Monday, November 23, 2009

MENGHITUNG POTENSI WARTA GEREJA (1): RESIKO WARTA SEBAGAI MEDIA PENGUMUMAN

Oleh Ellen Pantouw

Pada edisi lalu (458), saya memberikan beberapa catatan hasil seminar “Maksimalkan! Potensi Warta Gereja” yang diadakan Sabtu (6/6) di UK Petra Surabaya. Menarik sekali jika melihat para peserta yang diutus oleh gereja-gereja. Ada peserta yang memang sudah berkecimpung di dalamnya. Ada peserta yang ‘terpaksa’ berkecimpung karena ditugaskan oleh gereja. Ada peserta yang tidak berkecimpung, hanya menjadi pengamat atau komentator saja. Alhasil, pandangan perihal warta gereja pun menjadi beragam.

Satu hal yang pasti ialah gereja ‘kedodoran’ dalam hal pengelolaan warta gereja. Warta gereja perlu dikelola dengan baik supaya hasilnya bisa maksimal. Tidak cukup hanya berdoa saja! Ada bagian yang harus dikerjakan oleh kita sebagai manusia ciptaan-Nya, ada pula bagian yang dikerjakan oleh Tuhan sebagai pencipta. Sangat disayangkan jika gereja atau organisasi pelayanan lainnya menganggap warta hanya sebagai pelengkap sehingga bisa dikelola asal-asalan. Atau warta dianggap sebagai tempat pengumuman saja dari gereja kepada jemaat.
Kalau hanya itu—tempat pengumuman—sebaiknya warta tidak perlu dicetak warna yang membutuhkan dana tinggi. Perhatikan bagan! Jika hanya sebagai tempat pengumuman, jangan salahkan jemaat jika warta gereja tidak pernah disimpan atau dikliping. Mengapa?


MEDIA PENGUMUMAN --> MENGUMUMKAN SEBUAH KEGIATAN YANG AKAN BERLANGSUNG:
1. Seminar, KKR, Doa Bersama, dan sebagainya.
2. Ulangtahun jemaat.
3. Pernikahan dan sebagainya.

Dampak media pengumuman bagi jemaat:
1. Jemaat butuh warta gereja: jika waktu kegiatan belum terjadi.
2. Buang ke tong sampah: jika waktu kegiatan sudah terjadi.

Warta gereja dibutuhkan ketika kegiatan tersebut belum terjadi. Kalau kegiatan sudah terjadi, berarti informasi yang ada di warta gereja dianggap sudah basi (karena sudah selesai diadakan). Jika kita memiliki sebuah kertas berisi pengumuman yang kegiatannya sudah terjadi, apa tindakan kita? Buang ke tong sampah atau diloakkan. Itu adalah perilaku normal. Saya juga akan membuang brosur-brosur yang kegiatannya sudah terjadi.

Jadi, jangan salahkan jemaat jika perilaku jemaat seperti itu, membuang lembaran kertas yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Tentunya, saya yakin kita tidak mau rumah kita penuh dengan barang-barang yang tidak kita perlukan lagi. Kita pasti akan melakukan pemilahan supaya rumah atau ruang kerja kita tertata rapi.

Seandainya, warta gereja atau buletin tempat pelayanan Anda memang hanya diisi pengumuman, Anda perlu mempertimbangkan dua hal. Pertama, warta yang dicetak warna membutuhkan biaya tinggi. Dana untuk cetak bisa dialihkan ke program pelayanan lain yang dapat mengembangkan jemaat. Anda perlu mempertimbangkan untuk mencetak warta dengan biaya rendah. Warta dapat dicetak satu warna saja, tidak perlu full colour. Satu warna itu tidak berarti warna hitam saja. Anda bisa meminta percetakan untuk mengganti warna hitam dengan warna biru. Konsultasilah dengan percetakan langganan Anda.

Kedua, Anda harus berbesar hati jika melihat jemaat yang membuang warta di depan mata Anda. Mungkin saja, jemaat tadi sudah mengetahui kegiatan-kegiatan yang diumumkan gereja. Ingat, ini bukan masalah bahwa kertas tadi hanyalah warta gereja sehingga jemaat menganggap remeh. Permasalahannya karena memang warta gereja diposisikan hanya sebagai tempat pengumuman. Itu saja! Anda tidak perlu sakit hati dengan perilaku jemaat yang demikian.
Cek ke diri sendiri, apa yang Anda lakukan dengan brosur-brosur yang kegiatannya sudah terjadi? Pasti Anda akan membuang ke tong sampah. Pihak penyelenggara kegiatan (di dalam brosur) tidak perlu sakit hati melihat brosurnya dibuang. Acaranya kan sudah selesai diadakan, jadi sah-sah saja.

Itulah resiko yang harus dihadapi pengelola warta gereja jika warta hanya diisi pengumuman saja. Itu juga bukan perilaku jemaat yang aneh. Wajar-wajar saja kok. Jika Anda tidak ingin warta gereja dibuang ke tong sampah maka pengelola warta yang harus berbenah terlebih dahulu. Pengelola warta perlu melakukan evaluasi setiap minggu.

Lakukan pengecekan! Berapa persen warta gereja diisi dengan pengumuman?

Cara menghitungnya seperti begini:
1. Berapa jumlah halaman warta? Misal: 10.
2. Berapa jumlah halaman yang diisi dengan pengumuman? Misal: 8
3. Cara penghitungan prosentase:
Jumlah halaman yang diisi dengan pengumuman x 100%
Jumlah halaman warta gereja
4. Contoh di atas berarti: (8/10) x 100% = 80%

Analisa contoh, berarti 80% halaman di warta gereja digunakan sebagai tempat pengumuman. Jika Anda ingin mengubah perilaku jemaat dari membuang menjadi menyimpan maka prosentase tadi harus diubah. Berapa banyak halaman warta gereja Anda yang digunakan sebagai tempat pengumuman?

(bersambung)

sumber gambar: goggle
tulisan ini sudah dimuat di Tabloid Gloria



Tuesday, October 6, 2009

Sunday, September 27, 2009

BARU dan TERBATAS! Pelatihan Menulis Buku!

Rindu untuk menulis buku tetapi tidak tahu bagaimana caranya? Bagaimana cara menembus penerbit? Bagaimana prosedur menerbitkan buku?

Dapatkan jawabannya dengan mengikuti program “Pelatihan Menulis Buku” jarak jauh yang diselenggarakan ‘de writer learning’.

Keunggulan program pelatihan menulis ‘de writer learning’ terletak pada sistem pelatihan. Setiap tulisan peserta akan dikoreksi, diberikan evaluasi sehingga peserta dapat memahami bagaimana cara menulis yang baik. Peserta juga bebas bertanya seputar dunia penulisan selama masa pelatihan. ‘de writer learning’ sangat menekankan pada praktek menulis dan evaluasi atau koreksi penulisan tiap peserta.

Angkatan pertama dimulai 1 Oktober 2009. Biaya program per peserta sebesar Rp 500.000 untuk pelatihan untuk jangka waktu 2 bulan. Biaya belum termasuk ongkos kirim menggunakan jasa pos.

Fasilitas pelatihan yang akan Anda dapatkan yaitu buku modul yang berisi cara menulis buku, cara memilih ide buku, cara mengirimkan tulisan ke penerbit buku, sistem royalti dan hak cipta di dunia perbukuan serta sharing mentor yang sudah membuat buku. Modul yang dibuat sangat aplikatif, gabungan antara teori yang dibutuhkan dan praktek mentor. Bahasa yang digunakan dalam modul sangat sederhana dan dapat dipahami semua kalangan. ‘de writer learning’ juga bekerjasama dengan beberapa media cetak atau penerbit buku.

Anda juga akan mendapatkan Tabloid Gloria satu edisi, mentoring selama pelatihan meliputi evaluasi tulisan serta daftar penerbit buku.

Pelatihan dipandu Ellen Pantouw, penulis buku rohani dan bisnis, founder ‘de writer learning’, penulis dengan pengalaman lebih dari 12 tahun. Ellen telah menulis buku: “+230 Sumber Pinjaman untuk Usaha Anda” (terbit tahun 2008, Gradienmediatama Yogyakarta), “Variasi Masakan Mie” (terbit tahun 2008, Gradienmediatama Yogyakarta), “Jerimia Rim: The Story of an Eagle that Changed a Generation” (terbit tahun 2006, Kairos Yogyakarta), “Pdt. Peter Tjondro: Datanglah Kerajaan-Mu, 20 Tahun dalam Panggilan-Nya” (terbit tahun 2004, VisionCare, Jakarta).

Siapapun dapat menulis dan membuat buku! Buktikan sendiri! Konsultasi dan pendaftaran melalui sms 08123112218 atau email onebooklife@gmail.com, simak pengumuman di Tabloid Gloria dan http://onebooklife.co.cc

Wednesday, July 8, 2009

Program Pelatihan Menulis Spesial Kemerdekaan

Menyambut hari kemerdekaan bulan Agustus mendatang, ‘de writer learning’ akan mengadakan program pelatihan menulis jarak jauh spesial Kemerdekaan. Programnya yaitu menulis kesaksian pribadi. Setiap orang pasti memiliki kesaksian hidup indah bersama dengan Tuhan. Bersaksi di gereja belum cukup. Ada media yang dapat menyebarkan kesaksian Anda ke daerah-daerah yang belum tentu dapat kita jangkau. Bersaksi melalui media cetak sangat murah biayanya tetapi dapat memberkati orang-orang yang tidak pernah Anda kenal. Juga dapat memberkati mereka dimanapun mereka berada, yang mungkin seumur hidup, Anda belum pernah ke sana.

Bagaimana cara menulis kesaksian pribadi yang dapat dibaca orang dengan indah? Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menulis kesaksian pribadi? Data apa saja yang diperlukan untuk menulis kesaksian agar pembaca tidak bingung dan dapat memahami pesan kita?

Bagaimana cara menulis kesaksian pribadi yang tidak menyinggung SARA? Bagaimana cara mengirimkan ke media cetak rohani, apa saja syaratnya? Bagaimana caranya agar lolos sensor sehingga dapat dimuat? Semuanya akan dibahas di pelatihan menulis jarak jauh spesial Kemerdekaan.

Fasilitas pelatihan: modul teori dan praktek menulis, trik-trik menulis dan pengalaman pribadi mentor; mentoring per individu selama pelatihan; gratis jasa editing untuk mempercantik tulisan sebelum dikirim ke media cetak rohani; komentar dari mentor, evaluasi tulisan dan tips penajaman tulisan serta Tabloid Gloria satu edisi.

Pelatihan ini akan dipandu Ellen Pantouw, penulis buku rohani dan bisnis, founder ‘de writer learning’, penulis dengan pengalaman lebih dari 12 tahun. Pelatihan berlangsung selama 3 minggu, mulai 4-25 Agustus 2009 (Indonesia) dengan investasi spesial Kemerdekaan Rp 350.000 Rp 250.000 saja (tidak termasuk biaya kirim pos). Pendaftaran terakhir, Sabtu, 1 Agustus 2009 (peserta dari Hongkong mundur 2 minggu). Program dengan investasi spesial hanya untuk bulan Agustus saja. Manfaatkan kesempatan ini! Konsultasi dan pendaftaran melalui sms 08123112218 atau email onebooklife@gmail.com, simak pengumuman di Tabloid Gloria dan http://onebooklife.co.cc

Alumni yang Tulisannya Sudah Diterbitkan
1. “3 Rahasia Cinta Damai Yusuf” oleh Ev. Alfius Thomas, S.Th. – Timika (Tabloid Gloria edisi 443, Maret 2009)
2. “Kebutuhan Hidup vs Spiritualitas Kristen” oleh Yayas Odianto – Palu (Tabloid Gloria edisi 452, Minggu II Mei 2009)
3. “Dari Mustahil Menjadi Tidak Mustahil Karena Tuhan” oleh Ev. Alfius Thomas, S.Th. – Timika (Tabloid Gloria edisi 452, Minggu II Mei 2009)
4. “Konflik Israel vs Palestina, Sebuah Sejarah” oleh Iwan Iksan - Surabaya (Tabloid Gloria edisi 455, Minggu I Juni 2009)
5. “Lika Liku Jalanku Menuju Jalan-Nya” oleh Pdt. Ngendam Sembiring, M.Th. – Surabaya (Tabloid Gloria edisi 457, Minggu III Juni 2009)
6. “Tuhan Melepasku dari Kanker” oleh Ny. Susana Kurniawan Iksan – Surabaya (Tabloid Gloria edisi 457, Minggu III Juni 2009)

Seminar “Maksimalkan! Potensi Warta Gereja”:

Pengelolaan Warta Gereja Perlu Ditingkatkan

Sabtu, 6 Juni kemarin bertempat di UK Petra, Gedung T lantai 5, Ruang Audio Visual digelar seminar bertajuk “Maksimalkan! Potensi Warta Gereja”. Seminar yang digagas ‘de writer learning’ bekerjasama dengan Tabloid Gloria menghadirkan 4 pembicara. Eddy Pattinasarane, SH., M.Si., Ketua Umum Bamag Jawa Timur sebagai keynote speaker, Lambertus L. Hurek, redaktur koran Radar Surabaya, David da Silva, SH., pimpinan redaksi Tabloid Gloria dan Ellen Pantouw, SE., founder ‘de writer learning’.

Seminar dihadiri sekitar 150 peserta dari gereja-gereja di berbagai penjuru Surabaya hingga Sidoarjo. Peserta yang datang sangat variatif mulai dari tim pengelola warta gereja, pendeta bahkan para majelis juga hadir. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun sangat beragam hingga moderator harus membatasi mengingat pendeknya waktu seminar.

Seminar dibuka dengan doa oleh Bedjo, S.E., M.Div., kepala Pusat Kerohanian Universitas Kristen Petra yang juga memberikan dukungan seminar. Keynote speaker, Eddy Pattinasarane, SH., M.Si memaparkan fungsi-fungsi warta gereja bagi kehidupan bergereja dan berjemaat. Marsefio Luhukay, S.Sos dari Jurusan Komunikasi UK Petra yang menjadi moderator seminar mempersilakan Lambertus L. Hurek dari koran Radar Surabaya untuk mengisi sesi pertama. Hurek menceritakan perkembangan media cetak di Amerika Serikat yang mulai berguguran. “Hanya media komunitas di Amerika Serikat yang bisa bertahan,” papar Hurek yang di awal karir jurnalistiknya dimulai dari media gereja.

David da Silva dari Tabloid Gloria menerangkan bagaimana manajemen Tabloid Gloria sehingga satu-satunya media rohani yang mencapai Hongkong ini bisa eksis sejak tahun 2000. Sesudah makan siang, sesi dibawakan Ellen Pantouw dari ‘de writer learning’. Ellen memberikan penajaman bagaimana cover yang dapat menarik perhatian pembaca. “Cover akan lebih hidup jika fotonya bukan foto gedung saja tetapi ada orangnya,” papar Ellen yang sudah lebih dari 14 tahun di dunia jurnalistik dan kepenulisan.

Pelbagai pertanyaan yang diajukan memang belum dapat menjawab kebutuhan peserta satu per satu. Apalagi waktu seminar juga cukup singkat, dimulai pukul 10.00 dan berakhir pukul 14.25. Namun dari sini dapat diketahui bahwa para peserta memiliki keinginan kuat untuk memaksimalkan pengelolaan warta gereja sehingga warta gereja tidak lagi dibuang sia-sia.

Langkah ke depan, ‘de writer learning’ akan mengadakan pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan oleh gereja mulai Juli 2009. Seminar ini juga didukung Bamag Kota Surabaya dan Bamag Kabupaten Sidoarjo serta Pusat Kerohanian Universitas Kristen Petra.


Terimakasih atas partisipasi peserta seminar dari gereja-gereja:

SURABAYA
GKT Hosana, GPdI Bukit Mulia, GIBI Duta Kristus, GTI Bukit Zaitun, GKI Jemursari, GKI Kutisari, GKI Jemursari, GPdI Cornelius, Gereja Pantekosta Jemaat Tuwowo, GKI Darmo Satelit, GBI Kristus Pencipta, GBI Shalom, GPPS Jemaat Sawahan, GKKA Arjuna, Gereja Mawar Sharon, GKI Ngagel, GKJW, HKBP Tanjung Perak, Gekari Bersinar, Gereja Kristus Tuhan Jemaat Nazareth, GPdI Alfa Omega, GKI Pondok Tjandra, GPdI Jl Delima, GPI Jalan Suci, Gereja Bethany Indonesia, GKT Hosana Bumi Permai, GKB Shaloom, Gereja Isa Almasih Surabaya, GKI Peterongan, GBI Sulung, GPIB Maranatha, Gekari Anggur Baru, Gereja Baptis Indonesia Immanuel, GKI Dasa, GKI Manyar, GMII Filadelfia, Gereja Pantekosta Tabernakel Johor, GSJPDI Adiyawarman, GSJA Eben Haezer, GPdI Air Hidup, Gereja Kemenangan Iman Indonesia, dan lain-lain.

SIDOARJO
GGP Delta Sari Indah, GBI Taman Sepanjang, GPdI Sidoarjo, GKI Sepanjang, GKKA Sidoarjo, GBI Centro, GBI Blessing Center, GPdI Elohim, para sukarelawan guru-guru agama Kristen dan lain-lain.

Ellen Pantouw:“Tinggalkan Warisan Kehidupan Melalui Menulis Buku”

Lebih dari 13 tahun di dunia penulisan tidak membuatnya bosan. Pendiri ‘de writer learning’ ini memiliki keinginan kuat untuk melahirkan penulis-penulis dari kalangan gereja. Ia melihat potensi penulis di gereja yang masih terabaikan. Berikut profil dan paparannya kepada Tabloid Gloria (edisi 457, Mei 2009):

“Saya mengenal dunia tulisan saat SMA. Awalnya hanya karena iseng saja. Benar-benar iseng dan ingin tahu, tidak lebih dari itu. Saya membaca pengumuman di koran Surabaya Post, yang berisi ajakan untuk menjadi jurnalis remaja. Setelah menjalani, ternyata ini merupakan dunia baru yang menarik perhatian saya. Saya juga merasa enjoy sekali. Di Surabaya Post, ada klub reporter pelajar yang disingkat Kropel sebagai wadah belajar jurnalis remaja, SMP dan SMA.

Banyak manfaat yang saya dapatkan saat menjadi jurnalis remaja. Jaringan pertemanan bertambah luas, bisa wawancara dengan tokoh dan artis, yang mana tidak bisa dilakukan jika kita tidak menjadi jurnalis. Saya yang dulu memiliki sifat pemalu bisa berubah menjadi pemberani karena proses menjadi jurnalis. Bayangkan, dulu saya harus memberanikan diri dengan segenap hati untuk tugas wawancara. Wawancara itu harus dapat, jika tidak diperoleh, bisa diomelin redaktur. Omelannya tidak seberapa, malunya sama teman-teman yang tak terhitung, hahaha…

Manfaat lain, mendapatkan ilmu pengetahuan yang tidak didapatkan di sekolah dan sifatnya bukan text book. Manfaat ekonomis tentu ada, honor tulisan jika tulisan saya dimuat. Meskipun paling sedikit hanya mendapatkan lima ribu rupiah, senangnya luar biasa sebab itu berarti saya bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri. Belum lama berada di Surabaya Post, ada pemilihan menjadi ketua umum Kropel. Saya ikut melamar lowongan ketua umum.

Melalui mekanisme pemilihan suara terbanyak, saya yang terpilih menjadi ketua umum. Sebagai ketua umum, ternyata ada beberapa tugas tambahan seperti presentasi ke beberapa SMA. Saya tidak menjadikan itu sebagai beban atau harus berhitung secara keuangan. Saya justru senang karena mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar berbicara di depan umum. Kesempatan itu saya pergunakan sebaik-baiknya sehingga sejak mahasiswa saya bisa memberikan pelatihan jurnalistik dasar. Saya mengikuti semua proses menjadi ketua umum Kropel, seperti mengikuti rapat panitia tim marketing Surabaya Post. Bahkan ketika harus menemani tim MTV Jakarta untuk mendampingi mereka keliling promosi, saya jalani.

Bagi saya, meskipun tidak mendapatkan manfaat ekonomis, saya mendapatkan manfaat lain seperti pengetahuan, pengalaman, jejaring. Terkadang, manfaat-manfaat itu harganya jauh lebih mahal daripada uang honorarium kepanitiaan. Oh ya, berkat menulis, saya jadi dikenal oleh guru-guru dan kepala sekolah. Mungkin karena dianggap turut mempromosikan eksistensi sekolah. Saat berada di kampus pun juga begitu. Mulai dari dosen, rektor dan pembantu rektor mengenal saya padahal saya tidak ikut di lembaga kemahasiswaan. Jadi, menulis memiliki banyak manfaat.


MEDIA, MIMBAR BARU

Saya sering ditanya orang, pelayanannya apa. Saya jawab, menulis. Lho itu kan pekerjaan, begitu jawabnya. Saya jadi mahfum bahwa pelayanan menulis belum dikategorikan sebagai sebuah pelayanan di gereja. Musik, bernyanyi, berdoa sudah ‘disahkan’ sebagai pelayanan. Itulah tantangannya. Satu hal yang belum disadari gereja ialah menulis merupakan mimbar pemberitaan kasih kepada masyarakat luas.

Media cetak dan elektronik merupakan mimbar baru. Contoh, reality show di televisi “Bedah Rumah” digagas oleh anak Tuhan. Berkat tayangan tersebut, banyak masyarakat mulai memperhatikan tetangganya yang miskin dan gotong royong memperbaiki rumah. Nilai-nilai kristiani dapat dibagikan secara luas kepada masyarakat kita melalui media.

Apalagi saat ini, media jejaring sosial di internet mulai facebook, blog, friendster, milis, dan lain-lain mulai berkembang pesat. Media tersebut digunakan mulai hanya sekedar memperbanyak teman maupun ke bisnis. Pertanyaan saya, apakah gereja sudah menyadari perkembangan media saat ini dan memanfaatkannya untuk memuliakan nama Tuhan?Semua pelayanan media membutuhkan satu unsur yaitu menulis. Film layar lebar pun membutuhkan naskah, apalagi di media cetak. Pelayanan bidang ini sangat penting supaya kita dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat, seperti Yesus yang sudah memberikan pencerahan kepada kita melalui Alkitab.

Ketika buku saya yang berjudul “230+ Sumber Pinjaman Untuk Usaha Anda” diterbitkan, banyak respon positif dari pembaca melalui sms, email dari pembaca di berbagai kota di Indonesia. Mulai Aceh, Surabaya, Jakarta, Kediri, Ambon, Jayapura dan sebagainya. Selain berkonsultasi, mereka berterimakasih karena buku saya ini membantu usaha mereka. Buku saya bisa menjadi berkat bagi banyak orang yang belum saya kenal melintasi pulau, generasi dan agama.


WARISAN KEHIDUPAN

Lebih dari 13 tahun saya menekuni dunia penulisan, dan saya tidak memiliki keinginan untuk meninggalkannya. Melalui tulisan, saya bisa mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada orang-orang yang belum saya kenal. Harapan saya, ketika Tuhan sudah menjemput, generasi selanjutnya tetap mendapatkan berkat dari buku-buku yang saya tulis.Saya sudah berhasil memberikan inspirasi kepada ibu Lanny Chandra untuk mewariskan resep-resep masakannya melalui sebuah buku yang ditulis bersama saya. Buku itu, tanpa disangka, telah melewati cetak ulang dua kali.

Melalui lembaga ‘de writer learning’, saya berupaya mencari mereka yang ingin belajar menulis. Saya melatih bagaimana cara menulis sesuai dengan pengalaman saya. Saya juga menyediakan waktu supaya para peserta bisa konsultasi langsung. Menulis itu sebuah seni dan keterampilan. Keterampilan harus dipraktekkan, tidak bisa dihafal saja. Semakin banyak berlatih akan semakin ahli. ‘de writer learning’ juga berupaya membuka jejaring kerjasama dengan media cetak rohani sebagai permulaan.

Rencana ke depan, akan membuka kerjasama dengan media-media umum. Saya menyadari bahwa penulis membutuhkan tempat untuk berekspresi. Melalui kerjasama tersebut, ada komunikasi antara penulis dan pihak media sehingga penulis bisa mengetahui kebutuhan media. Tidak cuman itu saja, penulis juga bisa memahami etika dan teknik menulis yang, maaf, sering diabaikan dengan memanfaatkan kata ‘pelayanan’.

Saya tidak akan pernah berhenti untuk melatih orang yang mau serius belajar menulis. Saat pelayanan di Nabire, saya sempat memberikan pelatihan menulis dasar di SMP Kristen “Anak Panah”. Ketika saya kembali lagi ke sana, saya diberitahu bahwa seorang anak SMP yang dulu ikut training, sekarang menjadi penulis. Ia suka menulis di koran setempat bahkan tulisannya dikoleksi gubernur Papua. Mendengar itu, saya senang, setidaknya saya dulu pernah ikut menanamkan benih menulis kepada Oktovianus Pogau, nama anak tadi.

Jadi, berapapun jumlah orang yang berhasil menjadi penulis, tidak jadi masalah. Saya akan terus menanamkan benih dan membajak. Mungkin tahun ini, dia belum berhasil. Mungkin 10 tahun lagi, dia baru berhasil menjadi penulis. Saya tidak pernah tahu karena segala sesuatu di dunia ini butuh proses. Saya hanya ingin mengerjakan bagian saya semasa masih hidup dan meninggalkan warisan kehidupan melalui tulisan.”



************************************************************************************


Buku yang sudah dibesut:

Tahun 2008:
1. “Variasi Masakan Mi”, Penerbit Gradienmediatama, Yogyakarta. Penulis utama: Lanny Chandra. Co-writer & Fotografer: Ellen Pantouw. (cetak ulang 2x)
2. “230+ Sumber Pinjaman Untuk Usaha Anda (Bonus CD), Penerbit Gradienmediatama, Yogyakarta. Penulis utama: Ellen Pantouw. (cetak ulang 2x)

Tahun 2006:
1. “Jerimia Rim: The Story of an Eagle that Changed a Generation”, Penerbit Kairos, Yogyakarta. Penulis utama: Meliani B. Rim. Co-writer: Ellen Pantouw.
2. Editor “Curing the Incurable” by Jack Coe, Penerbit: Majesty Books, Surabaya.
3. Editor “Mighty Manifestations” by Reinhard Bonnke. Penerbit: Majesty Books, Surabaya. 4. Editor “Betapa Dahsyat Kuasa Darah-Nya” Oleh D.A.R.E. Pello. Penerbit: Genesis One, Surabaya.
5. Editor “Calon Penghuni Neraka” oleh D.A.R.E. Pello. Penerbit: Genesis One, Surabaya.

Tahun 2004:
“Pdt. Peter Tjondro: 20 Tahun dalam Panggilan-Nya”, Penerbit: VisionCARE – MissionCARE, Jakarta. Penulis utama: Ellen Pantouw.

Tahun 1998:
Fotografer Foto Cover Buku “65 Tahun Prof. DR. J.E. Sahetapy, S.H., M.A.: Jangan Menjual Kebenaran”. Penerbit: ICCF - Forum Komunikasi Kristiani Indonesia, Surabaya.

Organisasi:
1995-1996, Ketua Umum Klub Reporter Pelajar (Kropel), Harian Sore Surabaya Post
2008 – sekarang, Pendiri ‘de writer learning, lembaga pembelajaran penulisan artikel, opini, buku dan jurnalistik

Pekerjaan:
1. Kontributor renungan Remaja dan Pemuda “Rajawali” (1996)
2. Jurnalis dan Fotografer Majalah “Penabur Kesatuan” diterbitkan FKKI Surabaya (1997-1998)3. Part timer di Humas UK Petra, bidang Penerbitan dan Dokumentasi: buletin dwimingguan universitas (1998-2000)
4. Jurnalis Tabloid Rohani Gloria (2000-2003)
5. Humas UK Petra, bidang Penerbitan dan Dokumentasi (2002-2005)
6. Dosen luar biasa mata kuliah Komunikasi Bisnis, Jurusan Manajemen, Universitas Kristen Petra (2004-2005)
7. Penulis buku, konsultan media (2004 – sekarang)
8. Kolumnis Tabloid Gloria (2008 – sekarang), Kontributor Tabloid Alternative – Jawa Pos Group (April 2009 – sekarang), Kontributor Majalah Bahana (2008 – sekarang)
9. Kontributor dan editor Renungan “Kemenangan” terbitan Global Satellite Network, Morris Cerrulo Ministry (2008)
10. Mentor program “Belajar Menulis Rohani” jarak jauh (angkatan ketiga, Juni 2009) yang diadakan ‘de writer learning. Program ini telah diikuti para peserta dari Surabaya, Jakarta, Jepara, Semarang, Palu, Kupang, Timika, Sorong dan Hongkong.

Pengalaman training:
1. Pernah memberikan training kepenulisan bagi siswa SMA, gereja dan umum di Surabaya, Malang, Denpasar, Makassar, Manado, Balikpapan, Banjarmasin, Kupang, Nabire-Papua, Jayapura (2000 – sekarang)
2. Trainer penulis dari tim Bamag kabupaten Sidoarjo bagi siswa di 4 Madrasah Ibtidaiyah dan SD Muhammadiyah di Porong sebagai bagian konseling pemulihan anak-anak korban lumpur yang diadakan Yayasan Tanggul Bencana Indonesia, Working Group Lumpur Panas Sidoarjo, ACT International, dan Badan Musywarah Antar Gereja Kabupaten Sidoarjo (Februari 2009 – sekarang)


Wednesday, May 13, 2009

DAFTAR ONLINE seminar sehari MAKSIMALKAN! POTENSI WARTA GEREJA

Ingin daftar seminar sehari "MAKSIMALKAN! Potensi Warta Gereja" secara online? Caranya sangat mudah:

1. Download salah satu icon di bawah ini.

(http://www.ziddu.com/download/4731902/SeminarSehariMAKSIMALKANPOTENSIWARTAGEREJA.doc.html)   atau


(http://www.ziddu.com/download/4731903/FORMULIRPENDAFTARAN.doc.html)

2. Isi formulirnya dan perhatikan petunjuk di dalamnya.

Pendaftaran ditutup 3 Juni 2009 atau jika jumlah peserta sudah memenuhi kapasitas. Kami tunggu pendaftaran Anda. Mari kita MAKSIMALKAN potensi warta gereja Anda! 

seminar sehari: "MAKSIMALKAN! POTENSI WARTA GEREJA"

'de writer LEARNING' (pembelajaran penulisan artikel, opini, buku & jurnalistik) dan TABLOID GLORIA - Jawa Pos Group mempersembahkan seminar sehari:

"MAKSIMALKAN! POTENSI WARTA GEREJA"
Sabtu, 6 Juni 2009, Pk. 09.00-14.00 di UK Petra, Gd. T lt. 5 (AV2), Jl. Siwalankerto Surabaya

Apakah jemaat membuang atau menyimpan warta gereja Anda? Berapa JUTA rupiah yang diperlukan untuk menerbitkan warta dalam setahun? Bagaimana cara efektif mengelola warta? Bagaimana cara mencari pengelola warta? Bagaimana membuat warta dengan memaksimalkan potensi jemaat? Temukan jawabannya di seminar sehari yang diadakan untuk memaksimalkan potensi warta gereja. Anda akan memahami mudahnya mengelola warta gereja seperti mengelola tabloid dan koran! JANGAN KETINGGALAN!

Pembicara:
1. Ellen Pantouw, SE. (Founder 'de writer LEARNING', trainer, penulis buku, kolumnis Tabloid Gloria & Tabloid inspirasi "Alternative" Jawa Pos Group, konsultan media)
2. Hurek Lambertus (Redaktur Radar Surabaya)
3. David da Silva, SH. (Pimpinan Redaksi Tabloid Gloria)
Moderator: Sandra Wantania

Investasi:
UMUM Rp 45 ribu per orang, Rp 75 ribu (2 orang), Rp 90 ribu (3 orang), MAHASISWA Rp 25 ribu. (Sudah termasuk seminar kit, snack, makan siang, Tabloid Gloria terbaru)

Seminar ini didukung oleh: Bamag Surabaya, Bamag Sidoarjo, Pusat Kerohanian UK Petra.

Informasi dan Pendaftaran:
1. 'de writer LEARNING' di 72328452, 72440452, 78291929, 08123112218, 081231139358, 081336390027
2. UK Petra di 2983197-98 (P. Ajie / B. Yanti)
3. Tabloid Gloria di 8288888 (B. Ely)
4. Bamag Surabaya di 5939460
5. Bamag Sidoarjo di 08155030837 (P. Harlen)
6. Daftar online http://www.onebooklife.co.cc
Pendaftaran terakhir 3 Juni 2009 atau jika sudah memenuhi kapasitas peserta.




Sunday, May 10, 2009

Kenali Sistem Pelatihan “Belajar Menulis Rohani”

Pelatihan “Belajar Menulis Rohani” menggabungkan teori dan praktek. Teorinya pun dibuat dengan bahasa sederhana, mudah dipahami dan dipraktekkan. Saat praktek, peserta tidak ditinggalkan berjalan sendirian. Bantuan asistensi penulisan yang menjadikan peserta yang belajar dari nol bisa menulis sebuah artikel dan dimuat di media cetak rohani. ‘de writer learning banyak mendapatkan peserta yang sama sekali tidak bisa menulis. Secara mengejutkan, pada pertengahan program berjalan, mereka justru bisa mendapatkan ide-ide yang luar biasa. Tidak hanya itu saja, mereka bisa memindahkan ide ke dalam bentuk tulisan.

Tabloid Gloria sebagai media partner mau menerima tulisan karya-karya peserta, tentu saja harus memenuhi standar Tabloid Gloria. Ada Alfius Thomas, gembala pemuda-pemudi GKII “Kasih Tuhan” Timika yang sudah menulis di Tabloid Gloria edisi 443 dan 452. Ada juga Yayas Odianto dari Palu yang tulisannya juga sudah dimuat di Tabloid Gloria edisi 452. Masih ada beberapa peserta dari angkatan pertama yang karya tulisannya masih menunggu waiting list untuk dapat dimuat di Tabloid Gloria. Ada juga peserta dari angkatan pertama yang mengirimkan karya tulisannya ke media cetak rohani lain dan berhasil dimuat.

Itu semua membuktikan bahwa menulis itu mudah untuk dipelajari dan tidak sesulit yang dibayangkan. Cara mengirimkan ke media cetak rohani pun juga mudah. Harapan ‘de writer learning sebagai penyelenggara ialah agar semakin banyak para penulis dari kalangan gereja yang muncul dan bisa menulis sesuai standar.  

Pelatihan ini merupakan pelatihan perorangan yang mandiri. Artinya, dituntut kemandirian para peserta untuk mau mengerjakan tugas-tugas yang sudah diberikan. Tanpa itu, keberhasilan akan sulit diraih. Pelatihan ini juga tidak mengharuskan peserta berada di Surabaya. Para peserta di luar Surabaya pun bisa mengikuti pelatihan jarak jauh ini. Para peserta dari luar negeri pun juga bisa mengikutinya.

Mengenai investasi yang diperlukan untuk mengikuti pelatihan dapat kembali dalam waktu 6 bulan jika para peserta mengikuti pelatihan sesuai prosedur. Katakanlah setiap 1 bulan, peserta mengirimkan satu artikel dan mendapatkan honorarium Rp 50 ribu, maka dalam 6 bulan sudah mendapatkan Rp 300 ribu. “Bagaimana kalau tulisan saya tidak dimuat?” Itulah yang membedakan pelatihan ini dengan pelatihan lainnya. Sebelum mengirimkan tulisan ke media cetak, tulisan Anda akan dibedah habis oleh mentor sehingga memenuhi persyaratan pemuatan di media cetak rohani. Kalau perlu, bahkan dibantu untuk mengirimkan ke media cetak. Mudah kan?

‘de writer learning berupaya menyederhanakan hambatan-hambatan yang seolah-olah berbentuk gunung es serta memberikan solusi dan pendampingan. Tunggu apalagi? Jangan ketinggalan dan jangan menunda, bergabunglah dengan angkatan ketiga.  



Ikuti Pelatihan “Belajar Menulis Rohani” Angkatan 3”:


Bukan Bicara Teori tapi Langsung Praktek

Banyak orang mengakui kesulitan untuk menulis. Banyak belajar teori menulis bukan berarti bisa menulis.

Pelatihan yang diadakan ‘de writer learning sangat mudah diikuti. Setelah mengikuti pelatihan, Anda akan menyadari bahwa menulis sangat mudah. Siapa yang bisa mengikuti pelatihan? Siapapun yang ingin belajar menulis. Siapapun diri Anda, apapun profesi dan pekerjaan Anda, apapun latar belakang pendidikan, jika memiliki kerinduan menulis, segera daftarkan diri Anda. Pelatihan “Belajar Menulis Rohani” angkatan 1 dan 2 diikuti para peserta dari berbagai macam profesi. Ada gembala jemaat, pendeta, majelis gereja, ibu rumah tangga, profesional, karyawan dan pensiunan. Lokasi para peserta pun berjauhan, ada yang di Surabaya, Jawa Tengah, Jakarta, Medan, Palu hingga ujung pulau Indonesia yaitu Papua. Peserta dari Papua ada yang dari Timika, Fakfak, Sorong. Tak lupa juga ada pembaca Tabloid Gloria dari Hongkong yang sedang mengikuti pelatihan ini.

Program menulis yang disediakan ada 4 yaitu:
1) Program Opini
Ada pendapat yang ingin Anda utarakan di media cetak? Anda suka menulis tulisan refleksi? Ingin menulis di rubrik Refleksi Tabloid Gloria? Kelas Opini akan mengajarkan kepada Anda bagaimana caranya!
2) Program Kesaksian
Banyak kesaksian di sekitar kita yang dapat kita tuliskan dan menjadi berkat. Tahukah Anda bahwa tulisan kesaksian sangat disukai anak-anak Tuhan? Tulisan kesaksian juga selalu dicari media cetak rohani termasuk di Tabloid Gloria! 
3) Program Renungan 
Berapa jumlah buku renungan di Indonesia? Anda ingin tahu bagaimana mudahnya membuat renungan? Ikuti kelas ini, siapkan diri Anda! 
4) Program Liputan
Banyak acara gereja di sekitar kita, seminar, retreat, lokakarya, KKR dan sebagainya. Pasti Anda pernah mengikutinya.Jangan hanya menjadi peserta, sekarang saatnya Anda membagikan berkat ke orang lain? Ikuti program ini!

Fasilitas:
1. Modul berupa buku. Isi buku bukan hanya teori tetapi juga bagaimana praktek menulis, trik-trik menulis serta pengalaman pribadi mentor.
2. Mentoring per individu selama masa kursus melalui email dan sms 24 jam.
3. Gratis jasa editing tulisan Anda untuk mempercantik tulisan sebelum dikirim ke media cetak selama masa kursus.
4. Komentar dari mentor, evaluasi tulisan dan tips-tips penajaman tulisan Anda.
5. Tabloid Rohani Gloria satu edisi.

Benefit yang Anda peroleh, Anda akan memahami bagaimana cara membongkar semua hambatan menulis, mengendus tema-tema tulisan yang dapat diterima redaksi. Menguasai teknik menggali ide, menguasai cara-cara menembus redaksi majalah/tabloid rohani, mendapatkan alamat kontak media cetak rohani di Indonesia. Menguasai kiat menulis seraya menambah uang saku BULANAN, mengetahui cara menjadi koresponden, mengetahui bagaimana cara melayani dan menjadi berkat melalui tulisan lintas generasi dan lintas pulau. Serta mendapatkan teknik cara mengembalikan uang investasi kursus yang Anda keluarkan dengan menulis di media cetak rohani.

MENTOR: Ellen Pantouw, penulis buku rohani dan bisnis, konsultan penulisan dan penerbitan yang sudah berpengalaman lebih dari 12 tahun. Investasi per kelas Rp 350.000. Diskon 10% untuk yang mengikuti 2-3 kelas. Diskon 15% untuk 4 kelas sekaligus. Pendaftaran sebelum 22 Mei 2009 akan mendapatkan tambahan diskon 10% (berlaku semua kelas). Pendaftaran 22 Mei – 06 Juni berlaku harga normal. Kelas berlangsung selama 1 bulan, dimulai Selasa, 09 Mei 2009. Khusus bagi peserta dari Hongkong mundur 2 minggu. Biaya kirim melalui pos ditanggung peserta. Bingung memilih program? Konsultasi dan pendaftaran melalui sms 08123112218 atau email: onebooklife@gmail.com, simak pengumuman di Tabloid Gloria dan http://onebooklife.co.cc.


Tuesday, April 28, 2009

Mengapa Kita Lebih Terobsesi Baca Buku Pendeta Luar Negeri?

Kita selalu bangga dengan buku yang dikarang oleh pendeta dari luar negeri. Kita justru, tanpa disadari, tidak pernah bangga dengan karya buku pendeta Indonesia.

Berbicara soal mengapa kita lebih terobsesi membaca buku karangan pendeta luar negeri, itu memang tidak lepas dari budaya bangsa Indonesia. Coba lihat sekeliling kita! Kita lebih bangga menggunakan jas, blazer daripada menggunakan pakaian batik. “Batik untuk pak camat,” demikian guyonan yang sering dengar di telinga kita. Padahal dunia internasional memperebutkan hak penemuan kain batik. Kita malah sering tidak menggunakannya bahkan kalau perlu batik dibuang dari Indonesia dan diganti dengan pakaian gaya barat.
Apa lagi? Kita juga bangga makan makanan dari luar negeri, mulai dari jenis pizza, steak, burger dan sebagainya. Makanan dalam negeri seringkali menjadi terpinggirkan. Fenomena ini ternyata juga berpengaruh pada bahan bacaan atau buku yang kita baca. Kita lebih, boleh dibilang, sangat bangga dengan buku-buku terbitan dari luar negeri ketimbang buku-buku anak negeri.

“Mutu buku luar negeri berbeda dengan dalam negeri.” Alasan itu seringkali yang diungkapkan oleh penggemar buku-buku luar negeri. Ya, tentu saja karena negara Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Sementara negara-negara di Amerika dan Eropa sudah menjadi negara maju. Otomatis kemajuan ini juga di segala bidang, mulai dari cara berpikir, cara pandang hingga cara penyelesaian suatu masalah.

Kondisi tersebut boleh dibilang sudah menjadi budaya dan sudah biasa. Kondisi tersebut juga memiliki dampak terhadap gereja. Buku-buku terbitan dengan pengarang luar negeri selalu laris manis jika dibandingkan dengan buku hasil karya anak bangsa. Boleh ditanya ke penerbit manapun yang menerbitkan buku-buku rohani. Bahkan di Indonesia, ada beberapa penerbit rohani yang lebih suka untuk membeli hak terjemahan buku-buku yang dikarang oleh pendeta-pendeta terkenal di dunia. Penerbit-penerbit tersebut lebih mengkhususkan untuk menerbitkan buku-buku karangan pendeta luar negeri.

Apa yang menjadi alasannya? Tentu saja karena buku-buku karangan pendeta luar negeri laris manis ketika dijual di toko. Buku-buku karangan pendeta dalam negeri sangat susah menjualnya. Sebuah penerbit rohani terkenal di Indonesia bahkan tidak bersedia menerbitkan buku-buku pendeta dalam negeri karena pernah mendapatkan pengalaman susah menjual buku pendeta terkenal di Indonesia. Berhitung bisnis maka mereka memutuskan untuk tidak pernah menerbitkan lagi buku-buku karya pendeta dalam negeri. Itu pengalaman nyata yang saya alami saat membantu klien saya mencari penerbit rohani.

Sangat mengenaskan ya… bahwa ternyata penerbit rohani di Indonesia lebih mementingkan hitungan keuntungan daripada memikirkan untuk menumbuhkan potensi pendeta dan anak-anak Tuhan di Indonesia. Kalau penerbit rohani saja tidak mau, wah apalagi penerbit umum… (Anda bisa menjawabnya sendiri!)

Tak heran, kalau kita mau melihat pergerakan kegerakan umat Tuhan di Indonesia selalu diwarnai dari barat. Artinya, ada kegerakan baru di barat maka Indonesia mengikuti. Kegerakan baru lagi di negara barat maka Indonesia selalu mengikuti. Istilah, selalu mengekor, mengekor dan mengekor sehingga menyebabkan kita tidak lagi menjadi percaya dengan kemampuan diri sendiri. Kalau tidak mengekor dari barat rasanya kurang sreg.

Tuhan pasti memberikan kegerakan di setiap negara sesuai dengan waktu Tuhan. Yeremia 29:7 mengatakan: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Kalau kita sungguh-sungguh berdoa dan berbuat nyata bagi bangsa ini maka Tuhan akan memberikan kegerakan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kita tidak perlu susah-susah mengekor kegerakan-kegerakan dari barat yang belum tentu cocok diaplikasikan di Indonesia.

Budaya Indonesia dan barat tidak sama sehingga ada beberapa hal yang memang bisa diaplikasikan dan ada yang tidak. Justru yang harus kita ambil adalah perjuangan di balik lahirnya kegerakan-kegerakan jemaat Tuhan di barat. Bagaimana perjuangan mereka, bagaimana semangat mereka sehingga karya Tuhan bisa dinampakkan begitu nyata pada masyarakat dan negaranya. Bukannya mencontoh persis model kegerakannya lalu diaplikasikan secara mentah di Indonesia, yang belum tentu bisa diterima malah bisa menjadi perpecahan tersendiri.

GALI POTENSI PENDETA DALAM NEGERI
Indonesia tidak kalah dari luar negeri, dibuktikan dengan banyaknya anak Indonesia yang berhasil menjuarai pertandingan skala internasional dari berbagai bidang. Itu membuktikan Indonesia memiliki potensi yang dapat diperhitungkan di dunia internasional. Hanya saja karena kita terlalu lama dijajah sehingga pikiran kita selalu mengatakan bahwa barat is the best. Faktanya, belum tentu!

Memunculkan para penulis dari kalangan jemaat memang tidak mudah. Pelayanan penulis tidak populer di kalangan gereja. Peminat pelayanan musik sangat banyak sehingga banyak jemaat yang berbondong-bondong untuk mendaftar. Pendaftar pelayanan penulis sangat sedikit bahkan cenderung nol, itu yang menyebabkan tidak ada pelayanan penulis di gereja.

Menurut saya, dari berbagai pengalaman memberikan pelatihan jurnalistik antar pulau, asalkan kita bisa menggali dengan tepat maka kita akan menemukan bakat-bakat terpendam dari jemaat. Itu juga yang saya lakukan dalam pelatihan dua jam di sebuah gereja di Surabaya. Hanya dalam waktu 2 jam, saya bisa menemukan bakat terpendam jemaat dalam hal tulis menulis yang membuat gembala gereja geleng-geleng kepala karena baru tahu banyak jemaat suka menulis. Jadi, ini bukan masalah tidak ada penulis di dalam gereja Anda. Masalahnya adalah bagaimana cara kita menggali potensi jemaat, pengurus gereja, majelis dan pendeta di dalam gereja serta menjadikan pelayanan menulis ini tidak membosankan.

Penggalian potensi diri ini tidak bisa dilakukan sendirian. Meminjam perumpamaan Yesus, tidak baik seekor domba berjalan sendirian di padang belantara. Demikian juga dengan pelayanan menulis, seorang penulis lebih sulit bertumbuh daripada adanya sekelompok penulis. Gereja seharusnya bisa memfasilitasi hal ini. Demikian juga dengan penerbit umum yang menerbitkan buku-buku rohani ataupun penerbit-penerbit yang secara khusus mengkampanyekan diri untuk menerbitkan buku rohani. Memunculkan penulis di kalangan jemaat dan pendeta untuk Indonesia butuh perjuangan, terlebih saat ini. Perjuangan ini harus bersama-sama sehingga penulis-penulis baru muncul dan karyanya dapat diterima masyarakat Indonesia.

Bayangkan, jika muncul penulis-penulis baru di Indonesia, alangkah indahnya warna dunia perbukuan kita saat ini. Itu pun tidak boleh berhenti sampai di Indonesia saja. Sudah saatnya Indonesia melaksanakan ‘ekspor’ karya penulis jemaat dan pendeta dalam negeri. Sudah saatnya Indonesia mewarnai dunia internasional, bukan hanya diwarnai!


Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 451 (Awal Mei 2009)

Ellen Pantouw

Mengapa Pendeta Indonesia Ogah Menulis?

Jumlah pendeta di Indonesia sangat banyak. Munculnya berbagai sinode baru semakin menambah jumlah pendeta. Hasil karya lisan dapat kita dengar setiap minggu melalui khotbah. Akan tetapi hasil karya tulisan sangat jarang bahkan bisa dihitung dengan jari.

Sebelum Anda membaca lebih lanjut artikel ini, saya ingin mempertegas bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk menimbulkan ketidakdamaian. Juga tidak ada maksud untuk memperolok pihak tertentu. Saya menulis ini dengan tujuan untuk mengkritisi penyebab kemandulan pelayanan menulis di gereja.

Berapa banyak karya buku yang dihasilkan oleh pendeta Indonesia? Tidak banyak. Anda boleh cek ke penerbit manapun, para pendeta di Indonesia sangat jarang mengeluarkan karya buku. Kalaupun ada, kita akan mendengar beberapa nama yang tidak sampai hitungan pada jari kesepuluh. Hanya ada satu pendeta yaitu pendeta Eka Darmaputera yang suka menulis, sayangnya beliau sudah almarhum. Tulisannya tidak hanya termuat di surat kabar skala nasional tetapi kita juga bisa membaca buku-buku besutan Eka Darmaputera.

Mungkin karya buku masih berada di dalam ruang lingkup yang besar. Bagaimana kalau berapa banyak karya tulis dari pendeta Indonesia? Ternyata tidak banyak juga bahkan cenderung susah meminta seorang pendeta untuk menulis. Perihal ini, Anda boleh menanyakan ke redaksi-redaksi majalah dan tabloid rohani seperti tabloid Gloria. Mereka akan menceritakan betapa susahnya meminta seorang pendeta untuk menulis. Kawan-kawan di redaksi harus giat ‘mengejar’ pendeta untuk menulis. SMS untuk mengingatkan, telepon untuk menagih tulisan. Susah sekali. Sangat mudah apabila kita meminta pendeta untuk khotbah. Tidak perlu ‘dikejar-kejar’.

Sangat disayangkan kalau pemberitaan Injil hanya melalui mimbar saja pada hari Minggu. Pemberitaan Firman Tuhan melalui lisan, hanya dapat diingat oleh jemaat sebesar 20% saja. Angka 20% merupakan hasil penelitian tentang seberapa besar manfaat komunikasi lisan yang dapat diterima oleh pendengarnya. Itu sebabnya mengapa para siswa dan mahasiswa diminta untuk mencatat paparan dari guru dan dosen. Mencatat akan menambah daya serap materi yang diberikan oleh guru dan dosen.

Kebanyakan jemaat hanya mendengarkan Firman Tuhan tanpa mencatat. Saat kebaktian, materi yang dapat diingat jemaat hanya 20%. Usai kebaktian, biasanya jemaat berbondong-bondong datang ke kantin gereja untuk makan dan minum, berinteraksi dengan jemaat lain. Pulang ke rumah, yakinkah Anda bahwa materi 20% yang diingat jemaat tidak akan berkurang lagi? Itulah sebabnya para pendeta perlu menulis juga. Khotbah yang disampaikan pada hari Minggu belum cukup untuk meningkatkan kedewasaan rohani para jemaat.

Perhatikan dampak dari sebuah tulisan seorang pendeta di media cetak atau membuat karya buku. Seorang jemaat Anda membeli buku atau majalah atau tabloid yang memuat tulisan Anda. Usai membaca dan ia merasa mendapatkan berkat maka ia akan berbicara kepada teman-temannya. Ia akan merekomendasikan media cetak tersebut untuk dibaca oleh teman-temannya. Kalau teman-temannya mendapatkan berkat juga maka mereka akan merekomendasikan teman-temannya yang lain untuk membaca, demikian seterusnya.

Sebuah tulisan Anda dapat dibawa jemaat ke berbagai tempat kemanapun kaki mereka melangkah. Mereka bisa membawanya ke kampung halaman, ke negeri tetangga atau kemanapun mereka pergi. Kalau Anda hanya berkhotbah maka khotbah Anda hanya didengarkan jemaat saja. Ketika Anda menulis, maka tulisan Anda bisa melanglang buana dan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah Anda jangkau selama hidup.

Mungkin ada yang berkomentar begini: “Khotbahnya kan bisa direkam dan kasetnya bisa dijual atau dibagi-bagikan.” Itu bagus tetapi saya yakin tidak semua gereja memiliki alat perekam khotbah. Lebih tepatnya, tidak semua gereja juga memiliki kemampuan untuk membeli alat perekam khotbah. Melalui tulisan, Anda tidak perlu membeli alat perekam khotbah. Tulisan merupakan sebuah alat penginjilan yang murah meriah. Para pembaca tulisan Anda pun tidak perlu investasi sebuah tape untuk mendengarkan kaset khotbah. Cukup ada penerangan, langsung baca. Murah kan?

Kita yang tinggal di perkotaan mungkin berpikir bahwa harga sebuah tape itu murah. Kita perlu ingat juga bahwa yang butuh penginjilan, pengayaan Firman Tuhan bukan hanya orang kota. Bahkan di perkotaan pun masih ada jemaat yang tinggal di bawah garis kemiskinan. Makan saja masih susah apalagi membeli kaset khotbah berikut tape beserta baterainya. Jelas saja alat sederhana itu tidak mungkin akan terbeli. Jadi, melalui tulisan, Anda berinvestasi secara murah, jemaat pun juga sama.

TULISAN PENDETA DITOLAK REDAKSI
Salah satu alasan mengapa pendeta jarang menulis adalah tulisannya sering ditolak redaksi majalah dan tabloid serta penerbit buku. Sayangnya banyak yang putus asa dan tidak mau melanjutkan atau bertanya secara aktif mengapa tulisannya tidak dimuat. Padahal kita bisa menanyakan kepada redaksi atau penerbit buku, mengapa mereka menolak tulisan kita.

Mengapa redaksi dan penerbit menolak tulisan Anda? Saya memerhatikan seringkali para pendeta saat menulis sebuah tulisan menyamakan dengan membuat khotbah. Taburan ayat menghiasi dari paragraf pertama hingga akhir. Viuw… Saya pernah mengedit tulisan renungan seorang pendeta. Bayangkan, ada 17 ayat di dalam tulisan renungannya! Tulisan renungan itu tidak panjang, biasanya maksimal ½ halaman. 17 ayat ada di dalam tulisan renungan ditambah lagi ada 2 ayat yang dijabarkan atau ditulis. Wah, ini sama saja dengan memindahkan ayat di Alkitab ke dalam tulisan. Tentu saja, tulisan ini tidak berbobot. Kalau hanya memindahkan ayat dari Alkitab ke tulisan, ya, anak kecil pun bisa.

Menulis untuk dikirimkan ke majalah dan tabloid rohani berbeda dengan membuat khotbah. Pencantuman ayat-ayat sebisa mungkin dihindari. 1-3 ayat boleh saja dicantumkan untuk mempertegas tulisan Anda. Mengapa? Majalah dan tabloid rohani di Indonesia kebanyakan bersifat popular (bukan popular dengan makna terkenal). Artinya, disajikan dengan gaya bahasa umum yang sederhana dan enak dibaca.

Berbeda jika Anda mengirimkan tulisan untuk jurnal kristiani atau materi sekolah teologia. Tentu saja pengayaan ayat harus diperbanyak. Anda juga akan menemukan banyak ayat sebagai perbandingan. Pembaca Anda adalah orang-orang yang ingin mendalami Firman Tuhan secara ilmiah.

Sementara majalah dan tabloid rohani dibaca oleh orang awam yang kebanyakan kurang memahami pengayaan Firman Tuhan secara ilmiah. Pembaca awam kebanyakan ingin mendapatkan informasi secara aplikatif. Bagaimana mengaplikasikan Firman Tuhan ke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya.

Jika tulisan Anda bertaburkan ayat, tentu saja akan ditolak oleh redaksi. Mengapa redaksi menolak? Jujur saja, karena pembacanya tidak suka membaca tulisan seperti itu. Jadi, sesuaikan tulisan Anda dengan media cetaknya. Anda tidak bisa idealis seperti begini: “Saya pendeta dan saya menulis harus banyak ayat.” Anda akan lelah sendiri karena tulisan Anda akan ditolak oleh redaksi. Lagipula, seperti kata saya sebelumnya, pembaca tidak begitu suka membaca karya Anda. Saya ingin lebih mempertegas lagi, cobalah tanya ke jemaat Anda, berapa orang yang akan membuka Alkitab dan membaca ayat-ayat di tulisan Anda yang dimuat di media cetak. Saya jamin tidak banyak. Singkatnya, ayat yang terlalu banyak di artikel popular akan dilewatkan pembacanya. Atau sekedar tahu saja, ayatnya di sini tapi mereka tidak akan membuka Alkitab.

Sesuaikan tulisan Anda dengan medianya. Bukankah lebih baik kita menggunakan gaya bahasa sederhana supaya para petani bisa memahami maksud kita? Daripada menggunakan bahasa ilmiah tetapi para petani tidak memahaminya? Mana yang Anda pilih? Para pendeta, marilah belajar menulis! Hiasi media di dunia ini dengan karya tulis Anda!

Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 450 (April 2009)

Ellen Pantouw

Menulis Bukan Pelayanan Gereja?

Banyak diantara kita, anak-anak Tuhan yang tidak memahami pentingnya menulis. Terkadang menulis juga bukan dianggap sebagai sebuah pelayanan. Lebih tepatnya tidak pernah diperhitungkan oleh banyak gereja. Itulah sebabnya jumlah penulis dari kalangan gereja sangat sedikit.

Gereja sendiri juga tidak pernah menumbuhkan komunitas penulis. Pemaknaan pelayanan di dalam gereja pun sangat terbatas. Mungkin juga karena gereja sendiri yang memberi batasan pada diri sendiri sehingga tanpa disadari hal ini sudah menjadi sebuah konsensus bersama. Bentuk pekerjaan yang sudah dikategorikan melayani biasanya adalah pembawa firman, pemimpin pujian, para singer, tim musik, tim tarian, pendoa syafaat, kolektan, penerima jemaat (usher), tim kunjungan, pengurus gereja. Di luar itu, dikategorikan sebagai non pelayanan atau kata kerennya, sekuler.

Diakui atau tidak, itulah wajah gereja kita sebenarnya. Kalau seseorang belum mengambil pekerjaan tersebut maka dia belum dianggap ‘sah’ melayani Tuhan. Seolah-olah ada batasan tersendiri antara pekerjaan pelayanan dan non pelayanan. Akibatnya, bidang-bidang pekerjaan yang tidak disahkan menjadi bentuk pelayanan, tidak pernah diakomodir oleh gereja. Tak heran kalau kekosongan tersebut akhirnya muncul, seperti kekosongan para penulis dari kalangan gereja.

Pelayanan menulis sendiri belum disahkan sebagai bentuk pelayanan. Belum diakui sebagai bagian dari pelayanan. Tak heran, kita bisa menemukan banyak jemaat yang memiliki potensi tetapi mati. Kalau jemaat mau mengembangkannya, ia harus mengembangkan di luar gereja, barulah potensi tersebut tak mati. Ketika gereja tidak mau mengembangkan sehingga jemaat harus mengembangkan potensinya di luar gereja, bukankah ini yang dinamakan tragis?

Padahal melalui tulisan, kita dapat mewarnai dunia. Tulisan dapat memberikan pencerahan kepada banyak orang. Rasul Paulus sendiri juga menulis untuk dapat menjangkau orang-orang yang tak dapat ia jangkau. Sorga pun juga meninggalkan tulisan yaitu Alkitab agar anak-anakNya mengerti jalan-Nya. Melalui tulisan, kita dapat memengaruhi orang, memotivasi banyak orang. Melalui tulisan, orang bisa menangis dan bertobat. Bukankah ini sebuah bentuk pelayanan yang tingkat kepentingannya sama dengan pengabaran Injil? Jika penting, sudah sepatutnya gereja mulai memberikan perhatian dan mengembangkan bidang pelayanan ini.
Bidang menulis termasuk sebuah bidang pelayanan yang harus mulai diberikan perhatian oleh gereja. Bukan untuk bermaksud membela kaum tertentu. Bidang pelayanan ini memiliki tingkat urgensi pada saat ini. Bayangkan bagaimana kontribusi pelayanan menulis untuk mewarnai dunia!

Jika Anda menulis opini di surat kabar, tulisan Anda dapat mencerahkan banyak pihak dari masyarakat awam hingga pejabat negara. Jika Anda menulis buku, tulisan Anda bisa memberikan pencerahan kepada pembaca buku dari banyak pulau di Indonesia. Jika Anda menulis naskah sinetron atau naskah film, tulisan Anda bisa memengaruhi banyak penikmat televisi. Hanya melalui tulisan, Anda dapat menjangkau dan melayani masyarakat baik secara individu maupun berkelompok.

Jadi, bagaimana Anda menilai bentuk pelayanan menulis ini? Apakah termasuk pelayanan atau tidak? Walau sampai hari ini, belum ‘disahkan’ sebagai bentuk pelayanan, itu tidak penting dan tidak menjadi masalah. Alkitab mengatakan bahwa segala sesuatu dilihat dari buahnya. Lebih penting adalah memaknai hasil tulisan kita yang dapat memberikan pencerahan kepada banyak orang dari segala usia, segala kalangan ekonomi, suku, agama, ras dan yang mampu menjangkau semua pulau.

Dimuat di Tabloid Gloria Edisi 449 (April 2009)

Ellen Pantouw

Wednesday, April 1, 2009

SESUAIKAN MINAT DAN KEMAMPUAN, BARU PILIH PROGRAMNYA


Ingin belajar menulis tetapi bingung memilih program? Memilih program merupakan langkah awal Anda untuk belajar menulis sesuai dengan minat dan kemampuan Anda.

Menulis sangat menyenangkan dan mudah. Banyak hal yang membuat kita terkendala dalam menulis. Apa saja kendala Anda? Mematahkan kendala sangat mudah sekali. Apapun kendalanya bisa dipatahkan. Rahasia mematahkan kendala dalam menulis itu yang membuat saya enjoy menulis selama 12 tahun lebih. Saya akan membagikan rahasia mematahkan kendala dalam penulisan di dalam kursus ini. Rahasia yang saya bagikan itu bukan teori tapi pengalaman pribadi yang sudah dipraktekkan.

Lalu bagaimana memilih program untuk Anda? Anda harus tahu dulu apa yang akan dipelajari di setiap program.

“Program Opini” akan mengajarkan Anda bagaimana cara mengutarakan pendapat melalui tulisan di media cetak. Juga mengajarkan bagaimana menggabungkan antara data yang Anda miliki dengan pendapat Anda menjadi sebuah tulisan yang dapat diterima sesuai standar redaksi. Dalam program ini, kita akan belajar bagaimana menulis opini dan refleksi.

“Program Kesaksian” mengajarkan bagaimana menulis kisah kesaksian. Ada banyak kesaksian di sekitar kita yang dapat kita tuliskan dan menjadi berkat. Kita akan belajar bagaimana memilih kisah kesaksian sesuai standar media dan bagaimana menuliskannya. Tulisan kesaksian juga sangat disukai anak-anak Tuhan dan dicari media rohani.

“Program Renungan” mengajarkan bagaimana membuat sebuah tulisan renungan. Coba Anda hitung berapa banyak jumlah renungan yang diterbitkan di Indonesia! Kalau Anda sudah menguasai caranya, Anda bisa mengirimkan tulisan renungan Anda ke redaksi. Bagi peserta program “Renungan”, siapkan diri sebab ada kejutan khusus dari Tabloid Gloria.

“Program Liputan” mengajak Anda membagikan berkat pengetahuan yang Anda peroleh dari menulis seminar, retreat, lokakarya, KKR rohani dan sebagainya. Anda pasti pernah mengikutinya kan? Jangan hanya menjadi peserta saja, sekarang saatnya membagikan berkat kepada orang lain!

Apakah Anda sudah menemukan minat Anda? Sekarang hitung kemampuan Anda!

Jika Anda memiliki banyak aktivitas di kantor maupun ibu rumah tangga, Program Opini dan Program Renungan sangat cocok untuk Anda. Kedua program ini tidak akan menyita aktivitas. Anda bisa mengerjakan aktivitas sekaligus menulis. Program Kesaksian dan Program Liputan sangat cocok bagi Anda, anak-anak muda, staf pelayanan di gereja/parachurch, majelis, pendeta. Program Kesaksian dan Liputan memerlukan waktu untuk bertemu orang dan melakukan wawancara. Program Kesaksian dapat diikuti oleh Anda yang punya kesibukan di kantor maupun rumah tangga, syaratnya gunakan waktu senggang untuk bertemu orang. Kalau Anda berminat menjadi koresponden media rohani seperti Tabloid Gloria maka ikuti Program Liputan.

Jadi, menulis di Tabloid Gloria tidak sesulit yang dibayangkan! Pilih programnya, sesuaikan minat dan kemampuan Anda!



Sunday, March 8, 2009

BELAJAR MENULIS ROHANI ANGKATAN KE-2 DIBUKA!

Ingin menjadi berkat melalui tulisan?
Ingin meninggalkan warisan dan catatan hidup kepada anak cucu?


Ikuti kursus "Belajar Menulis Rohani" angkatan ke-2 yang diselenggarakan oleh ‘de writer-training and consultant. Kursus ini menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh. Modul akan dikirimkan kepada peserta, ada penugasan serta tantangan. Anda akan mendapatkan bimbingan, penajaman fokus tulisan dan bantuan editing selama masa kursus. Anda juga akan memahami bagaimana mudahnya menulis dan mengeluarkan ide dari otak ke bentuk tulisan.

Anda bisa memilih kelas-kelas yang Anda minati.

1) Kelas Opini
Ada pendapat yang ingin Anda utarakan di media cetak? Anda suka menulis tulisan refleksi? Ingin menulis di rubrik Refleksi Tabloid Gloria? Kelas Opini akan mengajarkan kepada Anda bagaimana caranya!

2) Kelas Kesaksian
Ada banyak kesaksian di sekitar kita yang dapat kita tuliskan dan menjadi berkat. Tahukah Anda bahwa tulisan kesaksian sangat disukai anak-anak Tuhan? Tulisan kesaksian juga selalu dicari media cetak rohani termasuk di Tabloid Gloria!

3) Kelas Renungan
Berapa jumlah buku renungan di Indonesia? Anda ingin tahu bagaimana mudahnya membuat renungan? Ikuti kelas ini, siapkan diri Anda sebab ada kejutan khusus dari Tabloid Gloria bagi peserta kelas Renungan.

4) Kelas Liputan
Banyak acara gereja di sekitar kita, seminar, retreat, lokakarya, KKR dan sebagainya. Pasti Anda pernah mengikutinya. Jangan hanya menjadi peserta, sekarang saatnya Anda membagikan berkat ke orang lain! Ikuti kelas ini!

Fasilitas:
1.Modul berupa buku. Isi buku bukan hanya teori tetapi juga bagaimana praktek menulis, trik-trik menulis serta pengalaman pribadi mentor. Modul akan dikirimkan 1 (satu) kali yaitu di awal pembelajaran. Modul terdiri atas materi pelajaran untuk 4 minggu (1 bulan). Anda akan mendapatkan penugasan per minggu.
2.Mentoring per individu selama masa kursus melalui email dan sms 24 jam.
3.Gratis jasa editing tulisan Anda sebelum dikirim ke media cetak selama masa kursus.
4.Komentar dari mentor, evaluasi tulisan dan tips-tips penajaman tulisan Anda.
5.Tabloid Rohani Gloria satu edisi (saat pengiriman modul).

Benefit yang Anda peroleh, Anda akan:
* Membongkar semua hambatan menulis
* Mengendus tema-tema tulisan yang dapat diterima redaksi
* Menguasai teknik menggali ide
* Menguasai cara-cara menembus redaksi majalah/tabloid rohani
* Mendapatkan alamat kontak media cetak rohani di Indonesia
* Menguasai kiat menulis seraya menambah uang saku
* Mengetahui cara menjadi koresponden
* Mengetahui bagaimana cara melayani dan menjadi berkat melalui tulisan lintas generasi dan lintas pulau.
* Mendapatkan kesempatan untuk menulis di Tabloid Gloria.

MENTOR:
Ellen Pantouw, penulis buku rohani dan bisnis, konsultan penulisan dan penerbitan yang sudah berpengalaman lebih dari 12 tahun. Ellen Pantouw mengawali karir kepenulisan saat SMA di koran yang terbit di sore hari, Surabaya Post. Pernah menjadi wartawan di majalah Penabur Kesatuan yang diterbitkan Forum Komunikasi Kristiani Indonesia. Bergabung menjadi wartawan di Tabloid Rohani Gloria – Jawa Pos Group sejak 2000-2003. Tulisannya pernah dimuat di koran Surabaya Post, Majalah Bahana, Tabloid Gloria, Majalah TEMPO, renungan Rajawali, renungan Kemenangan (Morris Cerullo ministry) dan sebagainya.

Buku-buku yang pernah ditulis antara lain:
1. “Datanglah Kerajaan-Mu, 20 Tahun Pelayanan Peter Tjondro” (2004)
2. “Jerimia Rim, The Story of an Eagle that Changed a Generation” (2006) co-writer; sudah cetak ulang 3x.
3. “230+ Sumber Pinjaman Bagi Usaha Anda” (2008); sudah cetak ulang 2x.
4. “Variasi Masakan Mie” (2008) co-writer dan fotografer; sudah cetak ulang 2x.

Buku-buku yang pernah diedit antara lain:
1. “Betapa Dahsyat Kuasa Darah-Nya” oleh D.A.R.E. Pello
2. “Calon Penghuni Neraka” oleh D.A.R.E. Pello
3. “Curing the Incurable” oleh Jack Coe
4. “Mighty Manifestations” oleh Reinhard Bonnke
5. Dan sebagainya


INVESTASI
Investasi per kelas Rp 350.000.

Diskon 10% untuk yang mengikuti 2-3 kelas.
Ikut 2 kelas membayar biaya investasi Rp 630.000
Ikut 3 kelas membayar biaya investasi Rp 945.000

Diskon 15% untuk 4 kelas sekaligus.
Ikut 4 kelas membayar biaya investasi Rp 1.190.000

Pendaftaran sebelum 26 Maret 2009 akan mendapatkan tambahan diskon 10% (berlaku semua kelas). Pendaftaran 26 Maret - 20 April berlaku harga normal.

Investasi pendaftaran awal satu kelas Rp 315.000
Investasi pendaftaran awal 2 kelas Rp 567.000
Investasi pendaftaran awal 3 kelas Rp 850.500
Investasi pendaftaran awal 4 kelas Rp 1.071.000

Kelas berlangsung selama 1 bulan, dimulai Selasa, 21 April 2009.
Bonus bagi peserta yang mengikuti kursus lebih dari 1 kelas adalah mendapatkan tambahan fasilitas nomor 2, 3 dan 4 selama:
1 bulan bagi pendaftaran 2 kelas
2 bulan bagi pendaftaran 3 kelas
3 bulan bagi pendaftaran 4 kelas

Khusus bagi peserta dari Hongkong mundur 2 minggu: pendaftaran sebelum 9 April mendapatkan tambahan diskon 10% dan kelas dimulai 6 Mei 2009.

Investasi ditransfer ke rekening:

BCA KCP Ahmad Yani Surabaya
429-041-5662
an. Ellen Ruth Pantouw SE

atau

Mandiri KCP Surabaya Diponegoro
142-00-0616454-4
an. Ellen Ruth Pantouw S.E.

Biaya kirim melalui pos ditanggung peserta. Biaya kirim di kota Surabaya, gratis. Daftarkan diri Anda segera melalui sms 08123112218, email: onebooklife@gmail.com, simak pengumumannya di Tabloid Gloria maupun di http://onebooklife.co.cc.

JIKA ANDA MENGIKUTI DAN MENGERJAKAN TUGAS-TUGAS, MAKSIMAL DALAM WAKTU 6 BULAN, SEMUA BIAYA INVESTASI YANG ANDA KELUARKAN DAPAT KEMBALI MELALUI BERKAT DARI PEMUATAN TULISAN DI MEDIA.


Prosedur Pendaftaran:

1. Kontak via sms atau email.
2. Isi formulir pendaftaran yang akan dikirimkan via email. Kirim kembali formulir pendaftaran ke email: onebooklife@gmail.com
3. Jika Anda berada di Surabaya, Anda bisa langsung transfer (nomor 5).
4. Jika Anda berada di luar Surabaya, jangan langsung mentransfer dulu. Kami akan melakukan pengecekan alamat dan kota ke kantor pos, supaya bisa tahu biaya kirim pos kilat khusus. Jika sudah tahu biayanya, kami akan mengkonfirmasikan ke Anda jumlah yang harus ditransfer (biaya investasi + biaya kirim).
5. Transfer ke Rekening BCA atau Mandiri. Tuliskan berita saat transfer: Nama dan Kota Anda.
6. Konfirmasikan via sms, jumlah berapa dan menggunakan rekening BCA atau Mandiri.
7. ‘de writer akan melakukan verifikasi pendaftaran.
8. Jika sudah verifikasi, Anda akan menerima sms verifikasi dari ‘de writer berupa nomor peserta.


Testimoni Peserta Angkatan I: Ev. Alfius Thomas, S.Th. - Timika, Papua

Tulisan Ev. Alfius Thomas, S.Th. berjudul “3 Rahasia Cinta Damai Yusuf” dimuat di Tabloid Gloria edisi 443 (terbit Minggu II Maret 2009).

Berikut testimoni Gembala Pemuda Gereja Kemah Injili Indonesia “Kasih Tuhan”, Timika, Papua:
"Saya secara pribadi sangat bersyukur karena dapat mengikuti kursus menulis ini. Selama ini saya ingin sekali menulis. Namun yang menjadi kendala, saya selalu berpikir kalau menulis, saya tidak bisa memakai kata-kata yang indah, ejaan yang tepat dan sebagainya. Setelah saya mengikuti kursus ini, barulah saya mengerti bagaimana menulis itu. Menulis bukanlah hal yang menakutkan seperti yang saya pikirkan selama ini. Melalui menulis, akhirnya saya mengerti kalau kita bisa menjadi berkat lebih banyak lagi untuk orang lain. Terlebih saya merasa sebagai hamba Tuhan yang hampir tiap minggu menyampaikan kebenaran Firman Tuhan. Khotbah yang saya sampaikan, tentunya untuk orang yang hadir pada saat itu. Namun bagaimana dengan generasi seterusnya? Saya akhirnya sadar! Hidup saya terbatas untuk menjadi berkat dan berkhotbah untuk orang. Dengan menulis, walaupun akhirnya nanti saya dipanggil Tuhan, namun khotbah saya dalam tulisan akan terus hidup dan memberkati orang lain. Terlebih saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Ellen Pantouw yang mau membimbing saya. Apa yang Ibu buat ini luar biasa. Tuhan yang adalah sumber berkat akan memberkati Ibu Ellen dalam tugas dan pelayanan.
Saya juga ucapkan terima kasih untuk Tabloid Gloria. Kalau bukan karena Tabloid Gloria, tentu saya juga tidak akan dapat menulis seperti sekarang. Dan terima kasih banyak karena telah memberkati saya selama ini dengan artikel, kesaksian, dan berita-berita yang luar biasa. Maju terus dalam Tuhan. GBU."

Tuesday, March 3, 2009

APA KABAR WARTA GEREJA? [Bagian 5]


BERANI MEMUAT BUKU SESAT DI WARTA?

Selain informasi pengumuman dari internal dan eksternal gereja, warta dapat diisi dengan rangkuman dan resensi buku terbaru.

Selama ini, rangkuman dan resensi buku terbaru hanya dari buku-buku dengan genre kristiani atau kita sering menyebutnya buku-buku rohani. Gagasan ini bagus sekali karena jemaat mengetahui buku rohani terbaru. Juga membantu jemaat dalam mengambil keputusan membeli buku atau tidak.

Apa bedanya rangkuman dan resensi buku? Kalau resensi, hanya memuat informasi buku secara sekilas seperti rubrik Resensi di Gloria. Resensi berisi tentang judul buku, pengarang, penerbit, tebal halaman, harga, target pembaca buku, sedikit isi buku serta kritikan terhadap buku. Kalau rangkuman buku ditambahkan dengan bagian dari buku yang berguna bagi jemaat.

Buku-buku yang bermanfaat bagi jemaat tidak hanya kategori buku rohani. Banyak buku umum yang bermanfaat bagi jemaat. Sangat sedikit gereja yang berani memuat informasi buku umum. Kebanyakan memiliki alasan tersendiri, seperti gereja adalah ladang rohani maka sepatutnya hanya buku-buku rohani yang dimuat di warta gereja. Atau alasan lain seperti buku-buku umum di referensi media cetak umum.

Menurut saya, jika ada buku umum yang bermanfaat bagi jemaat, tidak ada salahnya kita mereferensikan buku umum di warta gereja. Apa alasannya? Tidak semua buku umum benar-benar bermanfaat bagi jemaat. Ada buku yang justru menjauhkan iman terhadap Yesus Kristus. Kelihatannya bermanfaat tetapi menjauhkan kita dari Tuhan. Pemuatan buku umum di warta dapat menjadi acuan bagi jemaat bahwa buku tersebut dapat menumbuhkan pengetahuan dan imannya.

Bagaimana dengan buku umum yang meledak dan dibicarakan banyak orang tetapi menjauhkan iman? Menurut saya, tidak ada salahnya juga dimuat di warta gereja. Tentu saja dengan catatan, bagian mana dari isi buku yang menjauhkan iman. Kalau perlu, sandingkan ayat-ayat Alkitab yang mematahkan teori dalam buku tadi. Jemaat akan menjadi dewasa dan tahu mengapa buku tersebut dikategorikan menjauhkan iman atau orang sering menyebutnya ‘sesat’. Bagaimana kalau jemaat membeli buku tersebut? Justru itu baik karena dia penasaran dan ingin membuktikan sendiri. Anda tidak perlu kuatir sebab warta gereja Anda sudah memberikan pembekalan, bukan? Kita tidak dapat menghalangi seseorang untuk membeli buku jenis apapun. Tetapi sangat penting memberikan pembekalan pengetahuan kepada jemaat.

Jika warta gereja Anda terbuka dengan semua buku, Anda bisa bekerjasama dengan berbagai penerbit untuk mendapatkan buku terbaru. Penerbit tentu tidak keberatan, justru senang karena mendapatkan halaman untuk promosi. Keuntungan bagi gereja adalah tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli buku-buku baru. Buku-buku gratis dari penerbit tentu dapat dikoleksi perpustakaan gereja. Menarik kan?

Bersambung... (Ellen Pantouw)



Thursday, February 12, 2009

DIBUKA: BELAJAR MENULIS ROHANI!

Kini sudah dibuka! Kursus "Belajar Menulis Rohani" jarak jauh. Program diadakan selama 2 bulan, dimulai Senin, 16 Februari 2009. Anda boleh memilih pengiriman modul melalui email (e-book) atau pos. Jika melalui pos, untuk peserta luar Surabaya, biaya pengiriman ditanggung peserta. Bagi Anda yang berada di luar Indonesia, disarankan untuk melalui email.

Manfaat apa saja yang akan Anda dapatkan dengan mengikuti kursus ini:
1. Anda mendapatkan modul pelatihan menulis selama 8 kali (atau 2 bulan). Modul akan dikirimkan rutin setiap Senin ke rumah (khusus Surabaya). Bagi peserta luar Surabaya, modul juga dikirimkan setiap Senin.
2. Anda mendapatkan asistensi (bantuan) mengkoreksi tulisan selama jangka waktu pelatihan secara gratis. Saya akan membantu Anda memahami bagaimana sistem penulisan yang baik. Manfaatkan asistensi ini selama pelatihan.
3. BONUS # 1, saya akan memberitahu bagaimana cara mengirimkan tulisan ke media-media rohani. Saya akan berikan tips dan triknya serta alamat media rohani yang mau menerima tulisan Anda. Plus, sssttt... ada tips bagaimana menjadi koresponden Tabloid Gloria.
4. BONUS # 2, Anda mendapatkan Tabloid Gloria gratis selama 8 edisi (selama pelatihan).
5. Kursus ini bergaransi 100% uang kembali selama setahun. Anda tidak perlu ragu mengikuti program ini sebab bila Anda tidak mendapatkan berkat jasmani (uang) melalui menulis, saya akan mengembalikan investasi Anda 100%. Seperti sudah saya paparkan di Tabloid Gloria, Anda dapat menambah uang saku sekitar Rp 200 ribu per bulan melalui menulis. Katakanlah, tambahan uang saku Rp 200 ribu itu dapat Anda lakukan dengan tidak serius. Jika Anda serius, ya hitung sendiri nanti.

Investasinya program ini per bulan Rp 200.000. Jika membayar 2 bulan sekaligus, cukup berinvestasi Rp 360.000 (diskon Rp 40 ribu). Jika pembayaran dilakukan bulanan, tidak ada diskon. Berita gembiranya, khusus angkatan pertama mendapatkan harga spesial, yaitu Rp 320.090 untuk mengikuti program ini selama 2 bulan (tidak termasuk biaya pengiriman). Pendaftaran terakhir angkatan pertama pada Minggu, 15 Februari 2009 pukul 16.00 WIB. Cara pembayaran dan pendaftaran hubungi 08123112218. Pembaca setia Gloria, selamat belajar menulis!


APA KABAR WARTA GEREJA? [Bagian 4]

PILAH DAN SELEKSI INFORMASI

Kebanyakan warta gereja dijejali dengan informasi jadwal liturgi, pengumuman dan jadwal tugas pelayan Tuhan.

Pengumuman pengkhotbah mendatang, jadwal liturgi sepekan, jadwal tugas pelayan Tuhan masih sering mendominasi isi warta gereja. Apakah ini salah? Tidak ada yang salah dan benar dalam hal ini. Semuanya bergantung dari tujuan Anda membuat warta gereja.
Kalau tujuan Anda membuat warta adalah sebagai tempat pengumuman, ya no problem. Namun saya melihat bahwa warta gereja seharusnya memiliki kapasitas yang lebih besar dari sekedar tempat pengumuman. Kapasitas ini yang oleh banyak gereja belum dilihat dan dikembangkan secara maksimal. Diantaranya adalah pemberdayaan potensi jemaat yang belum tertampung di gereja.

Untuk mengembangkan warta gereja maka Anda perlu melakukan pemilaha
n informasi. Pemilahan informasi ini nantinya diharapkan dapat memberikan tambahan ruang untuk pengembangan warta. Secara sederhana, kita bisa membagi informasi menjadi dua bagian, informasi dari internal dan eksternal.

Informasi internal adalah informasi dari internal untuk internal. Misal, jadwal liturgi sepekan, daftar jemaat yang berulang tahun, mau menikah, baptisan, jemaat yang meninggal dunia, sekolah Alkitab bagi awam, jadwal tugas pelayan Tuhan. Informasi dari internal untuk internal memiliki tujuan agar antar jemaat mengetahui aktivitas yang sedang terjadi di dalam gereja dan memupuk kepedulian antar jemaat.

Informasi eksternal adalah informasi dari eksternal untuk internal gereja. Contoh, ada kegiatan seminar, KKR, doa bersama dan sebagainya. Untuk informasi dari eksternal, tidak perlu semua kegiatan di luar gereja dimuat di warta. Muatlah informasi kegiatan yang mendukung pertumbuhan rohani dan karakter jemaat.

Dari contoh di atas, ada informasi internal yang dapat disampaikan dalam bentuk lain. Artinya, tidak perlu dimuat di warta. Informasi jadwal tugas pelayan Tuhan dapat disampaikan kepada yang bersangkutan dalam bentuk surat atau ditempelkan di papan pengumuman gereja. Melalui cara ini maka ada halaman yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan warta.

Warta gereja memiliki halaman yang terbatas karena itu kita harus pintar untuk menyiasati menggunakan halaman demi halaman supaya dapat memberkati jemaat. Pilah dan seleksi informasi yang dapat ‘dikeluarkan’ dari warta jemaat. Ada informasi yang dapat Anda sebarkan dalam bentuk-bentuk lain.

Selamat memilah informasi!

Bersambung... (Ellen Pantouw)

Sunday, February 8, 2009

APA KABAR WARTA GEREJA? [Bagian-3]


KELOLA INFORMASI UNTUK WARTA

Warta gereja terbit 52 edisi dalam setahun. 52 edisi = 52 minggu. Warta gereja memiliki potensi yang besar jika gereja mau mengelolanya.

Minggu ini saya mendapat telepon dari Jakarta yang membaca tulisan saya di Gloria. Hamba Tuhan ini sempat berdiskusi sebentar melalui telepon perihal warta gereja. Intinya, dia juga prihatin dengan pengelolaan warta gereja yang terkesan asal-asalan. "Lebih baik uang tersebut digunakan untuk misi," ungkapnya menyatakan keprihatinan. Memang saya tahu belum banyak gereja yang menyadari potensi tersembunyi warta gereja. Warta gereja dianggap sekedar pengumuman belaka.

Saya juga menemukan ada gereja yang sudah menyadari dan berusaha memberikan ruang bagi jemaat untuk menuliskan ide-ide mereka. Mungkin Anda bertanya apakah ada jemaat yang mau menulis? Saya bisa menjawab dengan tegas, ada. Kalau potensi jemaat Anda digali, Anda akan menemukan lebih banyak lagi. Salah satunya ketika saya diundang dalam sebuah pertemuan beberapa jemaat gereja Masa Depan Cerah Surabaya, Senin lalu. Pertemuan rutin tersebut bertujuan untuk mengembangkan potensi diri mereka. Tahun ini mereka mendapatkan tugas untuk membuat sebuah tulisan. Saya didapuk sebagai pembicara untuk memaparkan bagaimana cara menulis dalam waktu 1,5 jam. Pada pelatihan singkat tersebut, ternyata bisa ditemukan bakat-bakat penulis dengan genre beragam. Luar biasanya, sang gembala pun turut hadir dan merespon hasil pelatihan. Pembaca yang terkasih, hanya dalam waktu 1,5 jam, saya membantu gereja untuk menemukan bakat-bakat terpendam jemaat. Hasilnya pun luar biasa. Itu dapat terjadi jika memang ada kemauan dari gereja sendiri untuk mengembangkan potensi jemaatnya.

Lalu bagaimana cara mengelola informasi untuk warta gereja? Satu hal yang pasti, jangan mengulang-ulang informasi yang sudah disampaikan dalam berbagai media tanpa ada perbedaan sudut pandang. Contohnya, kita sudah tahu bahwa di tahun 2009, krisis ekonomi akan semakin hebat melanda dunia. Informasi itu dengan mudah dapat ditemukan di koran, tabloid, majalah, radio, televisi bahkan internet. Jadi, Anda tidak perlu mengulang informasi tersebut apalagi mencuplik dari kanan-kiri, ditambah Anda membahasnya dari sudut pandang yang sama. Itu sangat membosankan sekali. Bayangkan, Anda menerima informasi yang sama berulang-ulang, pasti bosan.

Kalau Anda ingin membahasnya, bahaslah dari sudut pandang yang berbeda. Tidak perlu lagi memberitakan krisis ekonominya tetapi berikan solusi seperti motivasi yang menguatkan jemaat. Motivasi itu dapat berupa ayat-ayat Firman Tuhan dan tips nyata dari jemaat lain. Jika ada pebisnis, wirausaha, mintalah tips nyata dari mereka. Kita tidak akan pernah tahu bahwa sebuah tips sederhana dapat mengubah hidup seseorang. Saya pernah mendapatkan sms dari seorang pembaca buku saya yang ingin menjual imannya asalkan semua hutangnya dapat dilunasi. Ibu ini sangat putus asa dengan hutang yang melilitnya. Menghadapi ibu ini, kita tidak bisa hanya memberikan paparan-paparan ayat saja. Tapi perlu juga memberikan tips-tips bagaimana cara mengelola keuangan, menambah penghasilan dan sebagainya. Berikan tips-tips sesuai dengan cara pandang kita sebagai anak-anak Tuhan.

Bersambung... (Ellen Pantouw)






Wednesday, February 4, 2009

DIBUKA, BELAJAR MENULIS ROHANI!

Pembaca Tabloid Gloria, sedari rubrik ini ada, Anda sering membaca artikel: "SATU-SATUNYA DAN PERTAMA DI INDONESIA!!! Belajar Menulis Rohani Online, GARANSI 100% UANG KEMBALI". Juga ada e-book "Rahasia Kedahsyatan Pelayanan Menulis" karangan Ellen Pantouw diberikan secara gratis kepada pembaca setia Tabloid Gloria.

Banyak pembaca yang menelepon dan mengirimkan sms memberitakan bahwa mereka tidak sabar belajar menulis. Saya jelaskan bahwa perlu waktu. Sebagai bocoran, bekerjasama dengan Tabloid Gloria, kami sedang menggodok sebuah pelatihan tatap muka untuk media gereja di Surabaya dan sekitarnya.

"Kok lama, bu?" demikian tanya seorang pembaca kepada saya. Sebenarnya bukan masalah lama dan tidaknya, tetapi kami mementingkan kualitas pelatihan. Kami tidak mau pelatihan yang diadakan tidak membawa manfaat bagi para peserta.

Beberapa pembaca terus terang mengatakan bahwa mereka kurang akrab dengan internet. Awalnya saya mendesain kursus ini melalui internet untuk menekan biaya-biaya sehingga Anda dapat mengikuti dengan harga terjangkau. Tetapi melalui beberapa pertimbangan, akhirnya saya mendesain kursus menulis artikel rohani melalui media pos (modul-modul dikirimkan ke alamat Anda).


Harga Khusus Angkatan Pertama

Program ini diadakan selama 2 (dua bulan), dimulai Senin, 16 Februari 2009. Peserta di Surabaya mendapatkan modul setiap Senin. Bagi peserta luar Surabaya, modul akan dikirimkan melalui pos pada hari yang sama.

Apa saja yang akan Anda dapatkan? Pertama, Anda mendapatkan modul pelatihan menulis selama 8 kali (atau 2 bulan). Modul akan dikirimkan rutin setiap Senin ke rumah (khusus Surabaya). Bagi peserta luar Surabaya, modul juga dikirimkan setiap Senin.

Kedua, Anda mendapatkan asistensi (bantuan) mengkoreksi tulisan selama jangka waktu pelatihan secara gratis. Saya akan membantu Anda memahami bagaimana sistem penulisan yang baik. Manfaatkan asistensi ini selama pelatihan.

Ketiga (dan bonus pertama), saya akan memberitahu bagaimana cara mengirim tulisan ke media-media rohani. Saya akan berikan tips dan triknya serta alamat media rohani yang mau menerima tulisan Anda. Plus, sssttt... ada tips bagaimana menjadi koresponden Tabloid Gloria.

Keempat (dan bonus kedua), Anda akan mendapatkan Tabloid Gloria gratis selama 8 edisi (selama pelatihan).

Kelima dan yang luar biasa adalah saya akan tetap memberikan garansi 100% uang kembali selama setahun. Anda tidak perlu ragu mengikuti program ini sebab bila Anda tidak mendapatkan berkat jasmani (uang) melalui menulis, saya akan mengembalikan investasi Anda 100%. Seperti sudah saya paparkan di Tabloid Gloria, Anda dapat menambah uang saku sekitar Rp 200 ribu per bulan melalui menulis. Katakanlah, tambahan uang saku Rp 200 ribu itu dapat Anda lakukan dengan tidak serius. Jika Anda serius, ya hitung sendiri nanti.

Nah, berapa biaya investasinya? Biaya investasi per bulan Rp 200.000. Jika membayar 2 bulan sekaligus, cukup mengeluarkan investasi Rp 360.000 (diskon Rp 40 ribu). Jika pembayaran dilakukan bulanan, tidak ada diskon. Berita gembiranya, khusus angkatan pertama mendapatkan harga spesial, yaitu Rp 320.090 untuk mengikuti program ini selama 2 bulan. Luar Surabaya ditambahkan biaya pos. Pendaftaran terakhir angkatan pertama pada Minggu, 15 Februari 2009 pukul 16.00 WIB. Selamat belajar menulis!

Cara Pendaftaran dan Pembayaran:

Langkah Pertama:
DAFTAR bisa melalui sms ke 08123112218 atau kirim email ke onebooklife@gmail.com
Pesan yang harus Anda tuliskan di sms atau email adalah NAMA LENGKAP dan KOTA.

Langkah Kedua:
PEMBAYARAN ditransfer melalui bank:

BCA KCP Ahmad Yani Surabaya
4290415662
an. Ellen Pantouw

Bank Mandiri Cabang Diponegoro Surabaya
1420006164544
an. Ellen Pantouw

Pendaftaran Anda akan disetujui jika sudah melaksanakan pembayaran.

APA KABAR WARTA GEREJA? [Bagian-2]



Edisi lalu di Tabloid Gloria (438), saya telah memaparkan bahwa warta gereja yang tidak dikelola dengan baik berarti sama artinya dengan kita membuang uang jemaat. Apa pasalnya? Jika dihitung dalam satu tahun, jumlah dana yang harus dikeluarkan untuk mencetak warta gereja bernilai jutaan rupiah. Sayang sekali jika uang jutaan itu ternyata tidak menjadi berkat bagi jemaat.

Saya mengajak Anda merenungkan mengapa ada warta gereja yang dikliping jemaat dan ada yang tidak. Semua jemaat membutuhkan warta gereja! Tapi mengapa ada jemaat yang rajin mengkliping? Mengapa pula ada yang rajin membuang? Cobalah berpikir seperti jemaat! Apakah Anda sudah mendapatkan alasannya? Mari saya bantu menjawab keingintahuan Anda.


PERTAMA, KELOLA INFORMASI DENGAN BAIK


Abad 21 ini merupakan abad informasi. Sangat mudah mencari informasi, apalagi dengan teknologi internet. Luar biasa mudahnya! Komputer, jaringan internet, klik sana, klik sini, Anda bisa memperoleh informasi tanpa perlu beranjak dari tempat duduk Anda. Bahkan dalam hitungan detik, Anda akan memperoleh informasi.

Dari paparan paragraf di atas, saya berharap Anda memahami bahwa Anda perlu mengelola informasi dengan baik, sekalipun medianya hanya warta gereja. Seringkali kita meremehkan media warta gereja. "Ah, itu kan hanya warta gereja." Padahal, sesuai dengan ayat Firman Tuhan bahwa kalau kita setia mengerjakan perkara kecil maka Tuhan akan menambahkan perkara yang besar. Artinya, kalau kita bertanggung jawab dengan media kecil (warta gereja) maka Tuhan akan menambahkan perkara yang besar (media gereja yang lebih besar).

Biasanya, orang akan langsung berpikir begini, "Membuat media yang lebih besar kan perlu uang. Gereja kami kecil, tidak memiliki uang sebanyak itu." Saya mau beritahu kepada Anda bahwa meskipun gereja Anda memiliki uang, belum tentu bisa mengelola media gereja. Saya tidak bisa menyebutkan nama gereja dan yayasan yang memiliki kemampuan dana untuk menerbitkan media besar tetapi gagal di tengah perjalanan. Kalau saya menyebutkan tentu itu sangat tidak etis. Saya mau meyakinkan Anda bahwa uang bukan segalanya. Uang memang dibutuhkan untuk biaya operasional tetapi dengan pengalaman saya lebih dari 12 tahun menekuni dunia media, saya meyakini bahwa itu dibutuhkan lebih dari uang. Maksud saya, kita memerlukan kemampuan (skill), pengetahuan manajemen dan sebagainya. Jadi, jangan pernah meremehkan pengelolaan warta gereja Anda!

Lalu bagaimana cara mengelola informasi yang baik bagi warta gereja? Bersambung...

(Ellen Pantouw)


APA KABAR WARTA GEREJA? (1)



"Jika gereja tahu cara meledakkan potensi tersembunyi warta gereja maka gerejanya akan menjadi luar biasaaa!!!" (Ellen Pantouw)


Warta gereja, buletin gereja, apapun namanya, selalu Anda terima setiap hari Minggu. Terkadang ada gereja yang sudah membagikan kepada jemaat di hari Sabtu, tatkala ada kebaktian Sabtu. Berapa jumlah warta gereja yang diterima setiap orang dalam satu tahun? 52 warta gereja, atau saya lebih menyukainya dengan menyebut sebagai 52 edisi. Apakah Anda pernah membayangkan bahwa Tabloid Gloria juga diterbitkan 52 edisi dalam satu tahunnya? Sama kan?

Apa bedanya warta gereja dengan Tabloid Gloria? Tabloid Gloria selalu dicari para pembacanya bahkan Anda harus membayar untuk mendapatkannya. Seringkali Tabloid Gloria juga dibeli para pesaingnya bahkan beberapa rubrik dijiplak oleh pesaing. Luar biasa kan? Hal yang terpenting adalah Anda rela mengeluarkan sejumlah rupiah untuk membeli Tabloid Gloria. Nah, bagaimana dengan warta gereja? Jangankan membayar, dibagi gratis saja masih ada warta gereja yang dibuang ke tong sampah di gereja. Kondisi ini sungguh mengerikan.

Sayangnya, tidak banyak gembala jemaat, pengerja, pengurus gereja yang perhatian dengan keberadaan warta gereja. Boleh dikatakan, keberadaan warta gereja ibarat hidup segan, mati tak mau. Tak heran, jika kita menjumpai warta gereja yang dikerjakan asal-asalan. Tak heran pula, jika jemaat tega membuang warta gereja ke tong sampah gereja. Atau jika sungkan, dibuang di tong sampah di luar gedung gereja. Tetap ujung-ujungnya ke tong sampah.

Padahal untuk mencetak warta gereja dibutuhkan dana yang tidak sedikit setiap tahunnya. Dana tersebut asalnya juga dari persembahan jemaatnya. Jadi, membuang warta gereja = membuang uang Anda, para jemaat!

Mari, kita hitung berapa dana yang dikeluarkan gereja untuk mencetak warta setiap tahunnya. Kita ambil pengandaian dibutuhkan Rp 1.000 untuk mencetak satu warta gereja. Seribu rupiah merupakan biaya cetak yang sangat minimal. 52 minggu x Rp 1.000 x 200 jemaat = Rp 10.400.000 (Sepuluh juta empat ratus ribu rupiah). Wow... itu jika satu warta gereja dapat dicetak dengan harga seribu rupiah.

Nah, kalau warta gereja Anda dibuang oleh 50% jemaat, berarti uang yang terbuang di tong sampah adalah 52 minggu x Rp 1.000 x 100 jemaat = Rp 5.200.000 (lima juta dua ratus ribu rupiah). Hmmm... setiap tahun gereja Anda membuang uang sekitar Rp 5 juta. Wah, Anda harus bertanggungjawab ke Tuhan lho... karena Anda tidak dapat mengatur warta gereja dengan baik. Bayangkan, uang segitu dapat digunakan untuk pelebaran misi atau beasiswa sekolah daripada dibuang percuma ke tong sampah.

Sekarang, Anda mengerti maksud saya kan bahwa kita perlu mengatur warta gereja dengan baik. Hal yang kita temukan pertama jika kita tidak mengatur warta gereja adalah terbuangnya uang bernilai jutaan setiap tahunnya ke tong sampah. bersambung...

(Ellen Pantouw)