
Mengapa saya membentuk ONE.book.LIFE dalam sebuah komunitas? Kok bukan kursus menulis biasa? Jawabannya adalah karena kita perlu suatu komunitas yang dapat mendukung kita. Melalui komunitas, kita bisa menemukan teman-teman yang satu visi dan misi sehingga kita bisa belajar berbagi dan mengembangkan diri.
Saya bisa saja hanya mengadakan kursus menulis. Namun kalau Anda tidak menemukan komunitas untuk bertumbuh, sia-sia saja kursus menulis yang Anda ikuti. Seberapa seringnya Anda mengikuti kursus menulis, seminar menulis, seminar jurnalistik, semua itu tidak menjadikan Anda sebagai seorang penulis.
Mengapa bisa begitu? Percayalah, saya mengalaminya sendiri. Talenta menulis saya bisa bertumbuh sejak SMA karena ada komunitas. Saat SMA, saya menemukan komunitas di sebuah harian lokal di Surabaya. Saat kuliah, saya menemukan komunitas di kampus saya. Pada semester 6, saya menemukan komunitas baru yaitu di Tabloid Rohani Gloria, tatkala saya masih menjadi wartawan Tabloid Gloria. Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan karena IA sudah memberikan saya komunitas-komunitas yang bisa menumbuhkan talenta.
Apakah ada perbedaan antara ada komunitas dengan tidak ada? Tentu saja, jika tidak ada perbedaan, untuk apa saya membentuk komunitas. Begini, semenjak kuliah hingga hari ini, saya sudah sering memberikan training jurnalistik kepada gereja maupun sekolah kristen/katolik baik di pulau Jawa maupun luar Jawa. Satu hal yang saya perhatikan adalah kebanyakan di gereja tidak memiliki komunitas yang seharusnya bisa melakukan follow up dari training jurnalistik. Lain halnya dengan sekolah yang 100% memiliki komunitas berupa ekstrakurikuler maupun klub jurnalistik. Hasilnya? Ya, sebagaimana kita bisa melihat keadaan di Indonesia hari ini. Penulis-penulis kristen/katolik sudah terbilang jarang. Jikalau masih ada, kebanyakan juga termasuk generasi lama yang (maaf) secara usia sudah mencapai 55 tahun ke atas.
Saya menyadari bahwa banyak juga orang-orang yang terpanggil untuk membentuk pelayanan menulis dan jurnalistik ini. Satu tahun terakhir, saya bertemu dengan rekan-rekan pelayanan di Surabaya dan Jakarta yang ingin membuat satu bidang pelayanan jurnalistik. Saran saya saat itu adalah perlu memikirkan adanya media internal sebagai tempat untuk berlatih. Tidak perlu rumit, bisa berupa buletin yang di-print atau jika ada dana, bisa berupa majalah.
Entah sudah berapa kali saya selalu menekankan pentingnya sarana berlatih untuk mereka yang sudah mengikuti training menulis atau jurnalistik. Sayangnya, sebagian besar gereja atau lembaga pelayanan hanya menekankan para anggotanya untuk mengikuti training jurnalistik semata. Hasilnya? Entah berapa banyak para (calon) penulis yang berguguran karena tidak ada sarana latihan. Hal ini sungguh sangat disayangkan, tak heran jika Indonesia kekurangan anak-anak Tuhan yang profesional di bidang ini.
Melihat kondisi tadi, saya terpanggil untuk membagikan pengalaman menulis saya kepada Anda yang memang mau belajar menulis. Saya berharap komunitas ini bisa memunculkan penulis-penulis muda yang takut akan Tuhan. Komunitas ini terbuka untuk perseorangan maupun kelompok atau lembaga dari denominasi apapun.
Anda yang ingin bergabung di komunitas ONE.book.LIFE harus memiliki komitmen untuk menerbitkan (minimal) satu buku selama Tuhan masih memberikan nafas kehidupan.

No comments:
Post a Comment