Jumlah pendeta di Indonesia sangat banyak. Munculnya berbagai sinode baru semakin menambah jumlah pendeta. Hasil karya lisan dapat kita dengar setiap minggu melalui khotbah. Akan tetapi hasil karya tulisan sangat jarang bahkan bisa dihitung dengan jari.
Sebelum Anda membaca lebih lanjut artikel ini, saya ingin mempertegas bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk menimbulkan ketidakdamaian. Juga tidak ada maksud untuk memperolok pihak tertentu. Saya menulis ini dengan tujuan untuk mengkritisi penyebab kemandulan pelayanan menulis di gereja.
Berapa banyak karya buku yang dihasilkan oleh pendeta Indonesia? Tidak banyak. Anda boleh cek ke penerbit manapun, para pendeta di Indonesia sangat jarang mengeluarkan karya buku. Kalaupun ada, kita akan mendengar beberapa nama yang tidak sampai hitungan pada jari kesepuluh. Hanya ada satu pendeta yaitu pendeta Eka Darmaputera yang suka menulis, sayangnya beliau sudah almarhum. Tulisannya tidak hanya termuat di surat kabar skala nasional tetapi kita juga bisa membaca buku-buku besutan Eka Darmaputera.
Mungkin karya buku masih berada di dalam ruang lingkup yang besar. Bagaimana kalau berapa banyak karya tulis dari pendeta Indonesia? Ternyata tidak banyak juga bahkan cenderung susah meminta seorang pendeta untuk menulis. Perihal ini, Anda boleh menanyakan ke redaksi-redaksi majalah dan tabloid rohani seperti tabloid Gloria. Mereka akan menceritakan betapa susahnya meminta seorang pendeta untuk menulis. Kawan-kawan di redaksi harus giat ‘mengejar’ pendeta untuk menulis. SMS untuk mengingatkan, telepon untuk menagih tulisan. Susah sekali. Sangat mudah apabila kita meminta pendeta untuk khotbah. Tidak perlu ‘dikejar-kejar’.
Sangat disayangkan kalau pemberitaan Injil hanya melalui mimbar saja pada hari Minggu. Pemberitaan Firman Tuhan melalui lisan, hanya dapat diingat oleh jemaat sebesar 20% saja. Angka 20% merupakan hasil penelitian tentang seberapa besar manfaat komunikasi lisan yang dapat diterima oleh pendengarnya. Itu sebabnya mengapa para siswa dan mahasiswa diminta untuk mencatat paparan dari guru dan dosen. Mencatat akan menambah daya serap materi yang diberikan oleh guru dan dosen.
Kebanyakan jemaat hanya mendengarkan Firman Tuhan tanpa mencatat. Saat kebaktian, materi yang dapat diingat jemaat hanya 20%. Usai kebaktian, biasanya jemaat berbondong-bondong datang ke kantin gereja untuk makan dan minum, berinteraksi dengan jemaat lain. Pulang ke rumah, yakinkah Anda bahwa materi 20% yang diingat jemaat tidak akan berkurang lagi? Itulah sebabnya para pendeta perlu menulis juga. Khotbah yang disampaikan pada hari Minggu belum cukup untuk meningkatkan kedewasaan rohani para jemaat.
Perhatikan dampak dari sebuah tulisan seorang pendeta di media cetak atau membuat karya buku. Seorang jemaat Anda membeli buku atau majalah atau tabloid yang memuat tulisan Anda. Usai membaca dan ia merasa mendapatkan berkat maka ia akan berbicara kepada teman-temannya. Ia akan merekomendasikan media cetak tersebut untuk dibaca oleh teman-temannya. Kalau teman-temannya mendapatkan berkat juga maka mereka akan merekomendasikan teman-temannya yang lain untuk membaca, demikian seterusnya.
Sebuah tulisan Anda dapat dibawa jemaat ke berbagai tempat kemanapun kaki mereka melangkah. Mereka bisa membawanya ke kampung halaman, ke negeri tetangga atau kemanapun mereka pergi. Kalau Anda hanya berkhotbah maka khotbah Anda hanya didengarkan jemaat saja. Ketika Anda menulis, maka tulisan Anda bisa melanglang buana dan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah Anda jangkau selama hidup.
Mungkin ada yang berkomentar begini: “Khotbahnya kan bisa direkam dan kasetnya bisa dijual atau dibagi-bagikan.” Itu bagus tetapi saya yakin tidak semua gereja memiliki alat perekam khotbah. Lebih tepatnya, tidak semua gereja juga memiliki kemampuan untuk membeli alat perekam khotbah. Melalui tulisan, Anda tidak perlu membeli alat perekam khotbah. Tulisan merupakan sebuah alat penginjilan yang murah meriah. Para pembaca tulisan Anda pun tidak perlu investasi sebuah tape untuk mendengarkan kaset khotbah. Cukup ada penerangan, langsung baca. Murah kan?
Kita yang tinggal di perkotaan mungkin berpikir bahwa harga sebuah tape itu murah. Kita perlu ingat juga bahwa yang butuh penginjilan, pengayaan Firman Tuhan bukan hanya orang kota. Bahkan di perkotaan pun masih ada jemaat yang tinggal di bawah garis kemiskinan. Makan saja masih susah apalagi membeli kaset khotbah berikut tape beserta baterainya. Jelas saja alat sederhana itu tidak mungkin akan terbeli. Jadi, melalui tulisan, Anda berinvestasi secara murah, jemaat pun juga sama.
TULISAN PENDETA DITOLAK REDAKSI
Salah satu alasan mengapa pendeta jarang menulis adalah tulisannya sering ditolak redaksi majalah dan tabloid serta penerbit buku. Sayangnya banyak yang putus asa dan tidak mau melanjutkan atau bertanya secara aktif mengapa tulisannya tidak dimuat. Padahal kita bisa menanyakan kepada redaksi atau penerbit buku, mengapa mereka menolak tulisan kita.
Mengapa redaksi dan penerbit menolak tulisan Anda? Saya memerhatikan seringkali para pendeta saat menulis sebuah tulisan menyamakan dengan membuat khotbah. Taburan ayat menghiasi dari paragraf pertama hingga akhir. Viuw… Saya pernah mengedit tulisan renungan seorang pendeta. Bayangkan, ada 17 ayat di dalam tulisan renungannya! Tulisan renungan itu tidak panjang, biasanya maksimal ½ halaman. 17 ayat ada di dalam tulisan renungan ditambah lagi ada 2 ayat yang dijabarkan atau ditulis. Wah, ini sama saja dengan memindahkan ayat di Alkitab ke dalam tulisan. Tentu saja, tulisan ini tidak berbobot. Kalau hanya memindahkan ayat dari Alkitab ke tulisan, ya, anak kecil pun bisa.
Menulis untuk dikirimkan ke majalah dan tabloid rohani berbeda dengan membuat khotbah. Pencantuman ayat-ayat sebisa mungkin dihindari. 1-3 ayat boleh saja dicantumkan untuk mempertegas tulisan Anda. Mengapa? Majalah dan tabloid rohani di Indonesia kebanyakan bersifat popular (bukan popular dengan makna terkenal). Artinya, disajikan dengan gaya bahasa umum yang sederhana dan enak dibaca.
Berbeda jika Anda mengirimkan tulisan untuk jurnal kristiani atau materi sekolah teologia. Tentu saja pengayaan ayat harus diperbanyak. Anda juga akan menemukan banyak ayat sebagai perbandingan. Pembaca Anda adalah orang-orang yang ingin mendalami Firman Tuhan secara ilmiah.
Sementara majalah dan tabloid rohani dibaca oleh orang awam yang kebanyakan kurang memahami pengayaan Firman Tuhan secara ilmiah. Pembaca awam kebanyakan ingin mendapatkan informasi secara aplikatif. Bagaimana mengaplikasikan Firman Tuhan ke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya.
Jika tulisan Anda bertaburkan ayat, tentu saja akan ditolak oleh redaksi. Mengapa redaksi menolak? Jujur saja, karena pembacanya tidak suka membaca tulisan seperti itu. Jadi, sesuaikan tulisan Anda dengan media cetaknya. Anda tidak bisa idealis seperti begini: “Saya pendeta dan saya menulis harus banyak ayat.” Anda akan lelah sendiri karena tulisan Anda akan ditolak oleh redaksi. Lagipula, seperti kata saya sebelumnya, pembaca tidak begitu suka membaca karya Anda. Saya ingin lebih mempertegas lagi, cobalah tanya ke jemaat Anda, berapa orang yang akan membuka Alkitab dan membaca ayat-ayat di tulisan Anda yang dimuat di media cetak. Saya jamin tidak banyak. Singkatnya, ayat yang terlalu banyak di artikel popular akan dilewatkan pembacanya. Atau sekedar tahu saja, ayatnya di sini tapi mereka tidak akan membuka Alkitab.
Sesuaikan tulisan Anda dengan medianya. Bukankah lebih baik kita menggunakan gaya bahasa sederhana supaya para petani bisa memahami maksud kita? Daripada menggunakan bahasa ilmiah tetapi para petani tidak memahaminya? Mana yang Anda pilih? Para pendeta, marilah belajar menulis! Hiasi media di dunia ini dengan karya tulis Anda!
Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 450 (April 2009)
Ellen Pantouw
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comment:
Klo alasannya karena ayat2, kan editor tinggal mengedit ayatnya saja ;D
Post a Comment