Kita selalu bangga dengan buku yang dikarang oleh pendeta dari luar negeri. Kita justru, tanpa disadari, tidak pernah bangga dengan karya buku pendeta Indonesia.
Berbicara soal mengapa kita lebih terobsesi membaca buku karangan pendeta luar negeri, itu memang tidak lepas dari budaya bangsa Indonesia. Coba lihat sekeliling kita! Kita lebih bangga menggunakan jas, blazer daripada menggunakan pakaian batik. “Batik untuk pak camat,” demikian guyonan yang sering dengar di telinga kita. Padahal dunia internasional memperebutkan hak penemuan kain batik. Kita malah sering tidak menggunakannya bahkan kalau perlu batik dibuang dari Indonesia dan diganti dengan pakaian gaya barat.
Apa lagi? Kita juga bangga makan makanan dari luar negeri, mulai dari jenis pizza, steak, burger dan sebagainya. Makanan dalam negeri seringkali menjadi terpinggirkan. Fenomena ini ternyata juga berpengaruh pada bahan bacaan atau buku yang kita baca. Kita lebih, boleh dibilang, sangat bangga dengan buku-buku terbitan dari luar negeri ketimbang buku-buku anak negeri.
“Mutu buku luar negeri berbeda dengan dalam negeri.” Alasan itu seringkali yang diungkapkan oleh penggemar buku-buku luar negeri. Ya, tentu saja karena negara Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Sementara negara-negara di Amerika dan Eropa sudah menjadi negara maju. Otomatis kemajuan ini juga di segala bidang, mulai dari cara berpikir, cara pandang hingga cara penyelesaian suatu masalah.
Kondisi tersebut boleh dibilang sudah menjadi budaya dan sudah biasa. Kondisi tersebut juga memiliki dampak terhadap gereja. Buku-buku terbitan dengan pengarang luar negeri selalu laris manis jika dibandingkan dengan buku hasil karya anak bangsa. Boleh ditanya ke penerbit manapun yang menerbitkan buku-buku rohani. Bahkan di Indonesia, ada beberapa penerbit rohani yang lebih suka untuk membeli hak terjemahan buku-buku yang dikarang oleh pendeta-pendeta terkenal di dunia. Penerbit-penerbit tersebut lebih mengkhususkan untuk menerbitkan buku-buku karangan pendeta luar negeri.
Apa yang menjadi alasannya? Tentu saja karena buku-buku karangan pendeta luar negeri laris manis ketika dijual di toko. Buku-buku karangan pendeta dalam negeri sangat susah menjualnya. Sebuah penerbit rohani terkenal di Indonesia bahkan tidak bersedia menerbitkan buku-buku pendeta dalam negeri karena pernah mendapatkan pengalaman susah menjual buku pendeta terkenal di Indonesia. Berhitung bisnis maka mereka memutuskan untuk tidak pernah menerbitkan lagi buku-buku karya pendeta dalam negeri. Itu pengalaman nyata yang saya alami saat membantu klien saya mencari penerbit rohani.
Sangat mengenaskan ya… bahwa ternyata penerbit rohani di Indonesia lebih mementingkan hitungan keuntungan daripada memikirkan untuk menumbuhkan potensi pendeta dan anak-anak Tuhan di Indonesia. Kalau penerbit rohani saja tidak mau, wah apalagi penerbit umum… (Anda bisa menjawabnya sendiri!)
Tak heran, kalau kita mau melihat pergerakan kegerakan umat Tuhan di Indonesia selalu diwarnai dari barat. Artinya, ada kegerakan baru di barat maka Indonesia mengikuti. Kegerakan baru lagi di negara barat maka Indonesia selalu mengikuti. Istilah, selalu mengekor, mengekor dan mengekor sehingga menyebabkan kita tidak lagi menjadi percaya dengan kemampuan diri sendiri. Kalau tidak mengekor dari barat rasanya kurang sreg.
Tuhan pasti memberikan kegerakan di setiap negara sesuai dengan waktu Tuhan. Yeremia 29:7 mengatakan: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Kalau kita sungguh-sungguh berdoa dan berbuat nyata bagi bangsa ini maka Tuhan akan memberikan kegerakan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kita tidak perlu susah-susah mengekor kegerakan-kegerakan dari barat yang belum tentu cocok diaplikasikan di Indonesia.
Budaya Indonesia dan barat tidak sama sehingga ada beberapa hal yang memang bisa diaplikasikan dan ada yang tidak. Justru yang harus kita ambil adalah perjuangan di balik lahirnya kegerakan-kegerakan jemaat Tuhan di barat. Bagaimana perjuangan mereka, bagaimana semangat mereka sehingga karya Tuhan bisa dinampakkan begitu nyata pada masyarakat dan negaranya. Bukannya mencontoh persis model kegerakannya lalu diaplikasikan secara mentah di Indonesia, yang belum tentu bisa diterima malah bisa menjadi perpecahan tersendiri.
GALI POTENSI PENDETA DALAM NEGERI
Indonesia tidak kalah dari luar negeri, dibuktikan dengan banyaknya anak Indonesia yang berhasil menjuarai pertandingan skala internasional dari berbagai bidang. Itu membuktikan Indonesia memiliki potensi yang dapat diperhitungkan di dunia internasional. Hanya saja karena kita terlalu lama dijajah sehingga pikiran kita selalu mengatakan bahwa barat is the best. Faktanya, belum tentu!
Memunculkan para penulis dari kalangan jemaat memang tidak mudah. Pelayanan penulis tidak populer di kalangan gereja. Peminat pelayanan musik sangat banyak sehingga banyak jemaat yang berbondong-bondong untuk mendaftar. Pendaftar pelayanan penulis sangat sedikit bahkan cenderung nol, itu yang menyebabkan tidak ada pelayanan penulis di gereja.
Menurut saya, dari berbagai pengalaman memberikan pelatihan jurnalistik antar pulau, asalkan kita bisa menggali dengan tepat maka kita akan menemukan bakat-bakat terpendam dari jemaat. Itu juga yang saya lakukan dalam pelatihan dua jam di sebuah gereja di Surabaya. Hanya dalam waktu 2 jam, saya bisa menemukan bakat terpendam jemaat dalam hal tulis menulis yang membuat gembala gereja geleng-geleng kepala karena baru tahu banyak jemaat suka menulis. Jadi, ini bukan masalah tidak ada penulis di dalam gereja Anda. Masalahnya adalah bagaimana cara kita menggali potensi jemaat, pengurus gereja, majelis dan pendeta di dalam gereja serta menjadikan pelayanan menulis ini tidak membosankan.
Penggalian potensi diri ini tidak bisa dilakukan sendirian. Meminjam perumpamaan Yesus, tidak baik seekor domba berjalan sendirian di padang belantara. Demikian juga dengan pelayanan menulis, seorang penulis lebih sulit bertumbuh daripada adanya sekelompok penulis. Gereja seharusnya bisa memfasilitasi hal ini. Demikian juga dengan penerbit umum yang menerbitkan buku-buku rohani ataupun penerbit-penerbit yang secara khusus mengkampanyekan diri untuk menerbitkan buku rohani. Memunculkan penulis di kalangan jemaat dan pendeta untuk Indonesia butuh perjuangan, terlebih saat ini. Perjuangan ini harus bersama-sama sehingga penulis-penulis baru muncul dan karyanya dapat diterima masyarakat Indonesia.
Bayangkan, jika muncul penulis-penulis baru di Indonesia, alangkah indahnya warna dunia perbukuan kita saat ini. Itu pun tidak boleh berhenti sampai di Indonesia saja. Sudah saatnya Indonesia melaksanakan ‘ekspor’ karya penulis jemaat dan pendeta dalam negeri. Sudah saatnya Indonesia mewarnai dunia internasional, bukan hanya diwarnai!
Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 451 (Awal Mei 2009)
Ellen Pantouw
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment