Kita selalu bangga dengan buku yang dikarang oleh pendeta dari luar negeri. Kita justru, tanpa disadari, tidak pernah bangga dengan karya buku pendeta Indonesia.
Berbicara soal mengapa kita lebih terobsesi membaca buku karangan pendeta luar negeri, itu memang tidak lepas dari budaya bangsa Indonesia. Coba lihat sekeliling kita! Kita lebih bangga menggunakan jas, blazer daripada menggunakan pakaian batik. “Batik untuk pak camat,” demikian guyonan yang sering dengar di telinga kita. Padahal dunia internasional memperebutkan hak penemuan kain batik. Kita malah sering tidak menggunakannya bahkan kalau perlu batik dibuang dari Indonesia dan diganti dengan pakaian gaya barat.
Apa lagi? Kita juga bangga makan makanan dari luar negeri, mulai dari jenis pizza, steak, burger dan sebagainya. Makanan dalam negeri seringkali menjadi terpinggirkan. Fenomena ini ternyata juga berpengaruh pada bahan bacaan atau buku yang kita baca. Kita lebih, boleh dibilang, sangat bangga dengan buku-buku terbitan dari luar negeri ketimbang buku-buku anak negeri.
“Mutu buku luar negeri berbeda dengan dalam negeri.” Alasan itu seringkali yang diungkapkan oleh penggemar buku-buku luar negeri. Ya, tentu saja karena negara Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Sementara negara-negara di Amerika dan Eropa sudah menjadi negara maju. Otomatis kemajuan ini juga di segala bidang, mulai dari cara berpikir, cara pandang hingga cara penyelesaian suatu masalah.
Kondisi tersebut boleh dibilang sudah menjadi budaya dan sudah biasa. Kondisi tersebut juga memiliki dampak terhadap gereja. Buku-buku terbitan dengan pengarang luar negeri selalu laris manis jika dibandingkan dengan buku hasil karya anak bangsa. Boleh ditanya ke penerbit manapun yang menerbitkan buku-buku rohani. Bahkan di Indonesia, ada beberapa penerbit rohani yang lebih suka untuk membeli hak terjemahan buku-buku yang dikarang oleh pendeta-pendeta terkenal di dunia. Penerbit-penerbit tersebut lebih mengkhususkan untuk menerbitkan buku-buku karangan pendeta luar negeri.
Apa yang menjadi alasannya? Tentu saja karena buku-buku karangan pendeta luar negeri laris manis ketika dijual di toko. Buku-buku karangan pendeta dalam negeri sangat susah menjualnya. Sebuah penerbit rohani terkenal di Indonesia bahkan tidak bersedia menerbitkan buku-buku pendeta dalam negeri karena pernah mendapatkan pengalaman susah menjual buku pendeta terkenal di Indonesia. Berhitung bisnis maka mereka memutuskan untuk tidak pernah menerbitkan lagi buku-buku karya pendeta dalam negeri. Itu pengalaman nyata yang saya alami saat membantu klien saya mencari penerbit rohani.
Sangat mengenaskan ya… bahwa ternyata penerbit rohani di Indonesia lebih mementingkan hitungan keuntungan daripada memikirkan untuk menumbuhkan potensi pendeta dan anak-anak Tuhan di Indonesia. Kalau penerbit rohani saja tidak mau, wah apalagi penerbit umum… (Anda bisa menjawabnya sendiri!)
Tak heran, kalau kita mau melihat pergerakan kegerakan umat Tuhan di Indonesia selalu diwarnai dari barat. Artinya, ada kegerakan baru di barat maka Indonesia mengikuti. Kegerakan baru lagi di negara barat maka Indonesia selalu mengikuti. Istilah, selalu mengekor, mengekor dan mengekor sehingga menyebabkan kita tidak lagi menjadi percaya dengan kemampuan diri sendiri. Kalau tidak mengekor dari barat rasanya kurang sreg.
Tuhan pasti memberikan kegerakan di setiap negara sesuai dengan waktu Tuhan. Yeremia 29:7 mengatakan: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Kalau kita sungguh-sungguh berdoa dan berbuat nyata bagi bangsa ini maka Tuhan akan memberikan kegerakan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kita tidak perlu susah-susah mengekor kegerakan-kegerakan dari barat yang belum tentu cocok diaplikasikan di Indonesia.
Budaya Indonesia dan barat tidak sama sehingga ada beberapa hal yang memang bisa diaplikasikan dan ada yang tidak. Justru yang harus kita ambil adalah perjuangan di balik lahirnya kegerakan-kegerakan jemaat Tuhan di barat. Bagaimana perjuangan mereka, bagaimana semangat mereka sehingga karya Tuhan bisa dinampakkan begitu nyata pada masyarakat dan negaranya. Bukannya mencontoh persis model kegerakannya lalu diaplikasikan secara mentah di Indonesia, yang belum tentu bisa diterima malah bisa menjadi perpecahan tersendiri.
GALI POTENSI PENDETA DALAM NEGERI
Indonesia tidak kalah dari luar negeri, dibuktikan dengan banyaknya anak Indonesia yang berhasil menjuarai pertandingan skala internasional dari berbagai bidang. Itu membuktikan Indonesia memiliki potensi yang dapat diperhitungkan di dunia internasional. Hanya saja karena kita terlalu lama dijajah sehingga pikiran kita selalu mengatakan bahwa barat is the best. Faktanya, belum tentu!
Memunculkan para penulis dari kalangan jemaat memang tidak mudah. Pelayanan penulis tidak populer di kalangan gereja. Peminat pelayanan musik sangat banyak sehingga banyak jemaat yang berbondong-bondong untuk mendaftar. Pendaftar pelayanan penulis sangat sedikit bahkan cenderung nol, itu yang menyebabkan tidak ada pelayanan penulis di gereja.
Menurut saya, dari berbagai pengalaman memberikan pelatihan jurnalistik antar pulau, asalkan kita bisa menggali dengan tepat maka kita akan menemukan bakat-bakat terpendam dari jemaat. Itu juga yang saya lakukan dalam pelatihan dua jam di sebuah gereja di Surabaya. Hanya dalam waktu 2 jam, saya bisa menemukan bakat terpendam jemaat dalam hal tulis menulis yang membuat gembala gereja geleng-geleng kepala karena baru tahu banyak jemaat suka menulis. Jadi, ini bukan masalah tidak ada penulis di dalam gereja Anda. Masalahnya adalah bagaimana cara kita menggali potensi jemaat, pengurus gereja, majelis dan pendeta di dalam gereja serta menjadikan pelayanan menulis ini tidak membosankan.
Penggalian potensi diri ini tidak bisa dilakukan sendirian. Meminjam perumpamaan Yesus, tidak baik seekor domba berjalan sendirian di padang belantara. Demikian juga dengan pelayanan menulis, seorang penulis lebih sulit bertumbuh daripada adanya sekelompok penulis. Gereja seharusnya bisa memfasilitasi hal ini. Demikian juga dengan penerbit umum yang menerbitkan buku-buku rohani ataupun penerbit-penerbit yang secara khusus mengkampanyekan diri untuk menerbitkan buku rohani. Memunculkan penulis di kalangan jemaat dan pendeta untuk Indonesia butuh perjuangan, terlebih saat ini. Perjuangan ini harus bersama-sama sehingga penulis-penulis baru muncul dan karyanya dapat diterima masyarakat Indonesia.
Bayangkan, jika muncul penulis-penulis baru di Indonesia, alangkah indahnya warna dunia perbukuan kita saat ini. Itu pun tidak boleh berhenti sampai di Indonesia saja. Sudah saatnya Indonesia melaksanakan ‘ekspor’ karya penulis jemaat dan pendeta dalam negeri. Sudah saatnya Indonesia mewarnai dunia internasional, bukan hanya diwarnai!
Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 451 (Awal Mei 2009)
Ellen Pantouw
Tuesday, April 28, 2009
Mengapa Pendeta Indonesia Ogah Menulis?
Jumlah pendeta di Indonesia sangat banyak. Munculnya berbagai sinode baru semakin menambah jumlah pendeta. Hasil karya lisan dapat kita dengar setiap minggu melalui khotbah. Akan tetapi hasil karya tulisan sangat jarang bahkan bisa dihitung dengan jari.
Sebelum Anda membaca lebih lanjut artikel ini, saya ingin mempertegas bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk menimbulkan ketidakdamaian. Juga tidak ada maksud untuk memperolok pihak tertentu. Saya menulis ini dengan tujuan untuk mengkritisi penyebab kemandulan pelayanan menulis di gereja.
Berapa banyak karya buku yang dihasilkan oleh pendeta Indonesia? Tidak banyak. Anda boleh cek ke penerbit manapun, para pendeta di Indonesia sangat jarang mengeluarkan karya buku. Kalaupun ada, kita akan mendengar beberapa nama yang tidak sampai hitungan pada jari kesepuluh. Hanya ada satu pendeta yaitu pendeta Eka Darmaputera yang suka menulis, sayangnya beliau sudah almarhum. Tulisannya tidak hanya termuat di surat kabar skala nasional tetapi kita juga bisa membaca buku-buku besutan Eka Darmaputera.
Mungkin karya buku masih berada di dalam ruang lingkup yang besar. Bagaimana kalau berapa banyak karya tulis dari pendeta Indonesia? Ternyata tidak banyak juga bahkan cenderung susah meminta seorang pendeta untuk menulis. Perihal ini, Anda boleh menanyakan ke redaksi-redaksi majalah dan tabloid rohani seperti tabloid Gloria. Mereka akan menceritakan betapa susahnya meminta seorang pendeta untuk menulis. Kawan-kawan di redaksi harus giat ‘mengejar’ pendeta untuk menulis. SMS untuk mengingatkan, telepon untuk menagih tulisan. Susah sekali. Sangat mudah apabila kita meminta pendeta untuk khotbah. Tidak perlu ‘dikejar-kejar’.
Sangat disayangkan kalau pemberitaan Injil hanya melalui mimbar saja pada hari Minggu. Pemberitaan Firman Tuhan melalui lisan, hanya dapat diingat oleh jemaat sebesar 20% saja. Angka 20% merupakan hasil penelitian tentang seberapa besar manfaat komunikasi lisan yang dapat diterima oleh pendengarnya. Itu sebabnya mengapa para siswa dan mahasiswa diminta untuk mencatat paparan dari guru dan dosen. Mencatat akan menambah daya serap materi yang diberikan oleh guru dan dosen.
Kebanyakan jemaat hanya mendengarkan Firman Tuhan tanpa mencatat. Saat kebaktian, materi yang dapat diingat jemaat hanya 20%. Usai kebaktian, biasanya jemaat berbondong-bondong datang ke kantin gereja untuk makan dan minum, berinteraksi dengan jemaat lain. Pulang ke rumah, yakinkah Anda bahwa materi 20% yang diingat jemaat tidak akan berkurang lagi? Itulah sebabnya para pendeta perlu menulis juga. Khotbah yang disampaikan pada hari Minggu belum cukup untuk meningkatkan kedewasaan rohani para jemaat.
Perhatikan dampak dari sebuah tulisan seorang pendeta di media cetak atau membuat karya buku. Seorang jemaat Anda membeli buku atau majalah atau tabloid yang memuat tulisan Anda. Usai membaca dan ia merasa mendapatkan berkat maka ia akan berbicara kepada teman-temannya. Ia akan merekomendasikan media cetak tersebut untuk dibaca oleh teman-temannya. Kalau teman-temannya mendapatkan berkat juga maka mereka akan merekomendasikan teman-temannya yang lain untuk membaca, demikian seterusnya.
Sebuah tulisan Anda dapat dibawa jemaat ke berbagai tempat kemanapun kaki mereka melangkah. Mereka bisa membawanya ke kampung halaman, ke negeri tetangga atau kemanapun mereka pergi. Kalau Anda hanya berkhotbah maka khotbah Anda hanya didengarkan jemaat saja. Ketika Anda menulis, maka tulisan Anda bisa melanglang buana dan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah Anda jangkau selama hidup.
Mungkin ada yang berkomentar begini: “Khotbahnya kan bisa direkam dan kasetnya bisa dijual atau dibagi-bagikan.” Itu bagus tetapi saya yakin tidak semua gereja memiliki alat perekam khotbah. Lebih tepatnya, tidak semua gereja juga memiliki kemampuan untuk membeli alat perekam khotbah. Melalui tulisan, Anda tidak perlu membeli alat perekam khotbah. Tulisan merupakan sebuah alat penginjilan yang murah meriah. Para pembaca tulisan Anda pun tidak perlu investasi sebuah tape untuk mendengarkan kaset khotbah. Cukup ada penerangan, langsung baca. Murah kan?
Kita yang tinggal di perkotaan mungkin berpikir bahwa harga sebuah tape itu murah. Kita perlu ingat juga bahwa yang butuh penginjilan, pengayaan Firman Tuhan bukan hanya orang kota. Bahkan di perkotaan pun masih ada jemaat yang tinggal di bawah garis kemiskinan. Makan saja masih susah apalagi membeli kaset khotbah berikut tape beserta baterainya. Jelas saja alat sederhana itu tidak mungkin akan terbeli. Jadi, melalui tulisan, Anda berinvestasi secara murah, jemaat pun juga sama.
TULISAN PENDETA DITOLAK REDAKSI
Salah satu alasan mengapa pendeta jarang menulis adalah tulisannya sering ditolak redaksi majalah dan tabloid serta penerbit buku. Sayangnya banyak yang putus asa dan tidak mau melanjutkan atau bertanya secara aktif mengapa tulisannya tidak dimuat. Padahal kita bisa menanyakan kepada redaksi atau penerbit buku, mengapa mereka menolak tulisan kita.
Mengapa redaksi dan penerbit menolak tulisan Anda? Saya memerhatikan seringkali para pendeta saat menulis sebuah tulisan menyamakan dengan membuat khotbah. Taburan ayat menghiasi dari paragraf pertama hingga akhir. Viuw… Saya pernah mengedit tulisan renungan seorang pendeta. Bayangkan, ada 17 ayat di dalam tulisan renungannya! Tulisan renungan itu tidak panjang, biasanya maksimal ½ halaman. 17 ayat ada di dalam tulisan renungan ditambah lagi ada 2 ayat yang dijabarkan atau ditulis. Wah, ini sama saja dengan memindahkan ayat di Alkitab ke dalam tulisan. Tentu saja, tulisan ini tidak berbobot. Kalau hanya memindahkan ayat dari Alkitab ke tulisan, ya, anak kecil pun bisa.
Menulis untuk dikirimkan ke majalah dan tabloid rohani berbeda dengan membuat khotbah. Pencantuman ayat-ayat sebisa mungkin dihindari. 1-3 ayat boleh saja dicantumkan untuk mempertegas tulisan Anda. Mengapa? Majalah dan tabloid rohani di Indonesia kebanyakan bersifat popular (bukan popular dengan makna terkenal). Artinya, disajikan dengan gaya bahasa umum yang sederhana dan enak dibaca.
Berbeda jika Anda mengirimkan tulisan untuk jurnal kristiani atau materi sekolah teologia. Tentu saja pengayaan ayat harus diperbanyak. Anda juga akan menemukan banyak ayat sebagai perbandingan. Pembaca Anda adalah orang-orang yang ingin mendalami Firman Tuhan secara ilmiah.
Sementara majalah dan tabloid rohani dibaca oleh orang awam yang kebanyakan kurang memahami pengayaan Firman Tuhan secara ilmiah. Pembaca awam kebanyakan ingin mendapatkan informasi secara aplikatif. Bagaimana mengaplikasikan Firman Tuhan ke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya.
Jika tulisan Anda bertaburkan ayat, tentu saja akan ditolak oleh redaksi. Mengapa redaksi menolak? Jujur saja, karena pembacanya tidak suka membaca tulisan seperti itu. Jadi, sesuaikan tulisan Anda dengan media cetaknya. Anda tidak bisa idealis seperti begini: “Saya pendeta dan saya menulis harus banyak ayat.” Anda akan lelah sendiri karena tulisan Anda akan ditolak oleh redaksi. Lagipula, seperti kata saya sebelumnya, pembaca tidak begitu suka membaca karya Anda. Saya ingin lebih mempertegas lagi, cobalah tanya ke jemaat Anda, berapa orang yang akan membuka Alkitab dan membaca ayat-ayat di tulisan Anda yang dimuat di media cetak. Saya jamin tidak banyak. Singkatnya, ayat yang terlalu banyak di artikel popular akan dilewatkan pembacanya. Atau sekedar tahu saja, ayatnya di sini tapi mereka tidak akan membuka Alkitab.
Sesuaikan tulisan Anda dengan medianya. Bukankah lebih baik kita menggunakan gaya bahasa sederhana supaya para petani bisa memahami maksud kita? Daripada menggunakan bahasa ilmiah tetapi para petani tidak memahaminya? Mana yang Anda pilih? Para pendeta, marilah belajar menulis! Hiasi media di dunia ini dengan karya tulis Anda!
Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 450 (April 2009)
Ellen Pantouw
Sebelum Anda membaca lebih lanjut artikel ini, saya ingin mempertegas bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk menimbulkan ketidakdamaian. Juga tidak ada maksud untuk memperolok pihak tertentu. Saya menulis ini dengan tujuan untuk mengkritisi penyebab kemandulan pelayanan menulis di gereja.
Berapa banyak karya buku yang dihasilkan oleh pendeta Indonesia? Tidak banyak. Anda boleh cek ke penerbit manapun, para pendeta di Indonesia sangat jarang mengeluarkan karya buku. Kalaupun ada, kita akan mendengar beberapa nama yang tidak sampai hitungan pada jari kesepuluh. Hanya ada satu pendeta yaitu pendeta Eka Darmaputera yang suka menulis, sayangnya beliau sudah almarhum. Tulisannya tidak hanya termuat di surat kabar skala nasional tetapi kita juga bisa membaca buku-buku besutan Eka Darmaputera.
Mungkin karya buku masih berada di dalam ruang lingkup yang besar. Bagaimana kalau berapa banyak karya tulis dari pendeta Indonesia? Ternyata tidak banyak juga bahkan cenderung susah meminta seorang pendeta untuk menulis. Perihal ini, Anda boleh menanyakan ke redaksi-redaksi majalah dan tabloid rohani seperti tabloid Gloria. Mereka akan menceritakan betapa susahnya meminta seorang pendeta untuk menulis. Kawan-kawan di redaksi harus giat ‘mengejar’ pendeta untuk menulis. SMS untuk mengingatkan, telepon untuk menagih tulisan. Susah sekali. Sangat mudah apabila kita meminta pendeta untuk khotbah. Tidak perlu ‘dikejar-kejar’.
Sangat disayangkan kalau pemberitaan Injil hanya melalui mimbar saja pada hari Minggu. Pemberitaan Firman Tuhan melalui lisan, hanya dapat diingat oleh jemaat sebesar 20% saja. Angka 20% merupakan hasil penelitian tentang seberapa besar manfaat komunikasi lisan yang dapat diterima oleh pendengarnya. Itu sebabnya mengapa para siswa dan mahasiswa diminta untuk mencatat paparan dari guru dan dosen. Mencatat akan menambah daya serap materi yang diberikan oleh guru dan dosen.
Kebanyakan jemaat hanya mendengarkan Firman Tuhan tanpa mencatat. Saat kebaktian, materi yang dapat diingat jemaat hanya 20%. Usai kebaktian, biasanya jemaat berbondong-bondong datang ke kantin gereja untuk makan dan minum, berinteraksi dengan jemaat lain. Pulang ke rumah, yakinkah Anda bahwa materi 20% yang diingat jemaat tidak akan berkurang lagi? Itulah sebabnya para pendeta perlu menulis juga. Khotbah yang disampaikan pada hari Minggu belum cukup untuk meningkatkan kedewasaan rohani para jemaat.
Perhatikan dampak dari sebuah tulisan seorang pendeta di media cetak atau membuat karya buku. Seorang jemaat Anda membeli buku atau majalah atau tabloid yang memuat tulisan Anda. Usai membaca dan ia merasa mendapatkan berkat maka ia akan berbicara kepada teman-temannya. Ia akan merekomendasikan media cetak tersebut untuk dibaca oleh teman-temannya. Kalau teman-temannya mendapatkan berkat juga maka mereka akan merekomendasikan teman-temannya yang lain untuk membaca, demikian seterusnya.
Sebuah tulisan Anda dapat dibawa jemaat ke berbagai tempat kemanapun kaki mereka melangkah. Mereka bisa membawanya ke kampung halaman, ke negeri tetangga atau kemanapun mereka pergi. Kalau Anda hanya berkhotbah maka khotbah Anda hanya didengarkan jemaat saja. Ketika Anda menulis, maka tulisan Anda bisa melanglang buana dan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah Anda jangkau selama hidup.
Mungkin ada yang berkomentar begini: “Khotbahnya kan bisa direkam dan kasetnya bisa dijual atau dibagi-bagikan.” Itu bagus tetapi saya yakin tidak semua gereja memiliki alat perekam khotbah. Lebih tepatnya, tidak semua gereja juga memiliki kemampuan untuk membeli alat perekam khotbah. Melalui tulisan, Anda tidak perlu membeli alat perekam khotbah. Tulisan merupakan sebuah alat penginjilan yang murah meriah. Para pembaca tulisan Anda pun tidak perlu investasi sebuah tape untuk mendengarkan kaset khotbah. Cukup ada penerangan, langsung baca. Murah kan?
Kita yang tinggal di perkotaan mungkin berpikir bahwa harga sebuah tape itu murah. Kita perlu ingat juga bahwa yang butuh penginjilan, pengayaan Firman Tuhan bukan hanya orang kota. Bahkan di perkotaan pun masih ada jemaat yang tinggal di bawah garis kemiskinan. Makan saja masih susah apalagi membeli kaset khotbah berikut tape beserta baterainya. Jelas saja alat sederhana itu tidak mungkin akan terbeli. Jadi, melalui tulisan, Anda berinvestasi secara murah, jemaat pun juga sama.
TULISAN PENDETA DITOLAK REDAKSI
Salah satu alasan mengapa pendeta jarang menulis adalah tulisannya sering ditolak redaksi majalah dan tabloid serta penerbit buku. Sayangnya banyak yang putus asa dan tidak mau melanjutkan atau bertanya secara aktif mengapa tulisannya tidak dimuat. Padahal kita bisa menanyakan kepada redaksi atau penerbit buku, mengapa mereka menolak tulisan kita.
Mengapa redaksi dan penerbit menolak tulisan Anda? Saya memerhatikan seringkali para pendeta saat menulis sebuah tulisan menyamakan dengan membuat khotbah. Taburan ayat menghiasi dari paragraf pertama hingga akhir. Viuw… Saya pernah mengedit tulisan renungan seorang pendeta. Bayangkan, ada 17 ayat di dalam tulisan renungannya! Tulisan renungan itu tidak panjang, biasanya maksimal ½ halaman. 17 ayat ada di dalam tulisan renungan ditambah lagi ada 2 ayat yang dijabarkan atau ditulis. Wah, ini sama saja dengan memindahkan ayat di Alkitab ke dalam tulisan. Tentu saja, tulisan ini tidak berbobot. Kalau hanya memindahkan ayat dari Alkitab ke tulisan, ya, anak kecil pun bisa.
Menulis untuk dikirimkan ke majalah dan tabloid rohani berbeda dengan membuat khotbah. Pencantuman ayat-ayat sebisa mungkin dihindari. 1-3 ayat boleh saja dicantumkan untuk mempertegas tulisan Anda. Mengapa? Majalah dan tabloid rohani di Indonesia kebanyakan bersifat popular (bukan popular dengan makna terkenal). Artinya, disajikan dengan gaya bahasa umum yang sederhana dan enak dibaca.
Berbeda jika Anda mengirimkan tulisan untuk jurnal kristiani atau materi sekolah teologia. Tentu saja pengayaan ayat harus diperbanyak. Anda juga akan menemukan banyak ayat sebagai perbandingan. Pembaca Anda adalah orang-orang yang ingin mendalami Firman Tuhan secara ilmiah.
Sementara majalah dan tabloid rohani dibaca oleh orang awam yang kebanyakan kurang memahami pengayaan Firman Tuhan secara ilmiah. Pembaca awam kebanyakan ingin mendapatkan informasi secara aplikatif. Bagaimana mengaplikasikan Firman Tuhan ke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya.
Jika tulisan Anda bertaburkan ayat, tentu saja akan ditolak oleh redaksi. Mengapa redaksi menolak? Jujur saja, karena pembacanya tidak suka membaca tulisan seperti itu. Jadi, sesuaikan tulisan Anda dengan media cetaknya. Anda tidak bisa idealis seperti begini: “Saya pendeta dan saya menulis harus banyak ayat.” Anda akan lelah sendiri karena tulisan Anda akan ditolak oleh redaksi. Lagipula, seperti kata saya sebelumnya, pembaca tidak begitu suka membaca karya Anda. Saya ingin lebih mempertegas lagi, cobalah tanya ke jemaat Anda, berapa orang yang akan membuka Alkitab dan membaca ayat-ayat di tulisan Anda yang dimuat di media cetak. Saya jamin tidak banyak. Singkatnya, ayat yang terlalu banyak di artikel popular akan dilewatkan pembacanya. Atau sekedar tahu saja, ayatnya di sini tapi mereka tidak akan membuka Alkitab.
Sesuaikan tulisan Anda dengan medianya. Bukankah lebih baik kita menggunakan gaya bahasa sederhana supaya para petani bisa memahami maksud kita? Daripada menggunakan bahasa ilmiah tetapi para petani tidak memahaminya? Mana yang Anda pilih? Para pendeta, marilah belajar menulis! Hiasi media di dunia ini dengan karya tulis Anda!
Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 450 (April 2009)
Ellen Pantouw
Menulis Bukan Pelayanan Gereja?
Banyak diantara kita, anak-anak Tuhan yang tidak memahami pentingnya menulis. Terkadang menulis juga bukan dianggap sebagai sebuah pelayanan. Lebih tepatnya tidak pernah diperhitungkan oleh banyak gereja. Itulah sebabnya jumlah penulis dari kalangan gereja sangat sedikit.
Gereja sendiri juga tidak pernah menumbuhkan komunitas penulis. Pemaknaan pelayanan di dalam gereja pun sangat terbatas. Mungkin juga karena gereja sendiri yang memberi batasan pada diri sendiri sehingga tanpa disadari hal ini sudah menjadi sebuah konsensus bersama. Bentuk pekerjaan yang sudah dikategorikan melayani biasanya adalah pembawa firman, pemimpin pujian, para singer, tim musik, tim tarian, pendoa syafaat, kolektan, penerima jemaat (usher), tim kunjungan, pengurus gereja. Di luar itu, dikategorikan sebagai non pelayanan atau kata kerennya, sekuler.
Diakui atau tidak, itulah wajah gereja kita sebenarnya. Kalau seseorang belum mengambil pekerjaan tersebut maka dia belum dianggap ‘sah’ melayani Tuhan. Seolah-olah ada batasan tersendiri antara pekerjaan pelayanan dan non pelayanan. Akibatnya, bidang-bidang pekerjaan yang tidak disahkan menjadi bentuk pelayanan, tidak pernah diakomodir oleh gereja. Tak heran kalau kekosongan tersebut akhirnya muncul, seperti kekosongan para penulis dari kalangan gereja.
Pelayanan menulis sendiri belum disahkan sebagai bentuk pelayanan. Belum diakui sebagai bagian dari pelayanan. Tak heran, kita bisa menemukan banyak jemaat yang memiliki potensi tetapi mati. Kalau jemaat mau mengembangkannya, ia harus mengembangkan di luar gereja, barulah potensi tersebut tak mati. Ketika gereja tidak mau mengembangkan sehingga jemaat harus mengembangkan potensinya di luar gereja, bukankah ini yang dinamakan tragis?
Padahal melalui tulisan, kita dapat mewarnai dunia. Tulisan dapat memberikan pencerahan kepada banyak orang. Rasul Paulus sendiri juga menulis untuk dapat menjangkau orang-orang yang tak dapat ia jangkau. Sorga pun juga meninggalkan tulisan yaitu Alkitab agar anak-anakNya mengerti jalan-Nya. Melalui tulisan, kita dapat memengaruhi orang, memotivasi banyak orang. Melalui tulisan, orang bisa menangis dan bertobat. Bukankah ini sebuah bentuk pelayanan yang tingkat kepentingannya sama dengan pengabaran Injil? Jika penting, sudah sepatutnya gereja mulai memberikan perhatian dan mengembangkan bidang pelayanan ini.
Bidang menulis termasuk sebuah bidang pelayanan yang harus mulai diberikan perhatian oleh gereja. Bukan untuk bermaksud membela kaum tertentu. Bidang pelayanan ini memiliki tingkat urgensi pada saat ini. Bayangkan bagaimana kontribusi pelayanan menulis untuk mewarnai dunia!
Jika Anda menulis opini di surat kabar, tulisan Anda dapat mencerahkan banyak pihak dari masyarakat awam hingga pejabat negara. Jika Anda menulis buku, tulisan Anda bisa memberikan pencerahan kepada pembaca buku dari banyak pulau di Indonesia. Jika Anda menulis naskah sinetron atau naskah film, tulisan Anda bisa memengaruhi banyak penikmat televisi. Hanya melalui tulisan, Anda dapat menjangkau dan melayani masyarakat baik secara individu maupun berkelompok.
Jadi, bagaimana Anda menilai bentuk pelayanan menulis ini? Apakah termasuk pelayanan atau tidak? Walau sampai hari ini, belum ‘disahkan’ sebagai bentuk pelayanan, itu tidak penting dan tidak menjadi masalah. Alkitab mengatakan bahwa segala sesuatu dilihat dari buahnya. Lebih penting adalah memaknai hasil tulisan kita yang dapat memberikan pencerahan kepada banyak orang dari segala usia, segala kalangan ekonomi, suku, agama, ras dan yang mampu menjangkau semua pulau.
Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 449 (April 2009)
Ellen Pantouw
Wednesday, April 1, 2009
SESUAIKAN MINAT DAN KEMAMPUAN, BARU PILIH PROGRAMNYA
Ingin belajar menulis tetapi bingung memilih program? Memilih program merupakan langkah awal Anda untuk belajar menulis sesuai dengan minat dan kemampuan Anda.
Menulis sangat menyenangkan dan mudah. Banyak hal yang membuat kita terkendala dalam menulis. Apa saja kendala Anda? Mematahkan kendala sangat mudah sekali. Apapun kendalanya bisa dipatahkan. Rahasia mematahkan kendala dalam menulis itu yang membuat saya enjoy menulis selama 12 tahun lebih. Saya akan membagikan rahasia mematahkan kendala dalam penulisan di dalam kursus ini. Rahasia yang saya bagikan itu bukan teori tapi pengalaman pribadi yang sudah dipraktekkan.
Lalu bagaimana memilih program untuk Anda? Anda harus tahu dulu apa yang akan dipelajari di setiap program.
“Program Opini” akan mengajarkan Anda bagaimana cara mengutarakan pendapat melalui tulisan di media cetak. Juga mengajarkan bagaimana menggabungkan antara data yang Anda miliki dengan pendapat Anda menjadi sebuah tulisan yang dapat diterima sesuai standar redaksi. Dalam program ini, kita akan belajar bagaimana menulis opini dan refleksi.
“Program Kesaksian” mengajarkan bagaimana menulis kisah kesaksian. Ada banyak kesaksian di sekitar kita yang dapat kita tuliskan dan menjadi berkat. Kita akan belajar bagaimana memilih kisah kesaksian sesuai standar media dan bagaimana menuliskannya. Tulisan kesaksian juga sangat disukai anak-anak Tuhan dan dicari media rohani.
“Program Renungan” mengajarkan bagaimana membuat sebuah tulisan renungan. Coba Anda hitung berapa banyak jumlah renungan yang diterbitkan di Indonesia! Kalau Anda sudah menguasai caranya, Anda bisa mengirimkan tulisan renungan Anda ke redaksi. Bagi peserta program “Renungan”, siapkan diri sebab ada kejutan khusus dari Tabloid Gloria.
“Program Liputan” mengajak Anda membagikan berkat pengetahuan yang Anda peroleh dari menulis seminar, retreat, lokakarya, KKR rohani dan sebagainya. Anda pasti pernah mengikutinya kan? Jangan hanya menjadi peserta saja, sekarang saatnya membagikan berkat kepada orang lain!
Apakah Anda sudah menemukan minat Anda? Sekarang hitung kemampuan Anda!
Jika Anda memiliki banyak aktivitas di kantor maupun ibu rumah tangga, Program Opini dan Program Renungan sangat cocok untuk Anda. Kedua program ini tidak akan menyita aktivitas. Anda bisa mengerjakan aktivitas sekaligus menulis. Program Kesaksian dan Program Liputan sangat cocok bagi Anda, anak-anak muda, staf pelayanan di gereja/parachurch, majelis, pendeta. Program Kesaksian dan Liputan memerlukan waktu untuk bertemu orang dan melakukan wawancara. Program Kesaksian dapat diikuti oleh Anda yang punya kesibukan di kantor maupun rumah tangga, syaratnya gunakan waktu senggang untuk bertemu orang. Kalau Anda berminat menjadi koresponden media rohani seperti Tabloid Gloria maka ikuti Program Liputan.
Jadi, menulis di Tabloid Gloria tidak sesulit yang dibayangkan! Pilih programnya, sesuaikan minat dan kemampuan Anda!
Subscribe to:
Comments (Atom)
