Friday, December 26, 2008

Dicari! Penulis Kristen!

Tanyakan hal ini kepada penerbit yang menerbitkan buku-buku rohani, mereka pasti akan menjawab senada.

Memang begitulah kenyataannya sekarang. Jumlah penulis Kristen sangat kurang bahkan cenderung minim. Tidak ada yang berminat menjadi penulis Kristen. Faktanya, beberapa penulis Kristen menjadi mantan penulis. Tidak banyak yang bertahan menjadi penulis Kristen. Mengapa?

Saya menjawab dengan pertanyaan yang biasanya ditanyakan kepada saya. Apakah penulis Kristen bisa hidup layak? Saya baru sadar bahwa rupaya pelayanan penulisan, mohon maaf nih, masih dipandang sebelah mata oleh gereja. Lebih cenderung dipinggirkan. Padahal, kekuatan penulisan itu dahsyat sekali. Gereja dan pelayanan Anda bisa dikenal masyarakat melalui tulisan di media massa. Caranya bagaimana? Wow… itu mudah sekali, saya akan menjawabnya di kesempatan lain, entah di kursus menulis online atau training penulis bersama Tabloid Gloria yang akan kami adakan tahun depan.

Mungkin Anda, para pembaca Gloria juga menanyakan hal itu? Saya jamin, jika Anda sungguh-sungguh serius menekuni profesi penulis, Anda bisa hidup dengan sangat layak. Lebih terang-terangan lagi ya, Anda bisa mendapatkan penghasilan jutaan rupiah dari menulis, sama seperti saya. Tentu saja, dengan catatan, jika Anda tahu caranya dan Anda serius.
Para gembala, pendeta, penginjil dan Anda yang memiliki lembaga pelayanan, cobalah tengok kondisi Indonesia sekarang. Adakah satu orang di dalam organisasi Anda yang menekuni profesi sebagai penulis? Melihat jumlah penulis Kristen yang ada di Indonesia, saya bisa jamin bahwa jawabannya tidak ada. Mungkin ada tapi jumlahnya tidak lebih dari 10%. Bahkan 10% terlalu banyak.

Pembaca Gloria yang dikasihi Tuhan, pelayanan literatur, pelayanan menulis memiliki dampak yang sangat luar biasa. Saya melihat banyak gereja sudah berani berinvestasi dengan menyediakan alat-alat multimedia yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Sayangnya, hanya terpakai di hari ibadah saja, biasanya maksimal dua jam saat ibadah dimulai hingga selesai. Itu pun hanya dipakai untuk memperindah tayangan lagu ataupun ayat khotbah. Wow… sungguh sangat disayangkan… Apalagi jika sudah berinvestasi dengan alat berupa kamera video yang per kamera mencapai Rp 30 juta tetapi tidak digunakan maksimal. Pernahkah Anda memikirkan membuat film pendek dan itu bisa dijual sehingga dapat membiayai pelayanan? Mungkinkah? Sangat mungkin, sayangnya banyak gereja melewatkan kesempatan itu. Padahal kalau mau, film pendek tersebut dapat ditayangkan ke banyak negara dan memberkati banyak orang.

Sayangnya lagi, banyak gereja tidak berani berinvestasi pada sumber daya manusia dengan mengikutkan mereka ke dalam pelatihan-pelatihan yang menunjang. Apalagi jika harga pelatihan mencapai jutaan rupiah, biasanya akan disarankan untuk belajar sendiri. Tak heran jika jumlah penulis Kristen sangat-sangat sedikit.

Secara pribadi, saya mengucapkan terima kasih untuk para pembaca Gloria yang sudah mengirimkan data melalui sms maupun email. Anda akan menerima e-book gratis dari saya sebelum kita merayakan Natal 2008. Kiranya e-book tersebut dapat memberikan pencerahan untuk Anda bertanya kepada Tuhan. Melalui rubrik ini, saya akan memberikan pemahaman baru tentang pelayanan menulis, multimedia yang bisa memberikan dampak yang dapat Anda rasakan. Mulai tahun depan, bekerjasama dengan Tabloid Gloria, akan diadakan pelatihan-pelatihan dan seminar yang mendukung. Nantikanlah!

Ditulis oleh Ellen Pantouw dan dimuat di Tabloid Gloria

Menulis = Memberitakan Firman

Beritakan Firman tanpa harus menjadi pendeta!

Selama ini, profesi pemberita Firman selalu dikaitkan dengan profesi pendeta dan penginjil. Bagaimana dengan Anda yang bukan pendeta dan penginjil? Menurut saya, kalau kita ingin memberitakan Firman Tuhan tidak harus menjadi pendeta dan penginjil. Ada banyak cara yang saya yakin Anda pasti sering mendengarnya di khotbah di gereja. Oke, saya tidak mau mengkhotbahi Anda tapi saya ingin Anda tahu bahwa dengan menulis, Anda pun memiliki kesempatan untuk memberitakan Firman Tuhan.

Apakah itu berarti kita harus mampu untuk menghafalkan ayat-ayat di dalam Alkitab? Kalau Anda mampu untuk menghafalkannya, ini sangat bagus dan membantu Anda untuk melengkapi tulisan Anda dengan cepat. Jika Anda tidak mampu untuk menghafalkannya, jangan buat diri Anda stress karena masalah kecil ini. Ada teknologi yang dapat membantu Anda untuk menemukan ayat dengan cepat. Ada banyak software Alkitab yang dapat Anda gunakan di komputer atau ponsel Anda. Semua teknologi tujuannya membantu kita menemukan ayat dengan cepat.


Lagipula dalam tulisan populer yang dimuat di media umum, Anda tidak harus menuliskan ayat. Lebih tegas lagi, Anda sebaiknya tidak menuliskan ayat, misal Kejadian 1:1. Mengapa? Saya bukan anti ayat tapi kita perlu bijak dalam menulis dan memerhatikan siapa pembaca kita. Bukankah lebih baik kita memasukkan nilai Kristiani di dalam tulisan daripada ayat yang tidak dipahami banyak orang? Lain halnya jika Anda menulis untuk materi pendalaman Alkitab atau materi kuliah teologi yang perlu menganalisa ayat demi ayat. Jadi, perhatikan siapa pembaca kita!


Berikan nilai-nilai ajaran Yesus di dalam tulisan Anda! Bukan berarti Anda harus memasukkan sebuah ayat ke dalam sebuah tulisan. Ada begitu banyak nilai ajaran Yesus yang dapat Anda tuliskan sehingga tulisan Anda memberkati dan mencerahkan pembacanya. Misal, Anda dapat menuliskan tentang kekuatan pengampunan yang dianalisa dari berbagai segi. Anda tidak perlu menuliskan ayat Firman Tuhan. Saat Anda menulis tentang pengampunan dan mengajak pembaca untuk mau mengampuni maka secara tak langsung Anda sudah ‘berkhotbah’ atau membagikan nilai-nilai ajaran Yesus.


Mudah bukan? Inilah salah satu cara memberitakan Firman Tuhan tanpa harus menjadi pendeta. Menulislah dan beritakan Firman Tuhan!


Ellen Pantouw

Monday, December 8, 2008

SATU-SATUNYA DAN PERTAMA DI INDONESIA!!!


Belajar Menulis Rohani Online, GARANSI 100% UANG KEMBALI


Di kota mana sekarang Anda berada? Muliakan nama Tuhan dan tambah uang saku Anda melalui tulisan dimanapun Anda berada! Tuliskan laporan kegiatan gereja, kesaksian, opini, renungan dan sebagainya, Anda akan menerima berkat DOBEL. Tulisan Anda akan memberkati orang-orang yang tidak Anda kenal, dimanapun mereka berada. "Bagaimana caranya, saya tidak pintar menulis?" Inilah jawabannya... Segera hadir, satu-satunya dan pertama di Indonesia! Belajar menulis rohani secara online dan bergaransi uang kembali 100%. Di manapun Anda berada, dalam dan luar negeri bisa mengikuti kursus online ini. Anda, jemaat, pengerja gereja, penginjil, pendeta, misionaris perlu mengikuti kursus ini.

Dapatkan panduan yang akan membuka rahasia betapa mudahnya menulis hal-hal rohani yang terjadi di sekitar kita. Anda juga akan tahu bagaimana cara menambah uang saku Rp 200-300 ribu setiap bulan hanya dengan menulis berita rohani. Ada banyak bonus panduan seperti "Cara Jitu Menaklukkan Majalah/Tabloid/Renungan Rohani" agar tulisan Anda dapat dimuat. Panduan berupa electronic book (e-book) ini ditulis oleh penulis profesional, Ellen Pantouw berdasarkan perpaduan antara teori dan pengalaman selama 12 tahun menulis.

E-book ini tidak gratis! Anda harus berinvestasi! Jangan kuatir, ada garansi 6 bulan, uang kembali 100% jika Anda tidak mendapatkan sepeser pun dari hasil tulisan Anda. Tidak ada salahnya jika Anda mengambil kesempatan ini. Toh jika memang selama 6 bulan Anda sudah menulis dan tidak mendapatkan uang, maka biaya investasi Anda akan dikembalikan 100%. Berapa investasinya? Masih rahasia... Ikuti pengumuman selanjutnya hanya di Tabloid Gloria atau http://onebooklife.co.cc.

Sebelum kursus menulis rohani online pertama di Indonesia ini dibuka perdana, ada satu bonus e-book untuk Anda, pembaca setia Tabloid Gloria. E-book "Rahasia Kedahsyatan Pelayanan Menulis yang Mengguncang Dunia" akan diberikan gratis kepada Anda yang mengirimkan email berisi nama lengkap, usia dan kota Anda ke onebooklife@gmail.com. Tunggu apalagi?




















MENULIS ITU SANGAT MUDAH (SEKALI)


"Menulis itu sulit?" "Kata siapa...?"


Semua teman yang saya jumpai sering memiliki paradigma bahwa menulis merupakan hal yang sangat sulit. Mungkin dalam bayangan mereka, menjadi penulis harus duduk berjam-jam di belakang meja komputer. Atau zaman dulu ketika komputer belum semarak sekarang, yang ada di bayangan mereka, penulis duduk berjam-jam di belakang mesin ketik. Ada setumpuk kertas kosong, tempat untuk menerima hasil ketikan. Juga, ini yang tak lupa, ada tong sampah di bawah meja yang penuh dengan kertas berisi hasil ketikan yang salah. Suasana sepi, tidak ada musik sampai hewan cicak puasa bersuara.

Apakah hal ini yang ada di bayangan Anda sekarang? Pantas saja kalau Anda tidak menyukainya dan mengatakan menulis itu sulit. Kalau kondisinya seperti itu, saya pun ogah menjadi penulis. Mengapa? Lha iya lah, kan kita bisa jadi kuper alias kurang pergaulan juga bisa dikatakan sebagai orang aneh.

Sekarang coba bayangkan pengalaman saya dalam menulis. Menulis membawa saya bertemu dengan tokoh-tokoh yang tidak dapat ditemui oleh anggota masyarakat biasa. Artis? Hmmm… kalau Anda menjadi jurnalis, Anda akan menganggap bertemu artis seperti bertemu tetangga.
Menulis juga telah membawa saya keliling Indonesia kalau mau diurut dari Sabang sampai Merauke. Menulis telah membawa kaki saya ke Nias, Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Jombang, Malang, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, Manado, Bali, Kupang, Biak, Nabire dan Jayapura. Luar negeri? Singapura telah saya lewati. Memang untuk luar Indonesia, saya belum menginjak banyak negara. Setidaknya, saya memiliki kepuasan sendiri telah diberi kesempatan berkeliling ke pulau-pulau di Indonesia dalam usia muda. Tertarik?

Oke, itu baru sebagian kecil manfaat yang saya dapatkan dari menulis. Jika Anda mengikuti terus rubrik ini, saya akan memaparkan manfaat apa saja yang bisa Anda dapatkan dari menulis secara lahir dan batin.

Saat ini saya ingin mengatakan bahwa menulis sangat mudah sekali. Jangan pernah mengatakan sulit! Hal apapun, bidang apapun bisa Anda tulis—jika Anda tahu caranya. Tidak percaya? Coba cek di toko buku umum yang terkenal di kota Anda! Sebutkan semua bidang kehidupan Anda! Carilah di toko buku apakah ada bidang kehidupan yang tidak ada bukunya. Kalau tidak ada, catat baik-baik dan buat daftarnya. Sekarang, silakan akses toko buku online terbesar di dunia, Amazon dot com. Ubah bidang yang ingin Anda cari dalam bahasa Inggris, cari di Amazon, pasti akan ada daftar bukunya.

Apa yang ingin saya tunjukkan di sini? Satu hal, menulis itu sangat mudah sekali. Bidang apa yang Anda kuasai atau tekuni? Berpikirlah untuk membuat artikel, buku mengenai bidang yang Anda kuasai. Anda tidak harus menjadi super power untuk menjadi penulis. Anda tidak harus kuliah untuk menjadi penulis. Asalkan mau, Anda pasti bisa!

Ditulis oleh Ellen Pantouw dan dimuat di Tabloid Gloria terbit 30 November 2008


Monday, November 17, 2008

Pernak - Pernik Blog

Hari ini saya baru sempat utak-atik blog agar terlihat lebih cantik. Diantaranya bisa dilihat di kolom kanan. Saya menggunakan layanan gratisan yang tersedia di dunia maya. Salah satunya OGGIX dot com yang menyediakan pernak-pernik blog cukup banyak. Blog ONE.book.LIFE ini banyak menggunakan layanannya, diantaranya pernik 'shoutbox', tempat Anda untuk berkomentar.

Kalau blog Anda belum tersedia pernak-pernik blog, kunjungi saja oggix dot com. Anda harus registrasi dulu dan akan ada konfirmasi melalui email. Tunggu sampai email konfirmasi muncul lalu login ke oggix. Pengalaman saya, jika konfirmasi melalui email belum ada, kita tidak bisa login. Mungkin saya terburu-buru kalee ya...

Hal menarik untuk layanan shoutbox oggix, kita bisa mengganti setting warna dasar, warna tulisan sampai warna link. Jadi, kita bisa menyesuaikan dengan warna blog kita. Selain itu juga ada layanan anti spam. Ini untuk menghindari kiriman spam dari blogger yang menggunakan 'mesin massal'. Jadi, blogger yang ingin berkomentar harus memberikan konfirmasi kode yang tercantum di situ. Asyik kan? Percantik yuk blog Anda...

Thursday, November 13, 2008

Bumi Tanpa Buku Primbon, Apa Jadinya?

"Hmmm..." Apakah itu yang terucap di dalam hati atau pikiran Anda? Oh ya, Anda yang belum tahu buku primbon, berikut definisi dari Wikipedia online. Primbon adalah baik buruknya menurut perhitungan Jawa. Pernah dengar iklan di televisi seperti: "Ini Selasa kliwon, tidak cocok buat kamu untuk berhutang" atau "Kamu tidak cocok jadi karyawan, cocoknya jadi pengusaha".

Iklan itu memang mengocok perut saya. Bukan karena primbonnya tapi tampilannya yang kaku mengundang tawa. Beberapa teman menjadikannya sebagai lelucon. Pada messenger di gmail (google mail), teman sayan menuliskan begini: "Ini Senin pahing, tidak cocok bagi kamu untuk bekerja". Tentu saja teman saya bercanda, bukankah hari Senin termasuk dalam hari kerja?

Buku primbon dapat dikatakan sebagai buku pedoman hidup dalam budaya Jawa. Segala sesuatu diukur dari primbon, jika tidak melaksanakan bisa sial atau terkena musibah. Hampir semua suku bangsa di bumi memiliki buku pedoman hidup menurut budayanya. Mereka sangat mempercayainya agar dapat hidup tenang dan sejahtera.

Mengapa ada buku pedoman hidup? Hanya ada satu jawaban. Manusia tahu ada kekuatan lain di luar dirinya yang tarik menarik antara jahat dan baik. Kala kekuatan jahat menang maka musibah datang, seperti kegagalan, sakit penyakit dan sebagainya. Kala kekuatan baik memenangkan pertempuran maka ada kesejahteraan, kemakmuran, kesehatan dan sebagainya. Manusia memahami bahwa mereka lebih menyukai keadaan saat kekuatan baik memenangkan pertempuran bisa hidup damai. Buku pedoman kehidupan hadir sebagai petunjuk agar manusia bisa hidup damai dan sejahtera.

Siapa penulis buku primbon? Tentunya orang-orang terdahulu yang sudah menelan asam garam kehidupan. Mereka mau menuliskan pengalaman hidupnya dengan harapan agar kehidupan anak cucu lebih baik.

Buku “Primbon” Orang Kristen

Kita, anak-anak Tuhan juga mengenal buku "primbon". Alkitab yang kita baca adalah buku petunjuk kehidupan. Hebatnya lagi, Alkitab merupakan satu-satunya buku petunjuk kehidupan yang berbicara mengenai penciptaan hingga berakhirnya dunia. Kalau tidak ada Alkitab, kita tidak akan mengetahui kekuatan Tuhan yang sanggup membuat jalan darat di tengah lautan saat peristiwa Israel melarikan diri dari kejaran musuhnya. Tanpa Alkitab, kita tidak akan mengetahui penyertaan Tuhan atas Yusuf, dari seorang budak menjadi penguasa Mesir. Tanpa Alkitab, kita tidak akan mengetahui bahwa kita memiliki Juruselamat bernama Yesus Kristus.

Siapa penulis Alkitab? Banyak orang. Alkitab tidak ditulis oleh satu orang. Orang-orang yang telah diinspirasi oleh Roh Kudus untuk menuliskan kejadian demi kejadian maupun nubuatan dan penglihatan untuk generasi yang hidup hari ini maupun akan datang. Apa jadinya hidup kita tanpa Alkitab? Kita akan mengulangi kesalahan-kesalahan generasi sebelumnya. Manusia akan berjalan berulang-ulang pada posisi tersebut dan peradaban ini tidak akan pernah maju.

Pencipta kita telah memikirkan koordinasi sebuah pekerjaan luar biasa yang membawa dampak lintas generasi. Alkitab yang kita baca dapat diibaratkan kumpulan artikel dari para pelaku maupun pengamat. Para pelaku adalah orang-orang yang mengalami seperti Daud yang memiliki pengalaman bersama Tuhan sehingga bisa menuliskan Mazmur Daud. Maksud dari pengamat adalah orang-orang yang tidak mengalami langsung namun mereka melihat atau mengamati kejadian-kejadian yang terjadi di masa itu. Bisa Anda bayangkan kehebatan kumpulan artikel bernama Alkitab? Sebuah artikel di Alkitab bisa membawa perubahan bagi kita. Sebuah ayat saja dapat membawa kesejukan bagi jiwa yang gelisah.

Tinggalkan Jejak Bagi Generasi Mendatang

Bayangkan bila kita yang hidup saat ini mau menuliskan satu artikel untuk generasi mendatang. Puji syukur jika kita bisa meninggalkan sebuah buku sebelum hembusan napas terakhir. Sebuah buku yang dapat memberkati generasi saat ini dan mendatang. Sulitkah? Sama sekali tidak. Mulai saja dengan langkah sederhana. 1.000 kilometer selalu dimulai dengan kilometer pertama. Anda pasti menyetujui pendapat ini kan?

Satu buah artikel jika Anda menuliskannya dengan kesungguhan hati dan berkat dari-Nya, dapat memberkati pembaca. Bahkan sebuah cerita anak dapat memberkati seorang pengusaha. Tidak percaya? Inilah pengalaman pribadi saya tatkala masih menjadi jurnalis di Tabloid Gloria sekitar tahun 2002.
Saat itu saya diberi kepercayaan bertanggungjawab di rubrik Anak Tabloid Gloria. Sekian lama mengolah rubrik, saya berada pada titik kejenuhan. Saya pun berdoa, "Tuhan, kiranya beri petunjuk jika artikel-artikel di rubrik ini memberkati para pembaca Tabloid Gloria." Jawaban Tuhan memang tidak datang saat itu juga.

Suatu ketika saya mengunjungi seorang pengusaha yang berniat untuk memasang iklan di Tabloid Gloria. Saat bercakap-cakap, ibu ini mengatakan bahwa Tabloid Gloria sangat memberkati dirinya. Ketika tokonya yang berada di lantai dasar sebuah mall ini sedang sepi pengunjung, ibu tadi menyempatkan diri membaca Tabloid Gloria. Apa yang dia katakan? Ibu ini memaparkan bahwa ketika hatinya sedang capek karena bisnis sepi, dia membaca Tabloid Gloria dan membuka rubrik anak. Sebuah kisah Alkitab yang dituliskan dengan gaya bahasa anak justru memberkati dan menguatkan imannya. Wow... saya sungguh girang. Apa artinya? Berarti artikel yang saya tuliskan tidak sia-sia. Kata-kata yang meluncur dari mulut ibu tadi seakan membawa semangat baru bagi saya untuk tetap menulis.

Sederhana bukan? Selama kita masih diberi nafas kehidupan, marilah kita berkomitmen untuk meninggalkan catatan yang dapat memberkati generasi mendatang. “Apa saja catatan itu?” “Rumitkah?” “Profesi saya bukan penulis.” Jawaban saya hanya satu, simak Tabloid Gloria mendatang. Saya akan memberikan catatan-catatan apa yang dapat Anda tinggalkan bagi generasi mendatang. Sangat sederhana dan mudah karena menulis itu mudah.

Tuesday, November 11, 2008

Mengapa Ada Komunitas ONE.book.LIFE?


Mengapa saya membentuk ONE.book.LIFE dalam sebuah komunitas? Kok bukan kursus menulis biasa? Jawabannya adalah karena kita perlu suatu komunitas yang dapat mendukung kita. Melalui komunitas, kita bisa menemukan teman-teman yang satu visi dan misi sehingga kita bisa belajar berbagi dan mengembangkan diri.

Saya bisa saja hanya mengadakan kursus menulis. Namun kalau Anda tidak menemukan komunitas untuk bertumbuh, sia-sia saja kursus menulis yang Anda ikuti. Seberapa seringnya Anda mengikuti kursus menulis, seminar menulis, seminar jurnalistik, semua itu tidak menjadikan Anda sebagai seorang penulis.

Mengapa bisa begitu? Percayalah, saya mengalaminya sendiri. Talenta menulis saya bisa bertumbuh sejak SMA karena ada komunitas. Saat SMA, saya menemukan komunitas di sebuah harian lokal di Surabaya. Saat kuliah, saya menemukan komunitas di kampus saya. Pada semester 6, saya menemukan komunitas baru yaitu di Tabloid Rohani Gloria, tatkala saya masih menjadi wartawan Tabloid Gloria. Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan karena IA sudah memberikan saya komunitas-komunitas yang bisa menumbuhkan talenta.

Apakah ada perbedaan antara ada komunitas dengan tidak ada? Tentu saja, jika tidak ada perbedaan, untuk apa saya membentuk komunitas. Begini, semenjak kuliah hingga hari ini, saya sudah sering memberikan training jurnalistik kepada gereja maupun sekolah kristen/katolik baik di pulau Jawa maupun luar Jawa. Satu hal yang saya perhatikan adalah kebanyakan di gereja tidak memiliki komunitas yang seharusnya bisa melakukan follow up dari training jurnalistik. Lain halnya dengan sekolah yang 100% memiliki komunitas berupa ekstrakurikuler maupun klub jurnalistik. Hasilnya? Ya, sebagaimana kita bisa melihat keadaan di Indonesia hari ini. Penulis-penulis kristen/katolik sudah terbilang jarang. Jikalau masih ada, kebanyakan juga termasuk generasi lama yang (maaf) secara usia sudah mencapai 55 tahun ke atas.

Saya menyadari bahwa banyak juga orang-orang yang terpanggil untuk membentuk pelayanan menulis dan jurnalistik ini. Satu tahun terakhir, saya bertemu dengan rekan-rekan pelayanan di Surabaya dan Jakarta yang ingin membuat satu bidang pelayanan jurnalistik. Saran saya saat itu adalah perlu memikirkan adanya media internal sebagai tempat untuk berlatih. Tidak perlu rumit, bisa berupa buletin yang di-print atau jika ada dana, bisa berupa majalah.

Entah sudah berapa kali saya selalu menekankan pentingnya sarana berlatih untuk mereka yang sudah mengikuti training menulis atau jurnalistik. Sayangnya, sebagian besar gereja atau lembaga pelayanan hanya menekankan para anggotanya untuk mengikuti training jurnalistik semata. Hasilnya? Entah berapa banyak para (calon) penulis yang berguguran karena tidak ada sarana latihan. Hal ini sungguh sangat disayangkan, tak heran jika Indonesia kekurangan anak-anak Tuhan yang profesional di bidang ini.

Melihat kondisi tadi, saya terpanggil untuk membagikan pengalaman menulis saya kepada Anda yang memang mau belajar menulis. Saya berharap komunitas ini bisa memunculkan penulis-penulis muda yang takut akan Tuhan. Komunitas ini terbuka untuk perseorangan maupun kelompok atau lembaga dari denominasi apapun.

Anda yang ingin bergabung di komunitas ONE.book.LIFE harus memiliki komitmen untuk menerbitkan (minimal) satu buku selama Tuhan masih memberikan nafas kehidupan.

Monday, November 10, 2008

Siapa ONE.book.LIFE?

Komunitas ini memang baru berdiri di bulan Nopember. Tepat pada hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10. Hari Pahlawan memang saat yang tepat untuk memperingati jasa-jasa para pahlawan dan pejuang kemerdekaan yang gugur di medan tempur merebut kemerdekaan yang kita nikmati saat ini.

Bukan kebetulan pula jika komunitas ONE.book.LIFE didirikan pada hari ini (tepat juga saat saya membuat blog ini :)

Apa itu ONE.book.LIFE? Ini adalah sebuah komunitas buat orang awam yang memiliki komitmen untuk (minimal) menerbitkan satu buku selama Tuhan masih memberi nafas kehidupan. Wow... berat... berat...? Hmm, tidak berat asalkan memang ada kemauan dan mau berkomitmen.

Mengapa satu buku? Begini, komunitas
ONE.book.LIFE merupakan jawaban atas kerinduan dan pergumulan saya selama ini. Oleh karena anugerah Tuhan, saya sudah mengenal dunia jurnalistik semenjak duduk di bangku SMA. Ternyata saya menemukan talenta yang Tuhan berikan di jurnalistik. Alhasil, saya menekuninya hingga lulus kuliah. Bahkan, saya sempat menerbitkan beberapa buku baik saya sebagai penulis, co-writer maupun editor.

Sepanjang
perjalanan saya bersama Tuhan dan menekuni talenta yang Tuhan beri, saya menemukan betapa pentingnya kita sebagai anak Tuhan untuk membuat jejak kehidupan dalam bentuk-bentuk yang dapat diberikan kepada generasi penerus.

Jejak kehidupan di sini memang dapat berupa buku maupun audio visual.
ONE.book.LIFE memang lebih concern untuk membantu Anda yang masih awam dalam dunia perbukuan untuk menerbitkan buku secara printing atau cetak atau e-book (buku dalam bentuk digital).

Buku yang Anda tulis nantinya boleh diterbitkan untuk umum maupun hanya untuk kalangan keluarga, saudara, rekan pelayanan yang terdekat saja. Itu terserah Anda! Tapi melalui komunitas
ONE.book.LIFE ini, saya akan membagikan pengalaman saya dalam menulis hingga saya dapat menekuninya sebagai profesi. Jadi, sharing yang akan diberikan ini bukan teori tetapi saya sudah mempraktekkannya.

Menurut saya, setiap kita yang sudah ditebus oleh darah Yesus, setiap kita yang masih boleh menarik nafas kehidupan ini, sudah selayaknya kita memberikan catatan pengalaman kita bersama Tuhan supaya kelak generasi mendatang boleh mengenal nama Yesus.