkan dana belanja iklan di media yang mana. Tentunya para biro iklan atau perusahaan lebih senang menempatkan dana belanja iklan di media yang jumlah pembacanya banyak. Semakin banyak pembacanya, para pemasang iklan berharap iklan yang mereka taruh tidak sia-sia. Artinya, para pembaca mulai melirik dan membeli produk atau jasa yang ditawarkan.

Media warta gereja umumnya nirlaba karena dibiayai dari dana persembahan jemaat. Jadi, memang tidak perlu mencari iklan sendiri. Kecuali kalau memang tujuannya untuk memberdayakan potensi kewirausahaan jemaat dengan memberikan ruang iklan yang murah meriah.

Walau nirlaba, para pengelola sebaiknya memahami rumus standar ini. Mengapa? Ketika kita mengenal siapa pembaca media, kita akan memberikan sajian tulisan yang tepat guna. Jika tulisan itu tepat guna, tidak ada lagi cerita warta gereja yang dibuang jemaat. Tidak perlu ada pengumuman yang diteriakkan dari mimbar untuk menghimbau jemaat agar tidak membuang warta gereja di lantai atau bangku gereja. Tanpa perlu disuruh atau diteriakkan, para jemaat memiliki kesadaran sendiri untuk menyimpan warta gereja.

Andaikata setiap pengelola warta jemaat memahami hal ini, tentu pengerjaan warta akan direncanakan dengan baik. Bukan jurus SKS, sistem kebut semalam yang biasanya berakibat copy-paste dari internet. Copy-paste dari internet sendiri pun ada aturannya. Harus menyebutkan sumber tulisan karena ini menyangkut hak cipta. Sebelum ada cerita, gereja disomasi karena mengkopi tulisan orang lain tanpa menyebutkan sumber maka lebih baik Anda cantumkan. Toh, Anda harus menghargai jerih payah penulis yang bersangkutan.

CARA MENGHITUNG POTENSI PEMBACA MEDIA CETAK
Potensi pembaca tidak sama dengan jumlah eksemplar media cetak yang diterbitkan. Jika warta Anda diperbanyak sebesar 1.000 biji maka itulah yang dinamakan oplah. Oplah warta gereja Anda sebesar 1.000 eksemplar. Potensi pembaca Anda bukan 1.000 orang.
Bagaimana cara menghitung potensi pembaca media cetak? Umumnya media cetak menggunakan rumus 4x. Artinya satu media cetak dibaca minimal 4 orang. 1 media cetak = 4 pembaca. Jika warta gereja Anda memiliki oplah 1.000 eksemplar, berarti potensi pembaca warta Anda, minimal, 4.000 orang (1.000 eksemplar x 4 pembaca).

Demikian pula halnya dengan penerbitan Tabloid Gloria. Tabloid Gloria yang memiliki oplah 12.000 eksemplar, memiliki potensi pembaca lebih dari 12.000 orang. Sesuai rumus tersebut, cara menghitungnya:
12.000 eksemplar x 4 pembaca = 48.000 pembaca.

Itu jika dihitung satu Tabloid Gloria minimal dibaca 4 orang. Faktanya, seperti di Hongkong, satu eksemplar Tabloid Gloria bisa dibaca 5-10 orang oleh warga negara Indonesia yang ada di sana. Katakanlah jumlah Tabloid Gloria yang ada di Hongkong ada 2.000 eksemplar. Jika satu Tabloid Gloria dibaca 8 warga negara Indonesia yang ada di Hongkong maka hitungan potensi pembacanya ialah:
2.000 eksemplar x 8 pembaca = 16.000 pembaca

Kalau kita mau menjumlahkan semuanya maka dihitung seperti berikut:
Tabloid Gloria beredar di Indonesia: 10.000 eksemplar x 4 pembaca = 40.000 pembaca
Tabloid Gloria beredar di Hongkong: 2.000 eksemplar x 8 pembaca = 16.000 pembaca.
Total potensi pembaca Tabloid Gloria ialah 56.000 pembaca

Anda mungkin bertanya-tanya, darimana angka 4 orang tadi. 4 orang tadi merupakan jumlah minimal satu keluarga. Satu eksemplar warta gereja bisa dibaca oleh bapak, ibu, 2 anak. Totalnya empat pembaca. Sekali lagi, itu merupakan angka minimal. Itu pun jika dihitung dengan angka 4x. Sebelumnya, saya pernah menuliskan bahwa ada kemungkinan warta gereja dibawa ke tempat kerja dan dibaca rekan-rekan kerjanya. Berarti potensi pembaca lebih dari 4 orang kan.

Kini, Anda bisa menghitung sendiri berapa potensi pembaca warta gereja Anda. Tanpa disadari, potensi pembaca warta gereja justru lebih banyak jumlahnya ketimbang jumlah eksemplar warta gereja. Dari situ, Anda harus mawas diri dan melakukan evaluasi rubrik-rubrik yang ada di warta gereja.

Contoh, jumlah jemaat gereja 200 orang. Biasanya hanya mencetak 200 eksemplar warta sehingga Anda hanya tahu bahwa jumlah pembaca Anda 200 orang. Kini, gunakan rumus SRI, Anda akan menemukan potensi pembaca lebih dari 200 orang. 200 eksemplar x 4 orang = 800 pembaca. Itu merupakan angka minimal. Kalau Anda sudah mengetahui fakta ini, apakah Anda tega mengelola warta gereja dengan asal-asalan? Kita tidak pernah menyadari bahwa ada banyak orang yang merasa imannya dikuatkan, diberkati melalui tulisan-tulisan. Bukankah sangat membahagiakan jika ternyata itu merupakan tulisan dari jemaat sendiri?

Mengetahui berapa banyak jumlah potensi pembaca warta gereja juga karakteristik pembaca, akan sangat membantu Anda dalam melakukan pengelolaan media gereja. Berapa persen jumlah pembaca pria dan wanita? Bagaimana kategori usia mereka? Apa saja pekerjaan mereka? Berapa persen yang lulus SD, SLTP, SLTA, D1, D3, D3, S1, S2 atau putus sekolah?
Wah, apakah tidak terlalu berlebihan jika pengelola warta gereja mengadakan survei tersebut? Tidak. Kecuali jika memang gereja Anda tidak mau mengenal dekat siapa pembaca warta yang notabene adalah jemaat. Saya katakan tadi, dengan mengenal siapa pembaca akan membantu Anda membuat tulisan-tulisan.

Contoh, pekerjaan jemaat. Jika 75% jemaat adalah pengusaha, pemilihan tulisan tentu berbeda jika 75% jemaat adalah karyawan swasta maupun negeri. Bayangkan kalau tulisan-tulisan di dalam warta ditujukan untuk memberkati para karyawan, tentu para pengusaha akan melewatkan tulisan tadi. Mereka berpikir bahwa dirinya bukan karyawan. Karyawan memiliki persoalan. Pengusaha juga memiliki persoalan tersendiri yang sangat berbeda dengan persoalan karyawan. Karyawan memikirkan bagaimana caranya supaya bisa naik gaji. Atau bagaimana cara mengelola gaji supaya bisa membeli rumah. Pengusaha tidak akan memikirkan itu. Pengusaha akan memikirkan bagaimana meningkatkan penjualan di era ekonomi resesi dunia seperti sekarang. Atau bagaimana melakukan pengawasan sehingga karyawan tidak mencuri uang perusahaan. Beda kan? Sangat penting mengenal siapa pembaca warta atau jemaat Anda!

(bersambung)

Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 461, Tahun 2009
Sumber Gambar: image bank



Wednesday, April 21, 2010

MENGHITUNG POTENSI WARTA GEREJA (2): POTENSI PEMBACA YANG DISIA-SIAKAN


Oleh Ellen Pantouw

Tanyakan kepada Dahlan Iskan, pemilik grup Jawa Pos atau Jakob Oetama, pemilik grup Kompas, berapa besar potensi pembaca bagi pertumbuhan media mereka. Saya yakin mereka akan setuju dengan saya. Potensi pembaca yang optimal akan membawa pertumbuhan dan perkembangan bagi usaha media mereka. Tanpa pembaca, untuk apa media dicetak. Sama saja dengan membuang garam di laut.

Setiap media, apapun medianya, selalu memiliki pembaca, pendengar dan pemirsa. Sebuah media hadir di dunia untuk dibaca, didengarkan atau ditonton. Media yang tidak ada pembaca, pendengar dan pemirsa, dapat dipastikan hanya memiliki umur jagung. Relatif pendek dan sangat pendek hidupnya.

Media komunitas pun memiliki pembaca, pendengar dan pemirsa. Perkembangan media saat ini yang ditunjang kemudahan teknologi, justru menumbuhkan media komunitas. Koran cetak terancam hidupnya. Koran cetak terancam ditinggalkan pembaca. Sekarang, mungkin masyarakat Indonesia belum terkena dampaknya. Tanyakan kepada para pengelola surat kabar di negara Paman Sam. Media komunitas di negara Paman Sam justru tumbuh subur.

Perusahaan koran cetak justru banyak yang gulung tikar tergilas kemajuan teknologi internet.
Ada 9 perusahaan surat kabar yang semula dicetak mengalami kebangkrutan sehingga harus bertahan atau menghentikan edisi cetak. Data perusahaan yang ikut dalam daftar kehancuran menurut Suara Media digital (13/3) yaitu:
1. The Minneapolis Star Tribune
2. The Miami Herald
3. The Detroit News
4. The Boston Globe
5. The San Fransisco Chronicle
6. The Chicago Sun-Times
7. The New York Daily News
8. The Fort Worth Star-Telegram
9. The Cleveland Plain Dealer

Kompas digital melansir pada 24/2 lalu, koran The Philadelphia Inquirer dan Philadephia Daily News mengajukan permohonan bangkrut pada Minggu, 22/2. Sebelumnya, koran Tribune Co yang berbasis di Chicago telah mengajukan kebangkrutan pada Desember 2008. The Star Tribune di Minneapolis mengajukan kebangkrutan bulan berikutnya. Daftar itu masih berderet ketika kita melihat berita-berita terbaru di internet. Seperti koran The Rocky Mountain News, koran besar di Colorado yang didirikan 149 tahun lalu terancam tutup. Juga disebutkan, Seattle Post-Intelligencer dan Christian Science Monitor yang akan berpindah ke jalur internet. Koran-koran besar dengan oplah 300.000 eksemplar ke atas setiap harinya justru terancam bergelimpangan.

Lalu apa yang akan tetap ada dan bertahan? Jawabannya, media komunitas. Lambertus L. Hurek, redaktur koran Radar Surabaya yang menjadi pembicara dalam seminar “Maksimalkan! Potensi Warta Gereja” memaparkan hasil diskusinya dengan para redaktur di grup Jawa Pos yang dikirim ke Amerika untuk menimba ilmu. Menurut mereka, koran-koran umum justru mati dan sedang menuju ke arah sana. Koran yang bertahan justru komunitas. Media komunitas dengan jumlah oplah yang tidak sampai ratusan ribu eksemplar. Saat iklan di media umum menurun, media komunitas sebaliknya, panen iklan. Iklan merupakan sumber penghidupan untuk membiayai operasional perusahaan. Berita-berita yang disajikan di media komunitas pun terkesan ringan dan sehari-hari. Intinya, media itu mewadahi interaksi antar anggota komunitasnya.

Warta gereja atau warta jemaat termasuk dalam kategori media komunitas. Hampir setiap gereja memiliki media komunitas. Media komunitas boleh dikatakan sebagai media yang tetap selamat dari derasnya perkembangan media digital. Mengapa bisa selamat? Media komunitas memiliki potensi pembaca yang loyal. Loyalitas pembaca menguntungkan pengelola media.
Warta gereja memiliki potensi pembaca yang sangat loyal. Bayangkan, setiap minggu jumlah pembaca tetap sama. Misalnya, gereja yang memiliki 1.000 jemaat. Jumlah penerima warta gereja pasti akan berkisar di seputar angka tersebut. 1.000 warta gereja dibagikan kepada 1.000 jemaat. 1.000 jemaat itu dengan sukarela mau menerima setiap minggunya. 1.000 jemaat mau membaca setiap minggunya. Walau tidak semua tulisan dibaca, pasti ada bagian-bagian tertentu yang mereka baca. Intinya, berapapun jumlah tulisan yang dibaca, jemaat tetap membaca warta.

Mencari 100, 200, 500, 1.000 pembaca tidak mudah. Tanyakan saja kepada pengelola media umum. Beberapa pengelola media bahkan membuat departemen khusus untuk melayani pelanggan. Bagi mereka, satu pembaca sangat berharga untuk kelangsungan hidup medianya. Mereka tidak mau menyiakan satu orang pembaca. Mereka berusaha dengan sekuat tenaga agar tidak ada satu pun pembaca yang terlepas dari tangan mereka. Survei kepuasan pembaca dilakukan setiap tahun. Beberapa media sempat mengadakan Focus Group Discussion untuk menjaring saran dan kritikan dari tangan pertama alias pembaca. Perusahaan media tersebut melaksanakan seleksi ketat untuk perekrutan karyawannya. Harapannya tentu saja, mereka bisa mendapatkan sumber daya manusia yang terbaik supaya grafik jumlah pembaca bergerak naik. Pelbagai program pelatihan diberikan kepada para karyawan untuk mempertajam keahlian dan keterampilan dalam bekerja. Evaluasi terhadap karyawan pun dilaksanakan setiap tahunnya.

Anda bisa lihat, banyak perjuangan yang dilakukan demi mempertahankan satu orang pembaca. Bagaimana dengan warta gereja? “Ah, ini kan hanya warta gereja.” Saya sering mendengar jawaban tadi. Sebenarnya, warta gereja memiliki potensi pembaca yang diimpikan media umum. Sayangnya, beberapa gereja sering mengecilkan potensi yang dimilikinya dengan mengeluarkan kata-kata tadi. Alhasil, pengelolaan warta terkesan tambal sulam. Artikel-artikel yang ada di warta sangat mengesankan kondisi tambal sulam. Demikian pula dengan pengelolanya, tambal sulam, asal comot, tidak diberikan pelatihan yang memadai. Darimana semua ini berasal? Dari untaian kalimat, “Ah, ini kan hanya warta gereja.”

MENGENAL POTENSI PEMBACA WARTA GEREJA
Ungkapan terkenal ‘tak kenal maka tak sayang’ sudah akrab terdengar di telinga kita. Meminjam ungkapan tadi, saya menerjemahkannya menjadi: tak kenal potensi pembaca warta gereja maka Anda tidak menyayangi pembaca warta. Jika Anda mengenal pembaca warta maka Anda bisa menyajikan hal-hal terbaik bagi mereka. Jika tak kenal maka tak sayang, tak heran, artikel-artikel seadanya menjadi bahan penyajian supaya halaman warta tidak kosong. Selama kita belum menyadari mencari pembaca itu susah maka potensi pembaca yang ada sering disia-siakan. Ketika sudah sadar, sayangnya seringkali sudah terlambat.

Bagaimana potensi pembaca warta gereja? Pembaca warta gereja tak lain adalah jemaat gereja yang aktif beribadah di hari Minggu. Sebenarnya pembaca warta tidak hanya jemaat saja. Bisa jadi tetangga, teman, saudara bahkan rekan kerja. Dulu, saat saya pernah bekerja di sebuah perusahaan, teman kerja saya selalu membawa warta gerejanya setiap hari Senin. Kadangkala dia membawa edisi-edisi lama. Saat rehat tiba, warta menjadi bahan bacaan teman-teman kantor secara bergantian. Kalau tidak sempat, kami terbiasa meminjamnya beberapa hari untuk dibaca di rumah. Tentu saja seizin pemiliknya.

Apa yang menjadikan warta itu menarik? Tentu saja artikel-artikel yang dimuat di warta. Bukan pengumuman. Pengumuman tetap dibaca tetapi tidak menjadikan sebagai daya ikat untuk dibaca bergantian. Apalagi pengumuman tersebut—seperti lazimnya warta gereja—ditujukan bagi jemaat saja. Jadi, mereka yang tidak satu gereja dengan teman saya, tidak merasa berkepentingan dengan pengumumannya. Artikel itu membuat teman-teman kantor dari berbagai denominasi gereja jatuh hati dan senang membaca meskipun itu warta gereja lain.
Anda bisa lihat bahwa pembaca warta gereja belum tentu hanya jemaat sendiri. Setiap jemaat memiliki keluarga, sanak saudara, relasi, teman. Belum lagi jika ia menaruhnya di toko sehingga pembeli bisa membaca dan mengambil gratis. Semakin luas saja kan pembaca warta Anda.
Saya pernah mendengar juga ada beberapa gereja yang mengirimkan warta jemaatnya ke luar negeri. Mereka yang menerima warta di luar negeri biasanya dulu merupakan jemaat gereja setempat. Setelah mereka pindah ke luar negeri, mereka meminta gereja untuk mengirimkan warta jemaat secara rutin. Padahal belum tentu di sana, ada perwakilan gereja seperti di Indonesia.

Perilaku jemaat seperti itu merupakan hal yang luar biasa. Ada keterikatan batin antara jemaat dengan gereja tempat ia digembalakan. Warta jemaat merupakan satu-satunya media yang dapat terus mempererat ikatan tersebut. Saya menggunakan istilah sense of belonging. Jemaat yang tinggal di luar negeri tadi sudah memiliki sense of belonging yang tinggi. Itulah pentingnya menciptakan sense of belonging. Kalau pengurus atau pengelola warta ogah-ogahan dalam membuat warta, bagaimana mungkin meminta jemaat untuk memiliki sense of belonging?
Warta gereja memang hanya media kecil tetapi memiliki potensi pembaca yang tidak boleh diremehkan. Terutama bila menyangkut soal loyalitas pembacanya. Permasalahannya ialah apakah Anda menyadarinya atau tidak? Jika Anda tidak menyadarinya, tak ayal Anda sudah menyia-nyiakan potensi pembaca yang luar biasa.

RUMUS HITUNGAN POTENSI PEMBACA
Rumus hitungan ini merupakan rumus hitungan dasar dan sudah umum digunakan media cetak manapun. Potensi pembaca tidak sama dengan jumlah eksemplar media cetak yang diterbitkan. Jika warta Anda diperbanyak sebesar 1.000 biji maka itulah yang dinamakan oplah. Oplah warta gereja Anda sebesar 1.000 eksemplar. Potensi pembaca Anda bukan 1.000 orang.

Bagaimana cara menghitung potensi pembaca media cetak? Umumnya media cetak menggunakan rumus 4x. Artinya satu media cetak dibaca minimal 4 orang. 1 media cetak = 4 pembaca. Jika warta gereja Anda memiliki oplah 1.000 eksemplar, berarti potensi pembaca warta Anda, minimal, 4.000 orang (1.000 eksemplar x 4 pembaca).
Demikian pula halnya dengan penerbitan Tabloid Gloria. Tabloid Gloria yang memiliki oplah 12.000 eksemplar, memiliki potensi pembaca: 12.000 eksemplar x 4 pembaca = 48.000 pembaca. Itu jika dihitung satu Tabloid Gloria dibaca 4 orang. Faktanya, seperti di Hongkong, satu eksemplar Tabloid Gloria bisa dibaca 5-10 orang oleh warga negara Indonesia yang ada di sana.

Anda mungkin bertanya-tanya, darimana angka 4 orang tadi. 4 orang tadi merupakan jumlah minimal satu keluarga. Satu eksemplar warta gereja bisa dibaca oleh bapak, ibu, 2 anak. Totalnya empat pembaca. Sekali lagi, itu merupakan angka minimal. Kini, Anda bisa menghitung sendiri berapa potensi pembaca warta gereja Anda. Tanpa disadari, potensi pembaca warta gereja justru lebih banyak jumlahnya ketimbang jumlah eksemplar warta gereja tersebut.

(bersambung)

sumber gambar: imagebank
dimuat di Tabloid Gloria Edisi 460 Tahun 2009