Monday, November 17, 2008

Pernak - Pernik Blog

Hari ini saya baru sempat utak-atik blog agar terlihat lebih cantik. Diantaranya bisa dilihat di kolom kanan. Saya menggunakan layanan gratisan yang tersedia di dunia maya. Salah satunya OGGIX dot com yang menyediakan pernak-pernik blog cukup banyak. Blog ONE.book.LIFE ini banyak menggunakan layanannya, diantaranya pernik 'shoutbox', tempat Anda untuk berkomentar.

Kalau blog Anda belum tersedia pernak-pernik blog, kunjungi saja oggix dot com. Anda harus registrasi dulu dan akan ada konfirmasi melalui email. Tunggu sampai email konfirmasi muncul lalu login ke oggix. Pengalaman saya, jika konfirmasi melalui email belum ada, kita tidak bisa login. Mungkin saya terburu-buru kalee ya...

Hal menarik untuk layanan shoutbox oggix, kita bisa mengganti setting warna dasar, warna tulisan sampai warna link. Jadi, kita bisa menyesuaikan dengan warna blog kita. Selain itu juga ada layanan anti spam. Ini untuk menghindari kiriman spam dari blogger yang menggunakan 'mesin massal'. Jadi, blogger yang ingin berkomentar harus memberikan konfirmasi kode yang tercantum di situ. Asyik kan? Percantik yuk blog Anda...

Thursday, November 13, 2008

Bumi Tanpa Buku Primbon, Apa Jadinya?

"Hmmm..." Apakah itu yang terucap di dalam hati atau pikiran Anda? Oh ya, Anda yang belum tahu buku primbon, berikut definisi dari Wikipedia online. Primbon adalah baik buruknya menurut perhitungan Jawa. Pernah dengar iklan di televisi seperti: "Ini Selasa kliwon, tidak cocok buat kamu untuk berhutang" atau "Kamu tidak cocok jadi karyawan, cocoknya jadi pengusaha".

Iklan itu memang mengocok perut saya. Bukan karena primbonnya tapi tampilannya yang kaku mengundang tawa. Beberapa teman menjadikannya sebagai lelucon. Pada messenger di gmail (google mail), teman sayan menuliskan begini: "Ini Senin pahing, tidak cocok bagi kamu untuk bekerja". Tentu saja teman saya bercanda, bukankah hari Senin termasuk dalam hari kerja?

Buku primbon dapat dikatakan sebagai buku pedoman hidup dalam budaya Jawa. Segala sesuatu diukur dari primbon, jika tidak melaksanakan bisa sial atau terkena musibah. Hampir semua suku bangsa di bumi memiliki buku pedoman hidup menurut budayanya. Mereka sangat mempercayainya agar dapat hidup tenang dan sejahtera.

Mengapa ada buku pedoman hidup? Hanya ada satu jawaban. Manusia tahu ada kekuatan lain di luar dirinya yang tarik menarik antara jahat dan baik. Kala kekuatan jahat menang maka musibah datang, seperti kegagalan, sakit penyakit dan sebagainya. Kala kekuatan baik memenangkan pertempuran maka ada kesejahteraan, kemakmuran, kesehatan dan sebagainya. Manusia memahami bahwa mereka lebih menyukai keadaan saat kekuatan baik memenangkan pertempuran bisa hidup damai. Buku pedoman kehidupan hadir sebagai petunjuk agar manusia bisa hidup damai dan sejahtera.

Siapa penulis buku primbon? Tentunya orang-orang terdahulu yang sudah menelan asam garam kehidupan. Mereka mau menuliskan pengalaman hidupnya dengan harapan agar kehidupan anak cucu lebih baik.

Buku “Primbon” Orang Kristen

Kita, anak-anak Tuhan juga mengenal buku "primbon". Alkitab yang kita baca adalah buku petunjuk kehidupan. Hebatnya lagi, Alkitab merupakan satu-satunya buku petunjuk kehidupan yang berbicara mengenai penciptaan hingga berakhirnya dunia. Kalau tidak ada Alkitab, kita tidak akan mengetahui kekuatan Tuhan yang sanggup membuat jalan darat di tengah lautan saat peristiwa Israel melarikan diri dari kejaran musuhnya. Tanpa Alkitab, kita tidak akan mengetahui penyertaan Tuhan atas Yusuf, dari seorang budak menjadi penguasa Mesir. Tanpa Alkitab, kita tidak akan mengetahui bahwa kita memiliki Juruselamat bernama Yesus Kristus.

Siapa penulis Alkitab? Banyak orang. Alkitab tidak ditulis oleh satu orang. Orang-orang yang telah diinspirasi oleh Roh Kudus untuk menuliskan kejadian demi kejadian maupun nubuatan dan penglihatan untuk generasi yang hidup hari ini maupun akan datang. Apa jadinya hidup kita tanpa Alkitab? Kita akan mengulangi kesalahan-kesalahan generasi sebelumnya. Manusia akan berjalan berulang-ulang pada posisi tersebut dan peradaban ini tidak akan pernah maju.

Pencipta kita telah memikirkan koordinasi sebuah pekerjaan luar biasa yang membawa dampak lintas generasi. Alkitab yang kita baca dapat diibaratkan kumpulan artikel dari para pelaku maupun pengamat. Para pelaku adalah orang-orang yang mengalami seperti Daud yang memiliki pengalaman bersama Tuhan sehingga bisa menuliskan Mazmur Daud. Maksud dari pengamat adalah orang-orang yang tidak mengalami langsung namun mereka melihat atau mengamati kejadian-kejadian yang terjadi di masa itu. Bisa Anda bayangkan kehebatan kumpulan artikel bernama Alkitab? Sebuah artikel di Alkitab bisa membawa perubahan bagi kita. Sebuah ayat saja dapat membawa kesejukan bagi jiwa yang gelisah.

Tinggalkan Jejak Bagi Generasi Mendatang

Bayangkan bila kita yang hidup saat ini mau menuliskan satu artikel untuk generasi mendatang. Puji syukur jika kita bisa meninggalkan sebuah buku sebelum hembusan napas terakhir. Sebuah buku yang dapat memberkati generasi saat ini dan mendatang. Sulitkah? Sama sekali tidak. Mulai saja dengan langkah sederhana. 1.000 kilometer selalu dimulai dengan kilometer pertama. Anda pasti menyetujui pendapat ini kan?

Satu buah artikel jika Anda menuliskannya dengan kesungguhan hati dan berkat dari-Nya, dapat memberkati pembaca. Bahkan sebuah cerita anak dapat memberkati seorang pengusaha. Tidak percaya? Inilah pengalaman pribadi saya tatkala masih menjadi jurnalis di Tabloid Gloria sekitar tahun 2002.
Saat itu saya diberi kepercayaan bertanggungjawab di rubrik Anak Tabloid Gloria. Sekian lama mengolah rubrik, saya berada pada titik kejenuhan. Saya pun berdoa, "Tuhan, kiranya beri petunjuk jika artikel-artikel di rubrik ini memberkati para pembaca Tabloid Gloria." Jawaban Tuhan memang tidak datang saat itu juga.

Suatu ketika saya mengunjungi seorang pengusaha yang berniat untuk memasang iklan di Tabloid Gloria. Saat bercakap-cakap, ibu ini mengatakan bahwa Tabloid Gloria sangat memberkati dirinya. Ketika tokonya yang berada di lantai dasar sebuah mall ini sedang sepi pengunjung, ibu tadi menyempatkan diri membaca Tabloid Gloria. Apa yang dia katakan? Ibu ini memaparkan bahwa ketika hatinya sedang capek karena bisnis sepi, dia membaca Tabloid Gloria dan membuka rubrik anak. Sebuah kisah Alkitab yang dituliskan dengan gaya bahasa anak justru memberkati dan menguatkan imannya. Wow... saya sungguh girang. Apa artinya? Berarti artikel yang saya tuliskan tidak sia-sia. Kata-kata yang meluncur dari mulut ibu tadi seakan membawa semangat baru bagi saya untuk tetap menulis.

Sederhana bukan? Selama kita masih diberi nafas kehidupan, marilah kita berkomitmen untuk meninggalkan catatan yang dapat memberkati generasi mendatang. “Apa saja catatan itu?” “Rumitkah?” “Profesi saya bukan penulis.” Jawaban saya hanya satu, simak Tabloid Gloria mendatang. Saya akan memberikan catatan-catatan apa yang dapat Anda tinggalkan bagi generasi mendatang. Sangat sederhana dan mudah karena menulis itu mudah.

Tuesday, November 11, 2008

Mengapa Ada Komunitas ONE.book.LIFE?


Mengapa saya membentuk ONE.book.LIFE dalam sebuah komunitas? Kok bukan kursus menulis biasa? Jawabannya adalah karena kita perlu suatu komunitas yang dapat mendukung kita. Melalui komunitas, kita bisa menemukan teman-teman yang satu visi dan misi sehingga kita bisa belajar berbagi dan mengembangkan diri.

Saya bisa saja hanya mengadakan kursus menulis. Namun kalau Anda tidak menemukan komunitas untuk bertumbuh, sia-sia saja kursus menulis yang Anda ikuti. Seberapa seringnya Anda mengikuti kursus menulis, seminar menulis, seminar jurnalistik, semua itu tidak menjadikan Anda sebagai seorang penulis.

Mengapa bisa begitu? Percayalah, saya mengalaminya sendiri. Talenta menulis saya bisa bertumbuh sejak SMA karena ada komunitas. Saat SMA, saya menemukan komunitas di sebuah harian lokal di Surabaya. Saat kuliah, saya menemukan komunitas di kampus saya. Pada semester 6, saya menemukan komunitas baru yaitu di Tabloid Rohani Gloria, tatkala saya masih menjadi wartawan Tabloid Gloria. Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan karena IA sudah memberikan saya komunitas-komunitas yang bisa menumbuhkan talenta.

Apakah ada perbedaan antara ada komunitas dengan tidak ada? Tentu saja, jika tidak ada perbedaan, untuk apa saya membentuk komunitas. Begini, semenjak kuliah hingga hari ini, saya sudah sering memberikan training jurnalistik kepada gereja maupun sekolah kristen/katolik baik di pulau Jawa maupun luar Jawa. Satu hal yang saya perhatikan adalah kebanyakan di gereja tidak memiliki komunitas yang seharusnya bisa melakukan follow up dari training jurnalistik. Lain halnya dengan sekolah yang 100% memiliki komunitas berupa ekstrakurikuler maupun klub jurnalistik. Hasilnya? Ya, sebagaimana kita bisa melihat keadaan di Indonesia hari ini. Penulis-penulis kristen/katolik sudah terbilang jarang. Jikalau masih ada, kebanyakan juga termasuk generasi lama yang (maaf) secara usia sudah mencapai 55 tahun ke atas.

Saya menyadari bahwa banyak juga orang-orang yang terpanggil untuk membentuk pelayanan menulis dan jurnalistik ini. Satu tahun terakhir, saya bertemu dengan rekan-rekan pelayanan di Surabaya dan Jakarta yang ingin membuat satu bidang pelayanan jurnalistik. Saran saya saat itu adalah perlu memikirkan adanya media internal sebagai tempat untuk berlatih. Tidak perlu rumit, bisa berupa buletin yang di-print atau jika ada dana, bisa berupa majalah.

Entah sudah berapa kali saya selalu menekankan pentingnya sarana berlatih untuk mereka yang sudah mengikuti training menulis atau jurnalistik. Sayangnya, sebagian besar gereja atau lembaga pelayanan hanya menekankan para anggotanya untuk mengikuti training jurnalistik semata. Hasilnya? Entah berapa banyak para (calon) penulis yang berguguran karena tidak ada sarana latihan. Hal ini sungguh sangat disayangkan, tak heran jika Indonesia kekurangan anak-anak Tuhan yang profesional di bidang ini.

Melihat kondisi tadi, saya terpanggil untuk membagikan pengalaman menulis saya kepada Anda yang memang mau belajar menulis. Saya berharap komunitas ini bisa memunculkan penulis-penulis muda yang takut akan Tuhan. Komunitas ini terbuka untuk perseorangan maupun kelompok atau lembaga dari denominasi apapun.

Anda yang ingin bergabung di komunitas ONE.book.LIFE harus memiliki komitmen untuk menerbitkan (minimal) satu buku selama Tuhan masih memberikan nafas kehidupan.

Monday, November 10, 2008

Siapa ONE.book.LIFE?

Komunitas ini memang baru berdiri di bulan Nopember. Tepat pada hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10. Hari Pahlawan memang saat yang tepat untuk memperingati jasa-jasa para pahlawan dan pejuang kemerdekaan yang gugur di medan tempur merebut kemerdekaan yang kita nikmati saat ini.

Bukan kebetulan pula jika komunitas ONE.book.LIFE didirikan pada hari ini (tepat juga saat saya membuat blog ini :)

Apa itu ONE.book.LIFE? Ini adalah sebuah komunitas buat orang awam yang memiliki komitmen untuk (minimal) menerbitkan satu buku selama Tuhan masih memberi nafas kehidupan. Wow... berat... berat...? Hmm, tidak berat asalkan memang ada kemauan dan mau berkomitmen.

Mengapa satu buku? Begini, komunitas
ONE.book.LIFE merupakan jawaban atas kerinduan dan pergumulan saya selama ini. Oleh karena anugerah Tuhan, saya sudah mengenal dunia jurnalistik semenjak duduk di bangku SMA. Ternyata saya menemukan talenta yang Tuhan berikan di jurnalistik. Alhasil, saya menekuninya hingga lulus kuliah. Bahkan, saya sempat menerbitkan beberapa buku baik saya sebagai penulis, co-writer maupun editor.

Sepanjang
perjalanan saya bersama Tuhan dan menekuni talenta yang Tuhan beri, saya menemukan betapa pentingnya kita sebagai anak Tuhan untuk membuat jejak kehidupan dalam bentuk-bentuk yang dapat diberikan kepada generasi penerus.

Jejak kehidupan di sini memang dapat berupa buku maupun audio visual.
ONE.book.LIFE memang lebih concern untuk membantu Anda yang masih awam dalam dunia perbukuan untuk menerbitkan buku secara printing atau cetak atau e-book (buku dalam bentuk digital).

Buku yang Anda tulis nantinya boleh diterbitkan untuk umum maupun hanya untuk kalangan keluarga, saudara, rekan pelayanan yang terdekat saja. Itu terserah Anda! Tapi melalui komunitas
ONE.book.LIFE ini, saya akan membagikan pengalaman saya dalam menulis hingga saya dapat menekuninya sebagai profesi. Jadi, sharing yang akan diberikan ini bukan teori tetapi saya sudah mempraktekkannya.

Menurut saya, setiap kita yang sudah ditebus oleh darah Yesus, setiap kita yang masih boleh menarik nafas kehidupan ini, sudah selayaknya kita memberikan catatan pengalaman kita bersama Tuhan supaya kelak generasi mendatang boleh mengenal nama Yesus.