Sunday, May 10, 2009

Ikuti Pelatihan “Belajar Menulis Rohani” Angkatan 3”:


Bukan Bicara Teori tapi Langsung Praktek

Banyak orang mengakui kesulitan untuk menulis. Banyak belajar teori menulis bukan berarti bisa menulis.

Pelatihan yang diadakan ‘de writer learning sangat mudah diikuti. Setelah mengikuti pelatihan, Anda akan menyadari bahwa menulis sangat mudah. Siapa yang bisa mengikuti pelatihan? Siapapun yang ingin belajar menulis. Siapapun diri Anda, apapun profesi dan pekerjaan Anda, apapun latar belakang pendidikan, jika memiliki kerinduan menulis, segera daftarkan diri Anda. Pelatihan “Belajar Menulis Rohani” angkatan 1 dan 2 diikuti para peserta dari berbagai macam profesi. Ada gembala jemaat, pendeta, majelis gereja, ibu rumah tangga, profesional, karyawan dan pensiunan. Lokasi para peserta pun berjauhan, ada yang di Surabaya, Jawa Tengah, Jakarta, Medan, Palu hingga ujung pulau Indonesia yaitu Papua. Peserta dari Papua ada yang dari Timika, Fakfak, Sorong. Tak lupa juga ada pembaca Tabloid Gloria dari Hongkong yang sedang mengikuti pelatihan ini.

Program menulis yang disediakan ada 4 yaitu:
1) Program Opini
Ada pendapat yang ingin Anda utarakan di media cetak? Anda suka menulis tulisan refleksi? Ingin menulis di rubrik Refleksi Tabloid Gloria? Kelas Opini akan mengajarkan kepada Anda bagaimana caranya!
2) Program Kesaksian
Banyak kesaksian di sekitar kita yang dapat kita tuliskan dan menjadi berkat. Tahukah Anda bahwa tulisan kesaksian sangat disukai anak-anak Tuhan? Tulisan kesaksian juga selalu dicari media cetak rohani termasuk di Tabloid Gloria! 
3) Program Renungan 
Berapa jumlah buku renungan di Indonesia? Anda ingin tahu bagaimana mudahnya membuat renungan? Ikuti kelas ini, siapkan diri Anda! 
4) Program Liputan
Banyak acara gereja di sekitar kita, seminar, retreat, lokakarya, KKR dan sebagainya. Pasti Anda pernah mengikutinya.Jangan hanya menjadi peserta, sekarang saatnya Anda membagikan berkat ke orang lain? Ikuti program ini!

Fasilitas:
1. Modul berupa buku. Isi buku bukan hanya teori tetapi juga bagaimana praktek menulis, trik-trik menulis serta pengalaman pribadi mentor.
2. Mentoring per individu selama masa kursus melalui email dan sms 24 jam.
3. Gratis jasa editing tulisan Anda untuk mempercantik tulisan sebelum dikirim ke media cetak selama masa kursus.
4. Komentar dari mentor, evaluasi tulisan dan tips-tips penajaman tulisan Anda.
5. Tabloid Rohani Gloria satu edisi.

Benefit yang Anda peroleh, Anda akan memahami bagaimana cara membongkar semua hambatan menulis, mengendus tema-tema tulisan yang dapat diterima redaksi. Menguasai teknik menggali ide, menguasai cara-cara menembus redaksi majalah/tabloid rohani, mendapatkan alamat kontak media cetak rohani di Indonesia. Menguasai kiat menulis seraya menambah uang saku BULANAN, mengetahui cara menjadi koresponden, mengetahui bagaimana cara melayani dan menjadi berkat melalui tulisan lintas generasi dan lintas pulau. Serta mendapatkan teknik cara mengembalikan uang investasi kursus yang Anda keluarkan dengan menulis di media cetak rohani.

MENTOR: Ellen Pantouw, penulis buku rohani dan bisnis, konsultan penulisan dan penerbitan yang sudah berpengalaman lebih dari 12 tahun. Investasi per kelas Rp 350.000. Diskon 10% untuk yang mengikuti 2-3 kelas. Diskon 15% untuk 4 kelas sekaligus. Pendaftaran sebelum 22 Mei 2009 akan mendapatkan tambahan diskon 10% (berlaku semua kelas). Pendaftaran 22 Mei – 06 Juni berlaku harga normal. Kelas berlangsung selama 1 bulan, dimulai Selasa, 09 Mei 2009. Khusus bagi peserta dari Hongkong mundur 2 minggu. Biaya kirim melalui pos ditanggung peserta. Bingung memilih program? Konsultasi dan pendaftaran melalui sms 08123112218 atau email: onebooklife@gmail.com, simak pengumuman di Tabloid Gloria dan http://onebooklife.co.cc.


Tuesday, April 28, 2009

Mengapa Kita Lebih Terobsesi Baca Buku Pendeta Luar Negeri?

Kita selalu bangga dengan buku yang dikarang oleh pendeta dari luar negeri. Kita justru, tanpa disadari, tidak pernah bangga dengan karya buku pendeta Indonesia.

Berbicara soal mengapa kita lebih terobsesi membaca buku karangan pendeta luar negeri, itu memang tidak lepas dari budaya bangsa Indonesia. Coba lihat sekeliling kita! Kita lebih bangga menggunakan jas, blazer daripada menggunakan pakaian batik. “Batik untuk pak camat,” demikian guyonan yang sering dengar di telinga kita. Padahal dunia internasional memperebutkan hak penemuan kain batik. Kita malah sering tidak menggunakannya bahkan kalau perlu batik dibuang dari Indonesia dan diganti dengan pakaian gaya barat.
Apa lagi? Kita juga bangga makan makanan dari luar negeri, mulai dari jenis pizza, steak, burger dan sebagainya. Makanan dalam negeri seringkali menjadi terpinggirkan. Fenomena ini ternyata juga berpengaruh pada bahan bacaan atau buku yang kita baca. Kita lebih, boleh dibilang, sangat bangga dengan buku-buku terbitan dari luar negeri ketimbang buku-buku anak negeri.

“Mutu buku luar negeri berbeda dengan dalam negeri.” Alasan itu seringkali yang diungkapkan oleh penggemar buku-buku luar negeri. Ya, tentu saja karena negara Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Sementara negara-negara di Amerika dan Eropa sudah menjadi negara maju. Otomatis kemajuan ini juga di segala bidang, mulai dari cara berpikir, cara pandang hingga cara penyelesaian suatu masalah.

Kondisi tersebut boleh dibilang sudah menjadi budaya dan sudah biasa. Kondisi tersebut juga memiliki dampak terhadap gereja. Buku-buku terbitan dengan pengarang luar negeri selalu laris manis jika dibandingkan dengan buku hasil karya anak bangsa. Boleh ditanya ke penerbit manapun yang menerbitkan buku-buku rohani. Bahkan di Indonesia, ada beberapa penerbit rohani yang lebih suka untuk membeli hak terjemahan buku-buku yang dikarang oleh pendeta-pendeta terkenal di dunia. Penerbit-penerbit tersebut lebih mengkhususkan untuk menerbitkan buku-buku karangan pendeta luar negeri.

Apa yang menjadi alasannya? Tentu saja karena buku-buku karangan pendeta luar negeri laris manis ketika dijual di toko. Buku-buku karangan pendeta dalam negeri sangat susah menjualnya. Sebuah penerbit rohani terkenal di Indonesia bahkan tidak bersedia menerbitkan buku-buku pendeta dalam negeri karena pernah mendapatkan pengalaman susah menjual buku pendeta terkenal di Indonesia. Berhitung bisnis maka mereka memutuskan untuk tidak pernah menerbitkan lagi buku-buku karya pendeta dalam negeri. Itu pengalaman nyata yang saya alami saat membantu klien saya mencari penerbit rohani.

Sangat mengenaskan ya… bahwa ternyata penerbit rohani di Indonesia lebih mementingkan hitungan keuntungan daripada memikirkan untuk menumbuhkan potensi pendeta dan anak-anak Tuhan di Indonesia. Kalau penerbit rohani saja tidak mau, wah apalagi penerbit umum… (Anda bisa menjawabnya sendiri!)

Tak heran, kalau kita mau melihat pergerakan kegerakan umat Tuhan di Indonesia selalu diwarnai dari barat. Artinya, ada kegerakan baru di barat maka Indonesia mengikuti. Kegerakan baru lagi di negara barat maka Indonesia selalu mengikuti. Istilah, selalu mengekor, mengekor dan mengekor sehingga menyebabkan kita tidak lagi menjadi percaya dengan kemampuan diri sendiri. Kalau tidak mengekor dari barat rasanya kurang sreg.

Tuhan pasti memberikan kegerakan di setiap negara sesuai dengan waktu Tuhan. Yeremia 29:7 mengatakan: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Kalau kita sungguh-sungguh berdoa dan berbuat nyata bagi bangsa ini maka Tuhan akan memberikan kegerakan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kita tidak perlu susah-susah mengekor kegerakan-kegerakan dari barat yang belum tentu cocok diaplikasikan di Indonesia.

Budaya Indonesia dan barat tidak sama sehingga ada beberapa hal yang memang bisa diaplikasikan dan ada yang tidak. Justru yang harus kita ambil adalah perjuangan di balik lahirnya kegerakan-kegerakan jemaat Tuhan di barat. Bagaimana perjuangan mereka, bagaimana semangat mereka sehingga karya Tuhan bisa dinampakkan begitu nyata pada masyarakat dan negaranya. Bukannya mencontoh persis model kegerakannya lalu diaplikasikan secara mentah di Indonesia, yang belum tentu bisa diterima malah bisa menjadi perpecahan tersendiri.

GALI POTENSI PENDETA DALAM NEGERI
Indonesia tidak kalah dari luar negeri, dibuktikan dengan banyaknya anak Indonesia yang berhasil menjuarai pertandingan skala internasional dari berbagai bidang. Itu membuktikan Indonesia memiliki potensi yang dapat diperhitungkan di dunia internasional. Hanya saja karena kita terlalu lama dijajah sehingga pikiran kita selalu mengatakan bahwa barat is the best. Faktanya, belum tentu!

Memunculkan para penulis dari kalangan jemaat memang tidak mudah. Pelayanan penulis tidak populer di kalangan gereja. Peminat pelayanan musik sangat banyak sehingga banyak jemaat yang berbondong-bondong untuk mendaftar. Pendaftar pelayanan penulis sangat sedikit bahkan cenderung nol, itu yang menyebabkan tidak ada pelayanan penulis di gereja.

Menurut saya, dari berbagai pengalaman memberikan pelatihan jurnalistik antar pulau, asalkan kita bisa menggali dengan tepat maka kita akan menemukan bakat-bakat terpendam dari jemaat. Itu juga yang saya lakukan dalam pelatihan dua jam di sebuah gereja di Surabaya. Hanya dalam waktu 2 jam, saya bisa menemukan bakat terpendam jemaat dalam hal tulis menulis yang membuat gembala gereja geleng-geleng kepala karena baru tahu banyak jemaat suka menulis. Jadi, ini bukan masalah tidak ada penulis di dalam gereja Anda. Masalahnya adalah bagaimana cara kita menggali potensi jemaat, pengurus gereja, majelis dan pendeta di dalam gereja serta menjadikan pelayanan menulis ini tidak membosankan.

Penggalian potensi diri ini tidak bisa dilakukan sendirian. Meminjam perumpamaan Yesus, tidak baik seekor domba berjalan sendirian di padang belantara. Demikian juga dengan pelayanan menulis, seorang penulis lebih sulit bertumbuh daripada adanya sekelompok penulis. Gereja seharusnya bisa memfasilitasi hal ini. Demikian juga dengan penerbit umum yang menerbitkan buku-buku rohani ataupun penerbit-penerbit yang secara khusus mengkampanyekan diri untuk menerbitkan buku rohani. Memunculkan penulis di kalangan jemaat dan pendeta untuk Indonesia butuh perjuangan, terlebih saat ini. Perjuangan ini harus bersama-sama sehingga penulis-penulis baru muncul dan karyanya dapat diterima masyarakat Indonesia.

Bayangkan, jika muncul penulis-penulis baru di Indonesia, alangkah indahnya warna dunia perbukuan kita saat ini. Itu pun tidak boleh berhenti sampai di Indonesia saja. Sudah saatnya Indonesia melaksanakan ‘ekspor’ karya penulis jemaat dan pendeta dalam negeri. Sudah saatnya Indonesia mewarnai dunia internasional, bukan hanya diwarnai!


Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 451 (Awal Mei 2009)

Ellen Pantouw

Mengapa Pendeta Indonesia Ogah Menulis?

Jumlah pendeta di Indonesia sangat banyak. Munculnya berbagai sinode baru semakin menambah jumlah pendeta. Hasil karya lisan dapat kita dengar setiap minggu melalui khotbah. Akan tetapi hasil karya tulisan sangat jarang bahkan bisa dihitung dengan jari.

Sebelum Anda membaca lebih lanjut artikel ini, saya ingin mempertegas bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk menimbulkan ketidakdamaian. Juga tidak ada maksud untuk memperolok pihak tertentu. Saya menulis ini dengan tujuan untuk mengkritisi penyebab kemandulan pelayanan menulis di gereja.

Berapa banyak karya buku yang dihasilkan oleh pendeta Indonesia? Tidak banyak. Anda boleh cek ke penerbit manapun, para pendeta di Indonesia sangat jarang mengeluarkan karya buku. Kalaupun ada, kita akan mendengar beberapa nama yang tidak sampai hitungan pada jari kesepuluh. Hanya ada satu pendeta yaitu pendeta Eka Darmaputera yang suka menulis, sayangnya beliau sudah almarhum. Tulisannya tidak hanya termuat di surat kabar skala nasional tetapi kita juga bisa membaca buku-buku besutan Eka Darmaputera.

Mungkin karya buku masih berada di dalam ruang lingkup yang besar. Bagaimana kalau berapa banyak karya tulis dari pendeta Indonesia? Ternyata tidak banyak juga bahkan cenderung susah meminta seorang pendeta untuk menulis. Perihal ini, Anda boleh menanyakan ke redaksi-redaksi majalah dan tabloid rohani seperti tabloid Gloria. Mereka akan menceritakan betapa susahnya meminta seorang pendeta untuk menulis. Kawan-kawan di redaksi harus giat ‘mengejar’ pendeta untuk menulis. SMS untuk mengingatkan, telepon untuk menagih tulisan. Susah sekali. Sangat mudah apabila kita meminta pendeta untuk khotbah. Tidak perlu ‘dikejar-kejar’.

Sangat disayangkan kalau pemberitaan Injil hanya melalui mimbar saja pada hari Minggu. Pemberitaan Firman Tuhan melalui lisan, hanya dapat diingat oleh jemaat sebesar 20% saja. Angka 20% merupakan hasil penelitian tentang seberapa besar manfaat komunikasi lisan yang dapat diterima oleh pendengarnya. Itu sebabnya mengapa para siswa dan mahasiswa diminta untuk mencatat paparan dari guru dan dosen. Mencatat akan menambah daya serap materi yang diberikan oleh guru dan dosen.

Kebanyakan jemaat hanya mendengarkan Firman Tuhan tanpa mencatat. Saat kebaktian, materi yang dapat diingat jemaat hanya 20%. Usai kebaktian, biasanya jemaat berbondong-bondong datang ke kantin gereja untuk makan dan minum, berinteraksi dengan jemaat lain. Pulang ke rumah, yakinkah Anda bahwa materi 20% yang diingat jemaat tidak akan berkurang lagi? Itulah sebabnya para pendeta perlu menulis juga. Khotbah yang disampaikan pada hari Minggu belum cukup untuk meningkatkan kedewasaan rohani para jemaat.

Perhatikan dampak dari sebuah tulisan seorang pendeta di media cetak atau membuat karya buku. Seorang jemaat Anda membeli buku atau majalah atau tabloid yang memuat tulisan Anda. Usai membaca dan ia merasa mendapatkan berkat maka ia akan berbicara kepada teman-temannya. Ia akan merekomendasikan media cetak tersebut untuk dibaca oleh teman-temannya. Kalau teman-temannya mendapatkan berkat juga maka mereka akan merekomendasikan teman-temannya yang lain untuk membaca, demikian seterusnya.

Sebuah tulisan Anda dapat dibawa jemaat ke berbagai tempat kemanapun kaki mereka melangkah. Mereka bisa membawanya ke kampung halaman, ke negeri tetangga atau kemanapun mereka pergi. Kalau Anda hanya berkhotbah maka khotbah Anda hanya didengarkan jemaat saja. Ketika Anda menulis, maka tulisan Anda bisa melanglang buana dan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah Anda jangkau selama hidup.

Mungkin ada yang berkomentar begini: “Khotbahnya kan bisa direkam dan kasetnya bisa dijual atau dibagi-bagikan.” Itu bagus tetapi saya yakin tidak semua gereja memiliki alat perekam khotbah. Lebih tepatnya, tidak semua gereja juga memiliki kemampuan untuk membeli alat perekam khotbah. Melalui tulisan, Anda tidak perlu membeli alat perekam khotbah. Tulisan merupakan sebuah alat penginjilan yang murah meriah. Para pembaca tulisan Anda pun tidak perlu investasi sebuah tape untuk mendengarkan kaset khotbah. Cukup ada penerangan, langsung baca. Murah kan?

Kita yang tinggal di perkotaan mungkin berpikir bahwa harga sebuah tape itu murah. Kita perlu ingat juga bahwa yang butuh penginjilan, pengayaan Firman Tuhan bukan hanya orang kota. Bahkan di perkotaan pun masih ada jemaat yang tinggal di bawah garis kemiskinan. Makan saja masih susah apalagi membeli kaset khotbah berikut tape beserta baterainya. Jelas saja alat sederhana itu tidak mungkin akan terbeli. Jadi, melalui tulisan, Anda berinvestasi secara murah, jemaat pun juga sama.

TULISAN PENDETA DITOLAK REDAKSI
Salah satu alasan mengapa pendeta jarang menulis adalah tulisannya sering ditolak redaksi majalah dan tabloid serta penerbit buku. Sayangnya banyak yang putus asa dan tidak mau melanjutkan atau bertanya secara aktif mengapa tulisannya tidak dimuat. Padahal kita bisa menanyakan kepada redaksi atau penerbit buku, mengapa mereka menolak tulisan kita.

Mengapa redaksi dan penerbit menolak tulisan Anda? Saya memerhatikan seringkali para pendeta saat menulis sebuah tulisan menyamakan dengan membuat khotbah. Taburan ayat menghiasi dari paragraf pertama hingga akhir. Viuw… Saya pernah mengedit tulisan renungan seorang pendeta. Bayangkan, ada 17 ayat di dalam tulisan renungannya! Tulisan renungan itu tidak panjang, biasanya maksimal ½ halaman. 17 ayat ada di dalam tulisan renungan ditambah lagi ada 2 ayat yang dijabarkan atau ditulis. Wah, ini sama saja dengan memindahkan ayat di Alkitab ke dalam tulisan. Tentu saja, tulisan ini tidak berbobot. Kalau hanya memindahkan ayat dari Alkitab ke tulisan, ya, anak kecil pun bisa.

Menulis untuk dikirimkan ke majalah dan tabloid rohani berbeda dengan membuat khotbah. Pencantuman ayat-ayat sebisa mungkin dihindari. 1-3 ayat boleh saja dicantumkan untuk mempertegas tulisan Anda. Mengapa? Majalah dan tabloid rohani di Indonesia kebanyakan bersifat popular (bukan popular dengan makna terkenal). Artinya, disajikan dengan gaya bahasa umum yang sederhana dan enak dibaca.

Berbeda jika Anda mengirimkan tulisan untuk jurnal kristiani atau materi sekolah teologia. Tentu saja pengayaan ayat harus diperbanyak. Anda juga akan menemukan banyak ayat sebagai perbandingan. Pembaca Anda adalah orang-orang yang ingin mendalami Firman Tuhan secara ilmiah.

Sementara majalah dan tabloid rohani dibaca oleh orang awam yang kebanyakan kurang memahami pengayaan Firman Tuhan secara ilmiah. Pembaca awam kebanyakan ingin mendapatkan informasi secara aplikatif. Bagaimana mengaplikasikan Firman Tuhan ke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya.

Jika tulisan Anda bertaburkan ayat, tentu saja akan ditolak oleh redaksi. Mengapa redaksi menolak? Jujur saja, karena pembacanya tidak suka membaca tulisan seperti itu. Jadi, sesuaikan tulisan Anda dengan media cetaknya. Anda tidak bisa idealis seperti begini: “Saya pendeta dan saya menulis harus banyak ayat.” Anda akan lelah sendiri karena tulisan Anda akan ditolak oleh redaksi. Lagipula, seperti kata saya sebelumnya, pembaca tidak begitu suka membaca karya Anda. Saya ingin lebih mempertegas lagi, cobalah tanya ke jemaat Anda, berapa orang yang akan membuka Alkitab dan membaca ayat-ayat di tulisan Anda yang dimuat di media cetak. Saya jamin tidak banyak. Singkatnya, ayat yang terlalu banyak di artikel popular akan dilewatkan pembacanya. Atau sekedar tahu saja, ayatnya di sini tapi mereka tidak akan membuka Alkitab.

Sesuaikan tulisan Anda dengan medianya. Bukankah lebih baik kita menggunakan gaya bahasa sederhana supaya para petani bisa memahami maksud kita? Daripada menggunakan bahasa ilmiah tetapi para petani tidak memahaminya? Mana yang Anda pilih? Para pendeta, marilah belajar menulis! Hiasi media di dunia ini dengan karya tulis Anda!

Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 450 (April 2009)

Ellen Pantouw

Menulis Bukan Pelayanan Gereja?

Banyak diantara kita, anak-anak Tuhan yang tidak memahami pentingnya menulis. Terkadang menulis juga bukan dianggap sebagai sebuah pelayanan. Lebih tepatnya tidak pernah diperhitungkan oleh banyak gereja. Itulah sebabnya jumlah penulis dari kalangan gereja sangat sedikit.

Gereja sendiri juga tidak pernah menumbuhkan komunitas penulis. Pemaknaan pelayanan di dalam gereja pun sangat terbatas. Mungkin juga karena gereja sendiri yang memberi batasan pada diri sendiri sehingga tanpa disadari hal ini sudah menjadi sebuah konsensus bersama. Bentuk pekerjaan yang sudah dikategorikan melayani biasanya adalah pembawa firman, pemimpin pujian, para singer, tim musik, tim tarian, pendoa syafaat, kolektan, penerima jemaat (usher), tim kunjungan, pengurus gereja. Di luar itu, dikategorikan sebagai non pelayanan atau kata kerennya, sekuler.

Diakui atau tidak, itulah wajah gereja kita sebenarnya. Kalau seseorang belum mengambil pekerjaan tersebut maka dia belum dianggap ‘sah’ melayani Tuhan. Seolah-olah ada batasan tersendiri antara pekerjaan pelayanan dan non pelayanan. Akibatnya, bidang-bidang pekerjaan yang tidak disahkan menjadi bentuk pelayanan, tidak pernah diakomodir oleh gereja. Tak heran kalau kekosongan tersebut akhirnya muncul, seperti kekosongan para penulis dari kalangan gereja.

Pelayanan menulis sendiri belum disahkan sebagai bentuk pelayanan. Belum diakui sebagai bagian dari pelayanan. Tak heran, kita bisa menemukan banyak jemaat yang memiliki potensi tetapi mati. Kalau jemaat mau mengembangkannya, ia harus mengembangkan di luar gereja, barulah potensi tersebut tak mati. Ketika gereja tidak mau mengembangkan sehingga jemaat harus mengembangkan potensinya di luar gereja, bukankah ini yang dinamakan tragis?

Padahal melalui tulisan, kita dapat mewarnai dunia. Tulisan dapat memberikan pencerahan kepada banyak orang. Rasul Paulus sendiri juga menulis untuk dapat menjangkau orang-orang yang tak dapat ia jangkau. Sorga pun juga meninggalkan tulisan yaitu Alkitab agar anak-anakNya mengerti jalan-Nya. Melalui tulisan, kita dapat memengaruhi orang, memotivasi banyak orang. Melalui tulisan, orang bisa menangis dan bertobat. Bukankah ini sebuah bentuk pelayanan yang tingkat kepentingannya sama dengan pengabaran Injil? Jika penting, sudah sepatutnya gereja mulai memberikan perhatian dan mengembangkan bidang pelayanan ini.
Bidang menulis termasuk sebuah bidang pelayanan yang harus mulai diberikan perhatian oleh gereja. Bukan untuk bermaksud membela kaum tertentu. Bidang pelayanan ini memiliki tingkat urgensi pada saat ini. Bayangkan bagaimana kontribusi pelayanan menulis untuk mewarnai dunia!

Jika Anda menulis opini di surat kabar, tulisan Anda dapat mencerahkan banyak pihak dari masyarakat awam hingga pejabat negara. Jika Anda menulis buku, tulisan Anda bisa memberikan pencerahan kepada pembaca buku dari banyak pulau di Indonesia. Jika Anda menulis naskah sinetron atau naskah film, tulisan Anda bisa memengaruhi banyak penikmat televisi. Hanya melalui tulisan, Anda dapat menjangkau dan melayani masyarakat baik secara individu maupun berkelompok.

Jadi, bagaimana Anda menilai bentuk pelayanan menulis ini? Apakah termasuk pelayanan atau tidak? Walau sampai hari ini, belum ‘disahkan’ sebagai bentuk pelayanan, itu tidak penting dan tidak menjadi masalah. Alkitab mengatakan bahwa segala sesuatu dilihat dari buahnya. Lebih penting adalah memaknai hasil tulisan kita yang dapat memberikan pencerahan kepada banyak orang dari segala usia, segala kalangan ekonomi, suku, agama, ras dan yang mampu menjangkau semua pulau.

Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 449 (April 2009)

Ellen Pantouw

Wednesday, April 1, 2009

SESUAIKAN MINAT DAN KEMAMPUAN, BARU PILIH PROGRAMNYA


Ingin belajar menulis tetapi bingung memilih program? Memilih program merupakan langkah awal Anda untuk belajar menulis sesuai dengan minat dan kemampuan Anda.

Menulis sangat menyenangkan dan mudah. Banyak hal yang membuat kita terkendala dalam menulis. Apa saja kendala Anda? Mematahkan kendala sangat mudah sekali. Apapun kendalanya bisa dipatahkan. Rahasia mematahkan kendala dalam menulis itu yang membuat saya enjoy menulis selama 12 tahun lebih. Saya akan membagikan rahasia mematahkan kendala dalam penulisan di dalam kursus ini. Rahasia yang saya bagikan itu bukan teori tapi pengalaman pribadi yang sudah dipraktekkan.

Lalu bagaimana memilih program untuk Anda? Anda harus tahu dulu apa yang akan dipelajari di setiap program.

“Program Opini” akan mengajarkan Anda bagaimana cara mengutarakan pendapat melalui tulisan di media cetak. Juga mengajarkan bagaimana menggabungkan antara data yang Anda miliki dengan pendapat Anda menjadi sebuah tulisan yang dapat diterima sesuai standar redaksi. Dalam program ini, kita akan belajar bagaimana menulis opini dan refleksi.

“Program Kesaksian” mengajarkan bagaimana menulis kisah kesaksian. Ada banyak kesaksian di sekitar kita yang dapat kita tuliskan dan menjadi berkat. Kita akan belajar bagaimana memilih kisah kesaksian sesuai standar media dan bagaimana menuliskannya. Tulisan kesaksian juga sangat disukai anak-anak Tuhan dan dicari media rohani.

“Program Renungan” mengajarkan bagaimana membuat sebuah tulisan renungan. Coba Anda hitung berapa banyak jumlah renungan yang diterbitkan di Indonesia! Kalau Anda sudah menguasai caranya, Anda bisa mengirimkan tulisan renungan Anda ke redaksi. Bagi peserta program “Renungan”, siapkan diri sebab ada kejutan khusus dari Tabloid Gloria.

“Program Liputan” mengajak Anda membagikan berkat pengetahuan yang Anda peroleh dari menulis seminar, retreat, lokakarya, KKR rohani dan sebagainya. Anda pasti pernah mengikutinya kan? Jangan hanya menjadi peserta saja, sekarang saatnya membagikan berkat kepada orang lain!

Apakah Anda sudah menemukan minat Anda? Sekarang hitung kemampuan Anda!

Jika Anda memiliki banyak aktivitas di kantor maupun ibu rumah tangga, Program Opini dan Program Renungan sangat cocok untuk Anda. Kedua program ini tidak akan menyita aktivitas. Anda bisa mengerjakan aktivitas sekaligus menulis. Program Kesaksian dan Program Liputan sangat cocok bagi Anda, anak-anak muda, staf pelayanan di gereja/parachurch, majelis, pendeta. Program Kesaksian dan Liputan memerlukan waktu untuk bertemu orang dan melakukan wawancara. Program Kesaksian dapat diikuti oleh Anda yang punya kesibukan di kantor maupun rumah tangga, syaratnya gunakan waktu senggang untuk bertemu orang. Kalau Anda berminat menjadi koresponden media rohani seperti Tabloid Gloria maka ikuti Program Liputan.

Jadi, menulis di Tabloid Gloria tidak sesulit yang dibayangkan! Pilih programnya, sesuaikan minat dan kemampuan Anda!



Sunday, March 8, 2009

BELAJAR MENULIS ROHANI ANGKATAN KE-2 DIBUKA!

Ingin menjadi berkat melalui tulisan?
Ingin meninggalkan warisan dan catatan hidup kepada anak cucu?


Ikuti kursus "Belajar Menulis Rohani" angkatan ke-2 yang diselenggarakan oleh ‘de writer-training and consultant. Kursus ini menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh. Modul akan dikirimkan kepada peserta, ada penugasan serta tantangan. Anda akan mendapatkan bimbingan, penajaman fokus tulisan dan bantuan editing selama masa kursus. Anda juga akan memahami bagaimana mudahnya menulis dan mengeluarkan ide dari otak ke bentuk tulisan.

Anda bisa memilih kelas-kelas yang Anda minati.

1) Kelas Opini
Ada pendapat yang ingin Anda utarakan di media cetak? Anda suka menulis tulisan refleksi? Ingin menulis di rubrik Refleksi Tabloid Gloria? Kelas Opini akan mengajarkan kepada Anda bagaimana caranya!

2) Kelas Kesaksian
Ada banyak kesaksian di sekitar kita yang dapat kita tuliskan dan menjadi berkat. Tahukah Anda bahwa tulisan kesaksian sangat disukai anak-anak Tuhan? Tulisan kesaksian juga selalu dicari media cetak rohani termasuk di Tabloid Gloria!

3) Kelas Renungan
Berapa jumlah buku renungan di Indonesia? Anda ingin tahu bagaimana mudahnya membuat renungan? Ikuti kelas ini, siapkan diri Anda sebab ada kejutan khusus dari Tabloid Gloria bagi peserta kelas Renungan.

4) Kelas Liputan
Banyak acara gereja di sekitar kita, seminar, retreat, lokakarya, KKR dan sebagainya. Pasti Anda pernah mengikutinya. Jangan hanya menjadi peserta, sekarang saatnya Anda membagikan berkat ke orang lain! Ikuti kelas ini!

Fasilitas:
1.Modul berupa buku. Isi buku bukan hanya teori tetapi juga bagaimana praktek menulis, trik-trik menulis serta pengalaman pribadi mentor. Modul akan dikirimkan 1 (satu) kali yaitu di awal pembelajaran. Modul terdiri atas materi pelajaran untuk 4 minggu (1 bulan). Anda akan mendapatkan penugasan per minggu.
2.Mentoring per individu selama masa kursus melalui email dan sms 24 jam.
3.Gratis jasa editing tulisan Anda sebelum dikirim ke media cetak selama masa kursus.
4.Komentar dari mentor, evaluasi tulisan dan tips-tips penajaman tulisan Anda.
5.Tabloid Rohani Gloria satu edisi (saat pengiriman modul).

Benefit yang Anda peroleh, Anda akan:
* Membongkar semua hambatan menulis
* Mengendus tema-tema tulisan yang dapat diterima redaksi
* Menguasai teknik menggali ide
* Menguasai cara-cara menembus redaksi majalah/tabloid rohani
* Mendapatkan alamat kontak media cetak rohani di Indonesia
* Menguasai kiat menulis seraya menambah uang saku
* Mengetahui cara menjadi koresponden
* Mengetahui bagaimana cara melayani dan menjadi berkat melalui tulisan lintas generasi dan lintas pulau.
* Mendapatkan kesempatan untuk menulis di Tabloid Gloria.

MENTOR:
Ellen Pantouw, penulis buku rohani dan bisnis, konsultan penulisan dan penerbitan yang sudah berpengalaman lebih dari 12 tahun. Ellen Pantouw mengawali karir kepenulisan saat SMA di koran yang terbit di sore hari, Surabaya Post. Pernah menjadi wartawan di majalah Penabur Kesatuan yang diterbitkan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia. Bergabung menjadi wartawan di Tabloid Rohani Gloria – Jawa Pos Group sejak 2000-2003. Tulisannya pernah dimuat di koran Surabaya Post, Majalah Bahana, Tabloid Gloria, Majalah TEMPO, renungan Rajawali, renungan Kemenangan (Morris Cerullo ministry) dan sebagainya.

Buku-buku yang pernah ditulis antara lain:
1. “Datanglah Kerajaan-Mu, 20 Tahun Pelayanan Peter Tjondro” (2004)
2. “Jerimia Rim, The Story of an Eagle that Changed a Generation” (2006) co-writer; sudah cetak ulang 3x.
3. “230+ Sumber Pinjaman Bagi Usaha Anda” (2008); sudah cetak ulang 2x.
4. “Variasi Masakan Mie” (2008) co-writer dan fotografer; sudah cetak ulang 2x.

Buku-buku yang pernah diedit antara lain:
1. “Betapa Dahsyat Kuasa Darah-Nya” oleh D.A.R.E. Pello
2. “Calon Penghuni Neraka” oleh D.A.R.E. Pello
3. “Curing the Incurable” oleh Jack Coe
4. “Mighty Manifestations” oleh Reinhard Bonnke
5. Dan sebagainya


INVESTASI
Investasi per kelas Rp 350.000.

Diskon 10% untuk yang mengikuti 2-3 kelas.
Ikut 2 kelas membayar biaya investasi Rp 630.000
Ikut 3 kelas membayar biaya investasi Rp 945.000

Diskon 15% untuk 4 kelas sekaligus.
Ikut 4 kelas membayar biaya investasi Rp 1.190.000

Pendaftaran sebelum 26 Maret 2009 akan mendapatkan tambahan diskon 10% (berlaku semua kelas). Pendaftaran 26 Maret - 20 April berlaku harga normal.

Investasi pendaftaran awal satu kelas Rp 315.000
Investasi pendaftaran awal 2 kelas Rp 567.000
Investasi pendaftaran awal 3 kelas Rp 850.500
Investasi pendaftaran awal 4 kelas Rp 1.071.000

Kelas berlangsung selama 1 bulan, dimulai Selasa, 21 April 2009.
Bonus bagi peserta yang mengikuti kursus lebih dari 1 kelas adalah mendapatkan tambahan fasilitas nomor 2, 3 dan 4 selama:
1 bulan bagi pendaftaran 2 kelas
2 bulan bagi pendaftaran 3 kelas
3 bulan bagi pendaftaran 4 kelas

Khusus bagi peserta dari Hongkong mundur 2 minggu: pendaftaran sebelum 9 April mendapatkan tambahan diskon 10% dan kelas dimulai 6 Mei 2009.

Investasi ditransfer ke rekening:

BCA KCP Ahmad Yani Surabaya
429-041-5662
an. Ellen Ruth Pantouw SE

atau

Mandiri KCP Surabaya Diponegoro
142-00-0616454-4
an. Ellen Ruth Pantouw S.E.

Biaya kirim melalui pos ditanggung peserta. Biaya kirim di kota Surabaya, gratis. Daftarkan diri Anda segera melalui sms 08123112218, email: onebooklife@gmail.com, simak pengumumannya di Tabloid Gloria maupun di http://onebooklife.co.cc.

JIKA ANDA MENGIKUTI DAN MENGERJAKAN TUGAS-TUGAS, MAKSIMAL DALAM WAKTU 6 BULAN, SEMUA BIAYA INVESTASI YANG ANDA KELUARKAN DAPAT KEMBALI MELALUI BERKAT DARI PEMUATAN TULISAN DI MEDIA.


Prosedur Pendaftaran:

1. Kontak via sms atau email.
2. Isi formulir pendaftaran yang akan dikirimkan via email. Kirim kembali formulir pendaftaran ke email: onebooklife@gmail.com
3. Jika Anda berada di Surabaya, Anda bisa langsung transfer (nomor 5).
4. Jika Anda berada di luar Surabaya, jangan langsung mentransfer dulu. Kami akan melakukan pengecekan alamat dan kota ke kantor pos, supaya bisa tahu biaya kirim pos kilat khusus. Jika sudah tahu biayanya, kami akan mengkonfirmasikan ke Anda jumlah yang harus ditransfer (biaya investasi + biaya kirim).
5. Transfer ke Rekening BCA atau Mandiri. Tuliskan berita saat transfer: Nama dan Kota Anda.
6. Konfirmasikan via sms, jumlah berapa dan menggunakan rekening BCA atau Mandiri.
7. ‘de writer akan melakukan verifikasi pendaftaran.
8. Jika sudah verifikasi, Anda akan menerima sms verifikasi dari ‘de writer berupa nomor peserta.


Testimoni Peserta Angkatan I: Ev. Alfius Thomas, S.Th. - Timika, Papua

Tulisan Ev. Alfius Thomas, S.Th. berjudul “3 Rahasia Cinta Damai Yusuf” dimuat di Tabloid Gloria edisi 443 (terbit Minggu II Maret 2009).

Berikut testimoni Gembala Pemuda Gereja Kemah Injili Indonesia “Kasih Tuhan”, Timika, Papua:
"Saya secara pribadi sangat bersyukur karena dapat mengikuti kursus menulis ini. Selama ini saya ingin sekali menulis. Namun yang menjadi kendala, saya selalu berpikir kalau menulis, saya tidak bisa memakai kata-kata yang indah, ejaan yang tepat dan sebagainya. Setelah saya mengikuti kursus ini, barulah saya mengerti bagaimana menulis itu. Menulis bukanlah hal yang menakutkan seperti yang saya pikirkan selama ini. Melalui menulis, akhirnya saya mengerti kalau kita bisa menjadi berkat lebih banyak lagi untuk orang lain. Terlebih saya merasa sebagai hamba Tuhan yang hampir tiap minggu menyampaikan kebenaran Firman Tuhan. Khotbah yang saya sampaikan, tentunya untuk orang yang hadir pada saat itu. Namun bagaimana dengan generasi seterusnya? Saya akhirnya sadar! Hidup saya terbatas untuk menjadi berkat dan berkhotbah untuk orang. Dengan menulis, walaupun akhirnya nanti saya dipanggil Tuhan, namun khotbah saya dalam tulisan akan terus hidup dan memberkati orang lain. Terlebih saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Ellen Pantouw yang mau membimbing saya. Apa yang Ibu buat ini luar biasa. Tuhan yang adalah sumber berkat akan memberkati Ibu Ellen dalam tugas dan pelayanan.
Saya juga ucapkan terima kasih untuk Tabloid Gloria. Kalau bukan karena Tabloid Gloria, tentu saya juga tidak akan dapat menulis seperti sekarang. Dan terima kasih banyak karena telah memberkati saya selama ini dengan artikel, kesaksian, dan berita-berita yang luar biasa. Maju terus dalam Tuhan. GBU."

Tuesday, March 3, 2009

APA KABAR WARTA GEREJA? [Bagian 5]


BERANI MEMUAT BUKU SESAT DI WARTA?

Selain informasi pengumuman dari internal dan eksternal gereja, warta dapat diisi dengan rangkuman dan resensi buku terbaru.

Selama ini, rangkuman dan resensi buku terbaru hanya dari buku-buku dengan genre kristiani atau kita sering menyebutnya buku-buku rohani. Gagasan ini bagus sekali karena jemaat mengetahui buku rohani terbaru. Juga membantu jemaat dalam mengambil keputusan membeli buku atau tidak.

Apa bedanya rangkuman dan resensi buku? Kalau resensi, hanya memuat informasi buku secara sekilas seperti rubrik Resensi di Gloria. Resensi berisi tentang judul buku, pengarang, penerbit, tebal halaman, harga, target pembaca buku, sedikit isi buku serta kritikan terhadap buku. Kalau rangkuman buku ditambahkan dengan bagian dari buku yang berguna bagi jemaat.

Buku-buku yang bermanfaat bagi jemaat tidak hanya kategori buku rohani. Banyak buku umum yang bermanfaat bagi jemaat. Sangat sedikit gereja yang berani memuat informasi buku umum. Kebanyakan memiliki alasan tersendiri, seperti gereja adalah ladang rohani maka sepatutnya hanya buku-buku rohani yang dimuat di warta gereja. Atau alasan lain seperti buku-buku umum di referensi media cetak umum.

Menurut saya, jika ada buku umum yang bermanfaat bagi jemaat, tidak ada salahnya kita mereferensikan buku umum di warta gereja. Apa alasannya? Tidak semua buku umum benar-benar bermanfaat bagi jemaat. Ada buku yang justru menjauhkan iman terhadap Yesus Kristus. Kelihatannya bermanfaat tetapi menjauhkan kita dari Tuhan. Pemuatan buku umum di warta dapat menjadi acuan bagi jemaat bahwa buku tersebut dapat menumbuhkan pengetahuan dan imannya.

Bagaimana dengan buku umum yang meledak dan dibicarakan banyak orang tetapi menjauhkan iman? Menurut saya, tidak ada salahnya juga dimuat di warta gereja. Tentu saja dengan catatan, bagian mana dari isi buku yang menjauhkan iman. Kalau perlu, sandingkan ayat-ayat Alkitab yang mematahkan teori dalam buku tadi. Jemaat akan menjadi dewasa dan tahu mengapa buku tersebut dikategorikan menjauhkan iman atau orang sering menyebutnya ‘sesat’. Bagaimana kalau jemaat membeli buku tersebut? Justru itu baik karena dia penasaran dan ingin membuktikan sendiri. Anda tidak perlu kuatir sebab warta gereja Anda sudah memberikan pembekalan, bukan? Kita tidak dapat menghalangi seseorang untuk membeli buku jenis apapun. Tetapi sangat penting memberikan pembekalan pengetahuan kepada jemaat.

Jika warta gereja Anda terbuka dengan semua buku, Anda bisa bekerjasama dengan berbagai penerbit untuk mendapatkan buku terbaru. Penerbit tentu tidak keberatan, justru senang karena mendapatkan halaman untuk promosi. Keuntungan bagi gereja adalah tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli buku-buku baru. Buku-buku gratis dari penerbit tentu dapat dikoleksi perpustakaan gereja. Menarik kan?

Bersambung... (Ellen Pantouw)