Lebih dari 13 tahun di dunia penulisan tidak membuatnya bosan. Pendiri ‘de writer learning’ ini memiliki keinginan kuat untuk melahirkan penulis-penulis dari kalangan gereja. Ia melihat potensi penulis di gereja yang masih terabaikan. Berikut profil dan paparannya kepada Tabloid Gloria (edisi 457, Mei 2009):
“Saya mengenal dunia tulisan saat SMA. Awalnya hanya karena iseng saja. Benar-benar iseng dan ingin tahu, tidak lebih dari itu. Saya membaca pengumuman di koran Surabaya Post, yang berisi ajakan untuk menjadi jurnalis remaja. Setelah menjalani, ternyata ini merupakan dunia baru yang menarik perhatian saya. Saya juga merasa enjoy sekali. Di Surabaya Post, ada klub reporter pelajar yang disingkat Kropel sebagai wadah belajar jurnalis remaja, SMP dan SMA.
Banyak manfaat yang saya dapatkan saat menjadi jurnalis remaja. Jaringan pertemanan bertambah luas, bisa wawancara dengan tokoh dan artis, yang mana tidak bisa dilakukan jika kita tidak menjadi jurnalis. Saya yang dulu memiliki sifat pemalu bisa berubah menjadi pemberani karena proses menjadi jurnalis. Bayangkan, dulu saya harus memberanikan diri dengan segenap hati untuk tugas wawancara. Wawancara itu harus dapat, jika tidak diperoleh, bisa diomelin redaktur. Omelannya tidak seberapa, malunya sama teman-teman yang tak terhitung, hahaha…
Manfaat lain, mendapatkan ilmu pengetahuan yang tidak didapatkan di sekolah dan sifatnya bukan text book. Manfaat ekonomis tentu ada, honor tulisan jika tulisan saya dimuat. Meskipun paling sedikit hanya mendapatkan lima ribu rupiah, senangnya luar biasa sebab itu berarti saya bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri. Belum lama berada di Surabaya Post, ada pemilihan menjadi ketua umum Kropel. Saya ikut melamar lowongan ketua umum.
Melalui mekanisme pemilihan suara terbanyak, saya yang terpilih menjadi ketua umum. Sebagai ketua umum, ternyata ada beberapa tugas tambahan seperti presentasi ke beberapa SMA. Saya tidak menjadikan itu sebagai beban atau harus berhitung secara keuangan. Saya justru senang karena mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar berbicara di depan umum. Kesempatan itu saya pergunakan sebaik-baiknya sehingga sejak mahasiswa saya bisa memberikan pelatihan jurnalistik dasar. Saya mengikuti semua proses menjadi ketua umum Kropel, seperti mengikuti rapat panitia tim marketing Surabaya Post. Bahkan ketika harus menemani tim MTV Jakarta untuk mendampingi mereka keliling promosi, saya jalani.
Bagi saya, meskipun tidak mendapatkan manfaat ekonomis, saya mendapatkan manfaat lain seperti pengetahuan, pengalaman, jejaring. Terkadang, manfaat-manfaat itu harganya jauh lebih mahal daripada uang honorarium kepanitiaan. Oh ya, berkat menulis, saya jadi dikenal oleh guru-guru dan kepala sekolah. Mungkin karena dianggap turut mempromosikan eksistensi sekolah. Saat berada di kampus pun juga begitu. Mulai dari dosen, rektor dan pembantu rektor mengenal saya padahal saya tidak ikut di lembaga kemahasiswaan. Jadi, menulis memiliki banyak manfaat.
MEDIA, MIMBAR BARUSaya sering ditanya orang, pelayanannya apa. Saya jawab, menulis. Lho itu kan pekerjaan, begitu jawabnya. Saya jadi mahfum bahwa pelayanan menulis belum dikategorikan sebagai sebuah pelayanan di gereja. Musik, bernyanyi, berdoa sudah ‘disahkan’ sebagai pelayanan. Itulah tantangannya. Satu hal yang belum disadari gereja ialah menulis merupakan mimbar pemberitaan kasih kepada masyarakat luas.
Media cetak dan elektronik merupakan mimbar baru. Contoh, reality show di televisi “Bedah Rumah” digagas oleh anak Tuhan. Berkat tayangan tersebut, banyak masyarakat mulai memperhatikan tetangganya yang miskin dan gotong royong memperbaiki rumah. Nilai-nilai kristiani dapat dibagikan secara luas kepada masyarakat kita melalui media.
Apalagi saat ini, media jejaring sosial di internet mulai facebook, blog, friendster, milis, dan lain-lain mulai berkembang pesat. Media tersebut digunakan mulai hanya sekedar memperbanyak teman maupun ke bisnis. Pertanyaan saya, apakah gereja sudah menyadari perkembangan media saat ini dan memanfaatkannya untuk memuliakan nama Tuhan?Semua pelayanan media membutuhkan satu unsur yaitu menulis. Film layar lebar pun membutuhkan naskah, apalagi di media cetak. Pelayanan bidang ini sangat penting supaya kita dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat, seperti Yesus yang sudah memberikan pencerahan kepada kita melalui Alkitab.
Ketika buku saya yang berjudul “230+ Sumber Pinjaman Untuk Usaha Anda” diterbitkan, banyak respon positif dari pembaca melalui sms, email dari pembaca di berbagai kota di Indonesia. Mulai Aceh, Surabaya, Jakarta, Kediri, Ambon, Jayapura dan sebagainya. Selain berkonsultasi, mereka berterimakasih karena buku saya ini membantu usaha mereka. Buku saya bisa menjadi berkat bagi banyak orang yang belum saya kenal melintasi pulau, generasi dan agama.
WARISAN KEHIDUPANLebih dari 13 tahun saya menekuni dunia penulisan, dan saya tidak memiliki keinginan untuk meninggalkannya. Melalui tulisan, saya bisa mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada orang-orang yang belum saya kenal. Harapan saya, ketika Tuhan sudah menjemput, generasi selanjutnya tetap mendapatkan berkat dari buku-buku yang saya tulis.Saya sudah berhasil memberikan inspirasi kepada ibu Lanny Chandra untuk mewariskan resep-resep masakannya melalui sebuah buku yang ditulis bersama saya. Buku itu, tanpa disangka, telah melewati cetak ulang dua kali.
Melalui lembaga ‘de writer learning’, saya berupaya mencari mereka yang ingin belajar menulis. Saya melatih bagaimana cara menulis sesuai dengan pengalaman saya. Saya juga menyediakan waktu supaya para peserta bisa konsultasi langsung. Menulis itu sebuah seni dan keterampilan. Keterampilan harus dipraktekkan, tidak bisa dihafal saja. Semakin banyak berlatih akan semakin ahli. ‘de writer learning’ juga berupaya membuka jejaring kerjasama dengan media cetak rohani sebagai permulaan.
Rencana ke depan, akan membuka kerjasama dengan media-media umum. Saya menyadari bahwa penulis membutuhkan tempat untuk berekspresi. Melalui kerjasama tersebut, ada komunikasi antara penulis dan pihak media sehingga penulis bisa mengetahui kebutuhan media. Tidak cuman itu saja, penulis juga bisa memahami etika dan teknik menulis yang, maaf, sering diabaikan dengan memanfaatkan kata ‘pelayanan’.
Saya tidak akan pernah berhenti untuk melatih orang yang mau serius belajar menulis. Saat pelayanan di Nabire, saya sempat memberikan pelatihan menulis dasar di SMP Kristen “Anak Panah”. Ketika saya kembali lagi ke sana, saya diberitahu bahwa seorang anak SMP yang dulu ikut training, sekarang menjadi penulis. Ia suka menulis di koran setempat bahkan tulisannya dikoleksi gubernur Papua. Mendengar itu, saya senang, setidaknya saya dulu pernah ikut menanamkan benih menulis kepada Oktovianus Pogau, nama anak tadi.
Jadi, berapapun jumlah orang yang berhasil menjadi penulis, tidak jadi masalah. Saya akan terus menanamkan benih dan membajak. Mungkin tahun ini, dia belum berhasil. Mungkin 10 tahun lagi, dia baru berhasil menjadi penulis. Saya tidak pernah tahu karena segala sesuatu di dunia ini butuh proses. Saya hanya ingin mengerjakan bagian saya semasa masih hidup dan meninggalkan warisan kehidupan melalui tulisan.”
************************************************************************************
Buku yang sudah dibesut:Tahun 2008:1. “Variasi Masakan Mi”, Penerbit Gradienmediatama, Yogyakarta. Penulis utama: Lanny Chandra. Co-writer & Fotografer: Ellen Pantouw. (cetak ulang 2x)
2. “230+ Sumber Pinjaman Untuk Usaha Anda (Bonus CD), Penerbit Gradienmediatama, Yogyakarta. Penulis utama: Ellen Pantouw. (cetak ulang 2x)
Tahun 2006:1. “Jerimia Rim: The Story of an Eagle that Changed a Generation”, Penerbit Kairos, Yogyakarta. Penulis utama: Meliani B. Rim. Co-writer: Ellen Pantouw.
2. Editor “Curing the Incurable” by Jack Coe, Penerbit: Majesty Books, Surabaya.
3. Editor “Mighty Manifestations” by Reinhard Bonnke. Penerbit: Majesty Books, Surabaya. 4. Editor “Betapa Dahsyat Kuasa Darah-Nya” Oleh D.A.R.E. Pello. Penerbit: Genesis One, Surabaya.
5. Editor “Calon Penghuni Neraka” oleh D.A.R.E. Pello. Penerbit: Genesis One, Surabaya.
Tahun 2004:“Pdt. Peter Tjondro: 20 Tahun dalam Panggilan-Nya”, Penerbit: VisionCARE – MissionCARE, Jakarta. Penulis utama: Ellen Pantouw.
Tahun 1998:Fotografer Foto Cover Buku “65 Tahun Prof. DR. J.E. Sahetapy, S.H., M.A.: Jangan Menjual Kebenaran”. Penerbit: ICCF - Forum Komunikasi Kristiani Indonesia, Surabaya.
Organisasi:1995-1996, Ketua Umum Klub Reporter Pelajar (Kropel), Harian Sore Surabaya Post
2008 – sekarang, Pendiri ‘de writer learning, lembaga pembelajaran penulisan artikel, opini, buku dan jurnalistik
Pekerjaan:1. Kontributor renungan Remaja dan Pemuda “Rajawali” (1996)
2. Jurnalis dan Fotografer Majalah “Penabur Kesatuan” diterbitkan FKKI Surabaya (1997-1998)3. Part timer di Humas UK Petra, bidang Penerbitan dan Dokumentasi: buletin dwimingguan universitas (1998-2000)
4. Jurnalis Tabloid Rohani Gloria (2000-2003)
5. Humas UK Petra, bidang Penerbitan dan Dokumentasi (2002-2005)
6. Dosen luar biasa mata kuliah Komunikasi Bisnis, Jurusan Manajemen, Universitas Kristen Petra (2004-2005)
7. Penulis buku, konsultan media (2004 – sekarang)
8. Kolumnis Tabloid Gloria (2008 – sekarang), Kontributor Tabloid Alternative – Jawa Pos Group (April 2009 – sekarang), Kontributor Majalah Bahana (2008 – sekarang)
9. Kontributor dan editor Renungan “Kemenangan” terbitan Global Satellite Network, Morris Cerrulo Ministry (2008)
10. Mentor program “Belajar Menulis Rohani” jarak jauh (angkatan ketiga, Juni 2009) yang diadakan ‘de writer learning. Program ini telah diikuti para peserta dari Surabaya, Jakarta, Jepara, Semarang, Palu, Kupang, Timika, Sorong dan Hongkong.
Pengalaman training:1. Pernah memberikan training kepenulisan bagi siswa SMA, gereja dan umum di Surabaya, Malang, Denpasar, Makassar, Manado, Balikpapan, Banjarmasin, Kupang, Nabire-Papua, Jayapura (2000 – sekarang)
2. Trainer penulis dari tim Bamag kabupaten Sidoarjo bagi siswa di 4 Madrasah Ibtidaiyah dan SD Muhammadiyah di Porong sebagai bagian konseling pemulihan anak-anak korban lumpur yang diadakan Yayasan Tanggul Bencana Indonesia, Working Group Lumpur Panas Sidoarjo, ACT International, dan Badan Musywarah Antar Gereja Kabupaten Sidoarjo (Februari 2009 – sekarang)