Tuesday, April 28, 2009

Menulis Bukan Pelayanan Gereja?

Banyak diantara kita, anak-anak Tuhan yang tidak memahami pentingnya menulis. Terkadang menulis juga bukan dianggap sebagai sebuah pelayanan. Lebih tepatnya tidak pernah diperhitungkan oleh banyak gereja. Itulah sebabnya jumlah penulis dari kalangan gereja sangat sedikit.

Gereja sendiri juga tidak pernah menumbuhkan komunitas penulis. Pemaknaan pelayanan di dalam gereja pun sangat terbatas. Mungkin juga karena gereja sendiri yang memberi batasan pada diri sendiri sehingga tanpa disadari hal ini sudah menjadi sebuah konsensus bersama. Bentuk pekerjaan yang sudah dikategorikan melayani biasanya adalah pembawa firman, pemimpin pujian, para singer, tim musik, tim tarian, pendoa syafaat, kolektan, penerima jemaat (usher), tim kunjungan, pengurus gereja. Di luar itu, dikategorikan sebagai non pelayanan atau kata kerennya, sekuler.

Diakui atau tidak, itulah wajah gereja kita sebenarnya. Kalau seseorang belum mengambil pekerjaan tersebut maka dia belum dianggap ‘sah’ melayani Tuhan. Seolah-olah ada batasan tersendiri antara pekerjaan pelayanan dan non pelayanan. Akibatnya, bidang-bidang pekerjaan yang tidak disahkan menjadi bentuk pelayanan, tidak pernah diakomodir oleh gereja. Tak heran kalau kekosongan tersebut akhirnya muncul, seperti kekosongan para penulis dari kalangan gereja.

Pelayanan menulis sendiri belum disahkan sebagai bentuk pelayanan. Belum diakui sebagai bagian dari pelayanan. Tak heran, kita bisa menemukan banyak jemaat yang memiliki potensi tetapi mati. Kalau jemaat mau mengembangkannya, ia harus mengembangkan di luar gereja, barulah potensi tersebut tak mati. Ketika gereja tidak mau mengembangkan sehingga jemaat harus mengembangkan potensinya di luar gereja, bukankah ini yang dinamakan tragis?

Padahal melalui tulisan, kita dapat mewarnai dunia. Tulisan dapat memberikan pencerahan kepada banyak orang. Rasul Paulus sendiri juga menulis untuk dapat menjangkau orang-orang yang tak dapat ia jangkau. Sorga pun juga meninggalkan tulisan yaitu Alkitab agar anak-anakNya mengerti jalan-Nya. Melalui tulisan, kita dapat memengaruhi orang, memotivasi banyak orang. Melalui tulisan, orang bisa menangis dan bertobat. Bukankah ini sebuah bentuk pelayanan yang tingkat kepentingannya sama dengan pengabaran Injil? Jika penting, sudah sepatutnya gereja mulai memberikan perhatian dan mengembangkan bidang pelayanan ini.
Bidang menulis termasuk sebuah bidang pelayanan yang harus mulai diberikan perhatian oleh gereja. Bukan untuk bermaksud membela kaum tertentu. Bidang pelayanan ini memiliki tingkat urgensi pada saat ini. Bayangkan bagaimana kontribusi pelayanan menulis untuk mewarnai dunia!

Jika Anda menulis opini di surat kabar, tulisan Anda dapat mencerahkan banyak pihak dari masyarakat awam hingga pejabat negara. Jika Anda menulis buku, tulisan Anda bisa memberikan pencerahan kepada pembaca buku dari banyak pulau di Indonesia. Jika Anda menulis naskah sinetron atau naskah film, tulisan Anda bisa memengaruhi banyak penikmat televisi. Hanya melalui tulisan, Anda dapat menjangkau dan melayani masyarakat baik secara individu maupun berkelompok.

Jadi, bagaimana Anda menilai bentuk pelayanan menulis ini? Apakah termasuk pelayanan atau tidak? Walau sampai hari ini, belum ‘disahkan’ sebagai bentuk pelayanan, itu tidak penting dan tidak menjadi masalah. Alkitab mengatakan bahwa segala sesuatu dilihat dari buahnya. Lebih penting adalah memaknai hasil tulisan kita yang dapat memberikan pencerahan kepada banyak orang dari segala usia, segala kalangan ekonomi, suku, agama, ras dan yang mampu menjangkau semua pulau.

Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 449 (April 2009)

Ellen Pantouw

No comments: