"Hmmm..." Apakah itu yang terucap di dalam hati atau pikiran Anda? Oh ya, Anda yang belum tahu buku primbon, berikut definisi dari Wikipedia online. Primbon adalah baik buruknya menurut perhitungan Jawa. Pernah dengar iklan di televisi seperti: "Ini Selasa kliwon, tidak cocok buat kamu untuk berhutang" atau "Kamu tidak cocok jadi karyawan, cocoknya jadi pengusaha".Iklan itu memang mengocok perut saya. Bukan karena primbonnya tapi tampilannya yang kaku mengundang tawa. Beberapa teman menjadikannya sebagai lelucon. Pada messenger di gmail (google mail), teman sayan menuliskan begini: "Ini Senin pahing, tidak cocok bagi kamu untuk bekerja". Tentu saja teman saya bercanda, bukankah hari Senin termasuk dalam hari kerja?
Buku primbon dapat dikatakan sebagai buku pedoman hidup dalam budaya Jawa. Segala sesuatu diukur dari primbon, jika tidak melaksanakan bisa sial atau terkena musibah. Hampir semua suku bangsa di bumi memiliki buku pedoman hidup menurut budayanya. Mereka sangat mempercayainya agar dapat hidup tenang dan sejahtera.
Mengapa ada buku pedoman hidup? Hanya ada satu jawaban. Manusia tahu ada kekuatan lain di luar dirinya yang tarik menarik antara jahat dan baik. Kala kekuatan jahat menang maka musibah datang, seperti kegagalan, sakit penyakit dan sebagainya. Kala kekuatan baik memenangkan pertempuran maka ada kesejahteraan, kemakmuran, kesehatan dan sebagainya. Manusia memahami bahwa mereka lebih menyukai keadaan saat kekuatan baik memenangkan pertempuran bisa hidup damai. Buku pedoman kehidupan hadir sebagai petunjuk agar manusia bisa hidup damai dan sejahtera.
Siapa penulis buku primbon? Tentunya orang-orang terdahulu yang sudah menelan asam garam kehidupan. Mereka mau menuliskan pengalaman hidupnya dengan harapan agar kehidupan anak cucu lebih baik.
Buku “Primbon” Orang KristenKita, anak-anak Tuhan juga mengenal buku "primbon". Alkitab yang kita baca adalah buku petunjuk kehidupan. Hebatnya lagi, Alkitab merupakan satu-satunya buku petunjuk kehidupan yang berbicara mengenai penciptaan hingga berakhirnya dunia. Kalau tidak ada Alkitab, kita tidak akan mengetahui kekuatan Tuhan yang sanggup membuat jalan darat di tengah lautan saat peristiwa Israel melarikan diri dari kejaran musuhnya. Tanpa Alkitab, kita tidak akan mengetahui penyertaan Tuhan atas Yusuf, dari seorang budak menjadi penguasa Mesir. Tanpa Alkitab, kita tidak akan mengetahui bahwa kita memiliki Juruselamat bernama Yesus Kristus.
Siapa penulis Alkitab? Banyak orang. Alkitab tidak ditulis oleh satu orang. Orang-orang yang telah diinspirasi oleh Roh Kudus untuk menuliskan kejadian demi kejadian maupun nubuatan dan penglihatan untuk generasi yang hidup hari ini maupun akan datang. Apa jadinya hidup kita tanpa Alkitab? Kita akan mengulangi kesalahan-kesalahan generasi sebelumnya. Manusia akan berjalan berulang-ulang pada posisi tersebut dan peradaban ini tidak akan pernah maju.
Pencipta kita telah memikirkan koordinasi sebuah pekerjaan luar biasa yang membawa dampak lintas generasi. Alkitab yang kita baca dapat diibaratkan kumpulan artikel dari para pelaku maupun pengamat. Para pelaku adalah orang-orang yang mengalami seperti Daud yang memiliki pengalaman bersama Tuhan sehingga bisa menuliskan Mazmur Daud. Maksud dari pengamat adalah orang-orang yang tidak mengalami langsung namun mereka melihat atau mengamati kejadian-kejadian yang terjadi di masa itu. Bisa Anda bayangkan kehebatan kumpulan artikel bernama Alkitab? Sebuah artikel di Alkitab bisa membawa perubahan bagi kita. Sebuah ayat saja dapat membawa kesejukan bagi jiwa yang gelisah.
Tinggalkan Jejak Bagi Generasi MendatangBayangkan bila kita yang hidup saat ini mau menuliskan satu artikel untuk generasi mendatang. Puji syukur jika kita bisa meninggalkan sebuah buku sebelum hembusan napas terakhir. Sebuah buku yang dapat memberkati generasi saat ini dan mendatang. Sulitkah? Sama sekali tidak. Mulai saja dengan langkah sederhana. 1.000 kilometer selalu dimulai dengan kilometer pertama. Anda pasti menyetujui pendapat ini kan?
Satu buah artikel jika Anda menuliskannya dengan kesungguhan hati dan berkat dari-Nya, dapat memberkati pembaca. Bahkan sebuah cerita anak dapat memberkati seorang pengusaha. Tidak percaya? Inilah pengalaman pribadi saya tatkala masih menjadi jurnalis di Tabloid Gloria sekitar tahun 2002.
Saat itu saya diberi kepercayaan bertanggungjawab di rubrik Anak Tabloid Gloria. Sekian lama mengolah rubrik, saya berada pada titik kejenuhan. Saya pun berdoa, "Tuhan, kiranya beri petunjuk jika artikel-artikel di rubrik ini memberkati para pembaca Tabloid Gloria." Jawaban Tuhan memang tidak datang saat itu juga.
Suatu ketika saya mengunjungi seorang pengusaha yang berniat untuk memasang iklan di Tabloid Gloria. Saat bercakap-cakap, ibu ini mengatakan bahwa Tabloid Gloria sangat memberkati dirinya. Ketika tokonya yang berada di lantai dasar sebuah mall ini sedang sepi pengunjung, ibu tadi menyempatkan diri membaca Tabloid Gloria. Apa yang dia katakan? Ibu ini memaparkan bahwa ketika hatinya sedang capek karena bisnis sepi, dia membaca Tabloid Gloria dan membuka rubrik anak. Sebuah kisah Alkitab yang dituliskan dengan gaya bahasa anak justru memberkati dan menguatkan imannya. Wow... saya sungguh girang. Apa artinya? Berarti artikel yang saya tuliskan tidak sia-sia. Kata-kata yang meluncur dari mulut ibu tadi seakan membawa semangat baru bagi saya untuk tetap menulis.
Sederhana bukan? Selama kita masih diberi nafas kehidupan, marilah kita berkomitmen untuk meninggalkan catatan yang dapat memberkati generasi mendatang. “Apa saja catatan itu?” “Rumitkah?” “Profesi saya bukan penulis.” Jawaban saya hanya satu, simak Tabloid Gloria mendatang. Saya akan memberikan catatan-catatan apa yang dapat Anda tinggalkan bagi generasi mendatang. Sangat sederhana dan mudah karena menulis itu mudah.